Self Editing

penulis produktif imm

Modernis.co, Jambi – Di dalam dunia tulis menulis, pengeditan punya peran cukup penting. Karena dalam proses ini dilakukan pembetulan dan perbaikan atas kesalahan-kesalahan naskah kita. Baik dari segi tata bahasa maupun isi. 

Beruntung mereka yang memiliki editor yang bisa memeriksa tulisan sebelum di publikasikan. Tapi, bagi seorang penulis yang tidak memiliki editor, mengedit sendiri adalah pilihan yang dengan sangat terpaksa harus ditempuh.

Namun, ada sisi baiknya. Dengan mengedit sendiri, selain tidak bergantung pada orang lain, kita juga dituntut untuk bertanggung jawab penuh terhadap naskah kita sendiri. Bahkan sampai ke setiap huruf. Apakah itu dalam naskah berupa naskah pendek seperti artikel, atau naskah panjang seperti buku.

Bahkan, untuk menawarkan sebuah naskah ke penerbit yang sudah tersedia editor di sana, mengedit secara mandiri terlebih dahulu akan meningkatkan kualitas naskah kita. Sehingga, peluang untuk lolos lebih tinggi.

Pada kesempatan kali ini, kita akan mendiskusikan beberapa hal yang kiranya penting untuk dilakukan. Terutama dalam mengedit naskah secara mandiri terhadap naskah yang akan dipublikasikan.

Pengeditan naskah ada dua wilayah. Yaitu editing dalam hal tata bahasa dan editing dalam hal isi. Pertama, editing tata bahasa. Ada beberapa level. Yaitu level kata, kalimat, paragraf, dan sistematika.

Pada level kata, jelas kesalahan dalam pengetikan harus diminimalisir. Ingat, dalam naskah sepanjang 1.000 kata saja, orang akan lebih banyak berkomentar terhadap satu atau dua kata yang salah ketik, dan tidak berkomentar terhadap 998 kata yang pengetikannya sudah benar. Walau mungkin, komentarnya hanya dalam pikiran.

Karena itu, sebisa mungkin memperkecil kesalahan dalam pengetikan kata. Termasuk juga soal penggunaan imbuhan. Apakah itu awalan, akhiran, dan seterusnya.

Kemudian, tanda baca juga menjadi salah satu objek pengeditan bahasa. Harus dipastikan, penggunaan tanda baca sudah tepat. Apakah itu titik, koma, tanda tanya, tanda seru, tanda kurung, dan seterusnya.

Begitu juga soal penggunaan huruf kapital, cetak miring, cetak tebal, penulisan dialog, penulisan bahasa asing, dan seterusnya. Harus disesuaikan dengan ketentuan. Karena itu, tidak ada salahnya mengikuti Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Penggunaan kata juga perlu diperhatikan. Apakah sudah tepat atau belum. Karena itu, akan sangat baik jika merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Untuk menghindari kesalahan penulisan kata, kita bisa mengaktifkan fitur pengecekan ejaan kata (spell check) pada perangkat lunak yang kita gunakan untuk menulis. Ini cukup membantu dalam memeriksa kesalahan penulisan kata. Namun, memang tidak semua kesalahan terdeteksi.

Kemudian, penting juga untuk menghindari spasi ganda antar kata. Ini membuat naskah tidak sempurna. Untuk menghindari spasi ganda, kita bisa menggunakan fitur replace all. Dengan fitur itu, kita bisa ganti semua spasi ganda dengan spasi tunggal. Baik spell check maupun perlace all, keduanya biasa saya gunakan dalam proses self editing. Cukup membantu.

Kemudian pada level kalimat. Memang pada umumnya sebuah kalimat harus memiliki subjek, predikat, objek, dan keterangan. Itu susunan lengkap. Namun, menurut saya, pada kasus tertentu, bisa melenceng dari itu. Selama masih bisa dipahami. Dan tentu, untuk pertimbangan nilai sastrawi.

Kemudian, jangan lupa untuk menggunakan kalimat efektif dan mudah dimengerti. Hindari kalimat yang tidak efektif. Ingat. Susunan kalimat penting untuk diperhatikan. Karena paragraf adalah susunan dari kalimat-kalimat itu.

Selain itu, pastikan antar kalimat bersambung. Ini untuk membuat paragraf yang mengalir. Selain itu, juga untuk menghindari patahan antar kalimat dalam paragraf.

Pada level paragraf, pastikan satu paragraf hanya memuat satu ide pokok. Adapun selebihnya adalah kalimat penjelas dan pelengkap saja. Ini untuk menghindari agar pembaca tidak bingung. Dan mudah memahami narasi. Kita bisa gunakan struktur paragraf induktif atau deduktif. Ini pilihan saja.

Kemudian, pastikan satu paragraf dengan paragraf setelahnya dan sesudahnya bersambung. Ini berfungsi untuk menghindari patahan antar paragraf. Supaya menghasilkan narasi yang mengalir.

Kemudian, yang tidak kalah penting adalah pengeditan pada level sistematika tulisan. Pada umumnya, artikel pendek terdiri dari pembuka, pembahasan, dan penutup. Agar enak dinikmati, kita perlu membuat ketiganya harmoni.

Pembuka memuat pengantar kepada isu. Termasuk mengapa isu tersebut penting untuk ditulis. Kemudian, pembahasan berisi persoalan apa saja yang perlu dibahas dalam isu tersebut. Juga berbagai kerangka analisa dan penafsirannya. Kemudian, penutup berisi kesimpulan, termasuk juga opini kita.

Ingat. Kita harus mengemas pembuka dengan kalimat yang menarik. Ini berfungsi untuk menarik minat pembaca. Sedangkan penutup berisi kesimpulan yang berupa jawaban kita atas isu tersebut. Dalam proses editing, kita harus menyelaraskan seluruh bagian ini.

Dalam mengedit naskah buku juga demikian. Pastikan sistematikanya baik. Setiap bab juga perlu diatur porsinya. Jangan sampai satu bab terlalu panjang. Dan satu bab lain pendek. Atau sebaliknya. Jadi, itu beberapa hal yang kiranya perlu diperhatikan dalam pengeditan bahasa.

Kedua, editing dalam hal isi. Dalam hal ini, yang diperiksa adalah keaslian naskah, logika tulisan, dan validitas sumber jika kita menggunakan sumber. Paling tidak, ini tiga hal penting yang perlu diperhatikan.

Terkait keaslian naskah, tentu untuk menghindari penjiplakan. Jika sejak awal kita sudah berkomitmen untuk menghindari penjiplakan, tentu kita tidak perlu susah payah untuk melakukan ini. Dengan demikian, beban kita dalam melakukan editing secara mandiri makin berkurang.

Dalam soal logika tulisan, pastikan segalanya sudah masuk akal. Tidak ada kontradiksi. Baik pada level kalimat, paragraf, maupun secara keseluruhan naskah. Ini berlaku baik untuk karya non fiksi maupun naskah fiksi.

Kemudian. Validitas sumber penting juga untuk diperiksa. Terutama jika kita menggunakan sumber untuk membuat tulisan tersebut. Ini berlaku terutama dalam karya non fiksi.

Begitu juga soal sudut pandang penulisan. Harus dipastikan konsisten. Apakah menggunakan sudut pandang orang pertama, kedua, atau orang ketiga. Ini sangat penting.Terutama soal naskah fiksi. Sudut pandang penulisan harus konsisten dalam keseluruhan naskah. 

Kemudian. Pemangkasan kadang juga perlu. Apakah pemangkasan kalimat atau paragraf. Melakukan pengeditan secara mandiri harus tega melakukan ini. Walaupun berat. Karena kita harus menghapus karya kita sendiri. Tentu dengan tujuan meningkatkan kualitas naskah.

Satu hal yang penting juga. Kita harus memisahkan antara penulisan dan pengeditan. Artinya, selesaikan tulisan terlebih dahulu. Baru kemudian melakukan pengeditan. Karena mencampuradukkan keduanya akan mengganggu proses penulisan. Dan tidak jarang, karena hal itu, proses penulisan tidak selesai. Selain itu, pengeditan juga tidak efektif.

Karena itu, pada umumnya, untuk mengedit secara mandiri, perlu mendiamkan tulisan kita beberapa waktu. Tidak langsung mengedit. Kita perlu jeda untuk menyegarkan pikiran kita. Agar mampu secara efektif mendeteksi kesalahan. Walaupun, berapa lama jeda itu, juga tidak ditentukan waktunya.

Memberikan jeda sebelum mengedit menurut saya sangat penting. Jika kita memaksakan langsung mengedit tanpa jeda, risikonya sangat tinggi. Karena sangat mungkin ada kesalahan yang lolos.

Saya sering melakukan ini. Langsung mengedit naskah setelah menulis. Dan hasilnya, selalu tidak memuaskan. Sangat sering masih ada kesalahan, meski tidak terlalu fatal.

Yang tidak kalah penting adalah, ketelitian dalam melakukan pengeditan. Kita tidak bisa lakukan pekerjaan ini secara sembrono. Perlu ketelitian dan ketenangan. Huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Karena itu, kesabaran sangat diperlukan.

Di akhir ulasan singkat ini. Satu hal yang kita pelajari. Bagi seorang penulis, mengedit merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dimiliki. Demikian beberapa teknik singkat dalam mengedit naskah secara mandiri ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih. []

Oleh: M. Khusnul Khuluq

M. Khusnul Khuluq
M. Khusnul Khuluq

Muhammad Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H. Alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2015. Peraih The Asia Foundation Scholarship of Master Program on Syaria and Human Right Studies.

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment