Strategi Pengembangan Potensi melalui Teori Psikologi Humanistik dalam Pembelajaran Fiqih

Modernis.co, Malang – Pada dasarnya pendidikan merupakan upaya mengarahkan anak didik dalam proses belajar sehingga menjadi yang terbaik sesuai dengan potensi masing-masing anak. Dengan demikian pendidikan hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Peserta didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan tersendiri  yang tidak sama dengan orang lain.

Namun, nampaknya fenomena di lembaga pendidikan kebanyakan tidak selaras dengan nilai-nilai Tujuan Pendidikan Nasional. Dikarenakan, lebih mengutamakan nilai akademis ketimbang mengembangkan potensi peserta didik.

Merujuk pada Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab II pasal 3 yang berbunyi ” Tujuan Pendidikan Nasional ialah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrtis serta bertanggungjawab.

baca juga: 5 Fakta Menarik Suku Gayo

Di sisi lain, proses pembelajaran seringkali yang terjadi guru hanya menyampaikan materi tanpa menanamkan nilai guna menumbuhkan potensi peserta didik. Guru dalam interaksi pembelajaran terkesan menjadi pusat utama sedangkan peserta didik sebagai pendengar dan penerima segala hal yang disampaikan. Sehingga menjadi tidak relevan jika dikaitkan dengan kurikulum terbaru yang mengharuskan murid berperan aktif dan adanya timbal balik atau interaksi.

Konsep humanistik mengajarkan manusia memiliki rasa kemanusiaan yang mendalam, menghilangkan sifat-sifat egoistis, otoriter dan individualitis. Pendidikan humanistik, memandang manusia sebagai mahluk hidup ciptaan Allah dengan fitrah tertentu untuk dikembangkan secara maksimal dan optimal.

Guru dalam pembelajaran humanistik sebagai fasilator bagi para siswa, sedangkan murid sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Selain itu, para pendidik juga harus menggunakan strategi yang tepat dalam mengembangkan dan menyalurkan potensi peserta didik. Oleh karena itu, berkaitan dengan mata pelajaran fiqih pendidik harus memahamkan materi tanpa adanya paksaan dan tekanan.

baca juga: 5 Fakta Menarik Munarman yang Ditangkap Densus 88

Pengertian Pembelajaran Fiqih

Gagne dan Bringgs pembelajaran sebagai suatu rangkaian kejadian yang sengaja dirancangkan agar mempengaruhi peserta didik sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan mudah. Sedangkan fiqih secara bahasa berarti pemahaman  mendalam yang membutuhkan pengerahan potensi akal. Menurut Samsul Munir Amin fiqih merupakan ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara‟ (ilmu yang menerangkan segala hukum syara‟) yang berhubungan dengan amaliah yang diusahakan memperolehnya dari dalil-dalil yang jelas.

Dari pengertian di atas maka, pembelajaran Fiqih adalah jalan yang dilakukan secara sadar, terarah dan terancang mengenai hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf baik bersifat ibadah maupun muamalah yang bertujuan agar anak didik mengetahui, memahami serta melaksanakan ibadah sehari-hari.

Dalam pembelajaran Fiqih, tidak hanya terjadi proses interaksi antara guru dan anak didik di dalam kelas pembelajaran dilakukan juga dengan berbagai interaksi, baik di lingkungan kelas maupun musholla sebagai tempat praktek-praktek yang menyangkut ibadah, VCD, film, atau lainnya yang mendukung dalam pembelajaran Fiqih bisa dijadikan dalam proses pembelajaran itu sendiri.

baca juga: Lima Fakta tentang Korupsi Bansos Covid-19

Teori Psikologi Humanistik

Dalam dunia pendidikan banyak dikenal beberapa teori pendidikan. Salah satunya teori humanistik yang fokus pembahasanya menitikberatkan kepada perilaku seseorang manusia. Pada hakikatnya teori ini berkembang dari aliran psikologi kemudian berpengaruh terhadap arah pengembangan teori, praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran humanistik.

Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950-an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis.  Secara etimologis humanistik berarti  aliran tentang manusia “manusiaisme”. Dalam arti luas humanistik adalah suatu konsep tentang manusia sebagai pusat eksistensi.

Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Humanisme dalam Islam sudah terumuskan dalam konsep khalifatullah dalam Islam terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 30-32 dengan substansi sebagai berikut :

(1) manusia adalah pilihan Tuhan

(2) manusia dengan segala kelebihannya dimaksudkan sebagai wakil Tuhan di atas bumi

(3) manusia adalah pribadi yang bebas yang menanggung segala risiko atas perbuatannya.

baca juga: Lima Hal Unik tentang Front Pembela Islam (FPI)

Strategi Pengembangan Potensi Pembelajaran Fiqih

Istilah strategi berasal dari Bahasa Yunani “strategos” yang berarti keseluruhan usaha termasuk perencanaan dan taktik perang. Dalam pengajaran, strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. Artinya usaha guru dalam menggunakan metode pengajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang dinilai lebih efektif dan efesien.

Terkait dengan konsep di atas, sistem pengajaran di lembaga pendidikan termasuk lembaga pendidikan Islam yang bermasalah, paling tidak ditandai oleh beberapa hal berikut:

(1) pengajaran materi secara umum termasuk pengajaran agama belum mampu melahirkan kreativitas. Akar masalah di sini terletak pada satu kenyataan bahwa bahan pengajaran di kurikulum kita terlalu overload.

(2) morality atau akhlak di sekolah umum masih menjadi masalah utama.

(3) punishment atau hukuman dalam berbagai bentuk lebih tampak dari reward atau penghargaan.

Teori humanistik dalam pembelajaran guru dengan menggunakan strategi atau metode seperti metode ceramah, diskusi, resitasi, eksperimen, demonstrasi, karya wisata, tanya jawab, dan discovery. Dimana berbagai metode tersebut mengarahkan peserta didik untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta terlibat aktif dalam proses belajar.

Pendidik dapat menerapkan metode tersebut melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok dan memberikan kesempatan bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.

Dapat disimpulkan pada pembelajaran fiqih yang menggunakan teori psikologi humanistik sudah sangat tepat dan cocok. Dikarenakan teori ini bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis fenomena sosial. Diharapkan peserta didik memiliki inisiatif dalam belajar, terjadi perubahan pola pikir, perilaku, dan sikap atas kemauan sendiri, merasa senang dan bergairah dalam pembelajaran.

Oleh: Ayu Al Adawiyah Rohmatun (Mahasiswa FAI Universitas Muhammadiyah Malang)

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment