Sesudah Kesulitan, Ada Kemudahan

Modernis.co, Lamongan – “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap,” (QS. al-Insyirah: 5-8).

“Addunya mazra-atul akhirah”, dunia adalah sawah dan ladangnya akhirat. Manusia diharuskan berusaha sekuat tenaga selama hidupnya di dunia, untuk kemudian menuai hasilnya di akhirat kelak. Walaupun kehidupan akhirat menjadi tujuan akhir, manusia tidak boleh mengesampingkan bagiannya di dunia. Karena dunia menjadi tempat untuk berusaha dan bekerja bagi manusia, yang hasilnya akan menjadi tolak ukur kesuksesan manusia dalam menuai hasil kelak di akhirat.

Bagaimana manusia hendak menuai hasil yang maksimal, jika sawah atau ladangnya tidak diperhatikan? Oleh karena itu, dunia juga harus diperhatikan oleh manusia layaknya seorang petani memperhatikan sawahnya. Jika sawah harus diolah dengan baik, maka demikian juga dengan dunia, juga harus diolah (dijalani) dengan baik.

Dalam menjalani kehidupan di dunia, setiap manusia pasti mengalami masa sulit dan senang, sedih juga bahagia, situasi seperti ini akan datang terus silih berganti dalam kehidupan kita. Akan tetapi, hal yang dikhawatirkan adalah apabila kita banyak menemui kesulitan dan hambatan yang memungkinkan seseorang berputus asa dalam menjalani kehidupannya.

Seringkali, kita berputus asa manakala dihadirkan dalam cerita hidup kita sebuah kesulitan atau ujian. Berputus asa haruslah dihindari, karena hal ini dibenci Allah. Dalam sebuah ayat yang menceritakan kisah Nabi Yusuf as.

Untuk itu, manusia harus pandai menguasai diri agar tidak terjebak dalam keputus asaan. Optimisme harus ditumbuhkembangkan dalam diri setiap muslim. Hal ini merujuk pada firman Allah, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemuduhan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Harus ditumbuhkan keyakinan bahwa setelah kesulitan menghadang, kemudahan akan datang membawa pencapaian hasil akhir yang baik.

Dalam lanjutan ayat tersebut Allah juga memberi tips (petunjuk) kepada hamba-Nya untuk bekerja dan berusaha dengan tekun dan giat. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Hal ini akan melatih  diri untuk giat dalam bekerja. Dan juga untuk mempersempit ruang gerak syaitan yang selalu membuntuti manusia dan tanpa lelah menggoda untuk menuruti keinginanya. Jarak waktu yang lebar (lama) dikhawatirkan akan digunakan syaitan untuk melemparkan manusia ke dalam jurang kemalasan yang berujung pada kegagalan. Naudzu billah min dzalik.

Selain bekerja dengan giat, manusia juga harus menyandarkan harapannya hanya kepada Allah semata, “dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” Karena hanya dia yang pantas untuk dijadikan sandaran harapan, karena hanya dia, dzat yang berusaha atas segala sesuatu.

Bukan hanya menghidarkan diri dari sikap keputus-asaan, sebagai manusia yang langkahnya beriringan dengan masalah, ujian, cobaan, dan kesulitan, kita harus menghidari diri untuk tidak menyalahkan takdir dan mengeluh atas keadaan.

Selain bersikap optimis, sebagai seorang manusia kita juga harus memperluas dan memperdalam ruang sabar. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari, kita akan banyak menjumpai manusia yang ingin menghindari dirinya dari kesulitan, padahal kesulitan yang menghampiri kita bisa jadi adalah bentuk ujian.

Menghindari atau menghadapi tentu itu menjadi pilihan setiap manusia, namun memilih untuk menghidar atau tetap optimis menghadapi, ujian tetaplah ujian yang harus dijalani, sebab kita tidak pernah mengetahui seberapa dekatnya jalan kemudahan untuk kita.

Setiap orang memang akan berbeda dalam menyikapai berbagai kesulitan yang dihadapi dan kita adalah tulang punggung dari kehidupan kita masing-masing. Jika kesulitan terus saja dihidari, niscaya kemudahan akan menjauh. Pun kita tidak bisa berharap kepada orang lain untuk mengatasi kesulitan yang kita alami, sebab kita sebagai manusia juga harus senantiasa berjuang dan bertahan untuk mencapai kemenangan.

Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam QS. Al-Baqarah: 286, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Seharusnya kita percaya pada apa yang difirmankan oleh Allah, bahwa seberapapun kita diberi kesulitan, itu semua akan sepaket dengan kesanggupan kita dalam menyelesaikan, tergantung bagaimana koneksi kita kepada Allah.

Kita harus memahami, bahwa jika laki-laki sepaket dengan perempuan, malam sepaket dengan siang, ada matahari juga bulan, maka kesulitan akan juga sepaket dengan kemudahan. Akan ada banyak dinamika hidup yang sering kita lalui dan mau tidak mau harus tetap kita jalani.

Dan kita juga harus memperluas sudut pandang bahwa siapapun dia, apapun jabatannya, kesulitan akan tetap menghampiri, sebab Allah akan menguji setiap hamba-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti sebuah sunatullah, bahwa setelah lapar ada kenyang dan setiap kegelapan akan ada cahaya yang terang, maka kita harus percaya dan yakin bahwa setiap kesulitan ada kemudahan.

Jika kita analalogikan, ketika kita masih kecil dan duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar, mungkin pertanyaan dikertas ujian semisal 7+4 akan sedikit sulit kita kerjakan, padahal bagi kita yang sudah duduk di bangku kuliah tentu untuk mengerjakan soal seperti itu tanpa harus berpikir panjang. Dari sini kita bisa menarik hikmah, yaitu ujian memang sesuai kadar kita.

Ujian dan kesulitan itu hadir untuk membuat kita naik level dan naik kualitas. Oleh karena itu, sebagai hamba-Nya, kita harus senantiasa optimis serta tidak mudah putus asa, harus giat serta dibarengi dengan sikap sabar serta syukur.

Kita harus mengupayakan semaksimal mungkin untuk mengurai kesulitan-kesulitan yang menimpa, selain itu kita harus menghadapi dengan ketenangan serta keyakinan sebagaimana Nabi Musa saat terhimpit oleh laut Merah dan pasukan Fir’aun, disaat terdesak, dengan tenang dan yakin pada akhirnya pertolongan Allah hadir. Sebagai manusia, ranah kita adalah ikhtiar mencari solusi.

Percayalah, keadaan pasti akan berubah dan badai akan berlalu. Maka, hal yang perlu kita lakukan dalam mengatasi segala kesulitan hidup di dunia adalah dengan tetap berprasangka baik kepada Allah dan takdir-Nya, semangat beriktiar dan tetap tawakal, selain itu juga tetap menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong, dan senantiasa ber-doa agar kita menjadi hamba yang kuat dalam menopang skenario yang sudah digariskan untuk kita.

Karena, yang sama-sama perlu kita pancangkan dengan kuat adalah keyakinan kita terhadap janji-janji Allah, bahwa apa yang sudah Allah janjikan untuk hamba-Nya pastilah sudah mutlak kebenarannya. Semoga, kita senantiasa menjadi hamba yang terus mengobarkan semangat dan tidak banyak mengeluh, serta menjadi hamba yang senantiasa menyediakan ruang kesyukuran ditengah kesukaran.

Agar kita tidak termasuk ke dalam hamba yang kufur. Yakinlah bahwa ketika tidak ada lagi pundak yang bersedia dijadikan tempat sandaran, masih ada sajadah yang mampu menampung kesedihan kita dengan sujud-sujud yang tenang.

Oleh : Fathan Faris Saputro dan Renci (Pegiat Rumah Baca Api Literasi dan Kader IMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment