Soal Covid-19, Media Mengedukasi atau Menakuti?

Modernis.co, Malang – Di era yang semakin maju dan modern ini, memudahkan masyarakat untuk mendapatkan sebuah informasi secara cepat dan luas. Hanya beberapa detik saja kita bisa mendapatkan sebuah berita atau bahkan berita dapat menyebar dengan cepat di media. 

Dengan mudahnya akses internet ini, banyak dampak yang ditimbulkan meskipun kemudahan yang dirasakan sangat terasa.

Namun, tidak menutup kemungkinan media membuat perilaku masyarakat berubah atau bahkan membuat ancaman tersendiri bagi masyarakat. Seperti halnya beberapa bulan ini.  

Dunia sedang dilanda oleh pandemi virus corona (Covid-19)  yang meresahkan banyak pihak dan menyebabkan kepanikan di kalangan masyarakat. Kemunculan virus ini awalnya mulai terdeteksi pertama kali di negara China pada awal desember 2019 lalu.

Dilansir dari The Guardian, Sabtu (⅖) 2 laboratorium di Wuhan meneliti kelelawar sebagai sumber virus corona (Covid-19). Bahkan virus ini sangat mudah menyebar melalui udara.

Hingga virus ini merembet berkembang ke berbagai negara-negara tetangga salahsatunya negara Indonesia. Berita  tersebut langsung disorot oleh beberapa media nasional dan menjadi trending topic saat itu. 

Apalagi  sejak Presiden Indonesia, Joko Widodo, mengumumkan terdapat dua kasus pertama virus corona (Covid-19) di Indonesia. Secara resmi Indonesia sedang ‘panik’ corona.

Sebagian masyarakat Indonesia panik saling berlomba-lomba melindungi diri dengan berbagai cara. Salah satunya yang  dulu sempat viral adanya penimbunan banyak masker di beberapa daerah di Indonesia.

Sehingga menyebabkan melonjaknya harga masker di pasaran dan fenomena panic buying pun terjadi. Masyarakat membeli barang-barang tertentu dengan jumlah yang besar. Sehingga saat itu membuat banyak media yang meliput dan membuat keadaan semakin panik.

Media sangat gencar memberitakan kasus tersebut sehingga memancing masyarakat lainnya untuk melakukan hal yang sama. Bukan hanya dari masyarakatnya yang membuat panic buying semakin parah. Akan tetapi, peran media di sini juga terlalu melebih lebihkan berita yang dimuatnya.

Seperti contoh  pemberitan media di salah satu stasiun televisi, wartawannya yang sedang menyiarkan berita dengan menggunakan atribut yang berlebihan. Dengan begitu secara tidak sadar mereka telah menakut-nakuti masyarakat yang sedang menonton tayangan tersebut.

Media yang memang menjadi alat penyebaran informasi tentang virus corona (Covid-19) kepada masyarakat. Akan tetapi berita yang simpang siur dan melebih lebihkan ini membuat masyarakat menjadi cemas dan khawatir menghadapi wabah virus Covid-19.

Apalagi disituasi seperti ini masyarakat sangat membutuhkan informasi yang valid untuk mengetahui perkembangan Covid-19 di Indonesia. Bahkan ditengah kepanikan ini banyak informasi hoax yang beredar begitu cepat di media elektronik maupun media sosial. 

Dengan pemberitaan media yang secara berlebihan ini dapat memberikan kecemasan bagi masyarakat sehingga membuat imunitas menurun.

Padahal  imunitas ini sangat penting untuk daya tahan tubuh dari segala penyakit. Sebaiknya media jangan terlalu gencar memberitakan tentang corona yang mempu membuat masyarakat semakin panik. Seperti pemberitaan di media sosial yang banyak memberitakan hoax.

Media dapat memberikan informasi  tentang  banyaknya yang telah sembuh dari virus corona. Mulai dari cara pencegahan virus corona, atau hiburan yang dapat menurunkan tingkat kepanikan di masyarakat.  Akan tetapi, peran media yang paling penting  di sini untuk mengedukasi masyarakat. Agar  tetap menaati peraturan yang telah di tetapkan Pemerintah. 

Serta memberitahu masyarakat bahwa wabah virus ini bukan untuk ditakuti, tapi harus di lawan. Dengan banyaknya hal positif yang diberitakan oleh media akan mampu menenangkan masyarakat. Secara perlahan imun mereka akan lebih kuat dan tentunya akan meminimalisir kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Oleh : Nayu Aprilia Saputri (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment