Sarapan Pagi

kader imm

Modernis.co, Jambi – Di samping sarapan yang telah disiapkan. Sarapan pagi saya adalah membaca dan menulis. Bagi saya. Ini penting. Karena selain harus mengisi lambung. Pikiran juga perlu diisi. Dengan membaca buku, dan menulis.

Itu mengapa di atas kulkas, di meja TV, di meja kamar, selalu ada beberapa buku bertumpuk. Kadang, terlalu malas untuk mengembalikan ke tempatnya. Di meja kerja juga begitu. Ada setumpuk bacaan wajib.

Apa pentingnya membaca buku? Jelas. Terutama bagi para akademisi, membaca buku adalah amunisi. Karena pengetahuan yang sempit adalah musibah besar bagi seorang akademisi.

Selain itu. Sungguh tidak beruntung orang-orang yang mencukupkan diri dengan ilmu. Karena dengan itu, berarti sudah merasa luas pengetahuannya. Sehingga, tidak perlu menambah.

Padahal. Yang namanya pengetahuan itu, ibarat air di samudera yang luas. Yang bahkan luasnya lebih luas dari seluruh daratan. Sementara kita, sebagai manusia, yang kita ketahui hanya satu tetes saja.

Surat Al Kahfi ayat 109 menyebutkan: “Katakan, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meski Kami datangkan tambahan sebanyak itu.”

Kita sering mendengar ungkapan. Semakin banyak kita membaca, semakin kita sadar. Bahwa kita tidak tahu apa-apa. Yang artinya, pengetahuan kita sangat sedikit.

Karena itu, sarapan pagi dengan buku sangat penting untuk menambah pengetahuan. Di samping sarapan dengan sajian yang telah disiapkan di balik tudung saji, di meja makan.

Lalu. Apa pentingnya menulis? Di samping menyalurkan hobi. Tentu, karena menulis adalah pekerjaan penting. Menulis adalah pekerjaan para intelektual, para pemikir, para filsuf, ulama, dan seterusnya.

Kita mengenal mereka dari karya yang dihasilkan. Dari pikiran-pikiran mereka yang digoreskan dengan tinta, dalam lembaran-lembaran.

Itu mengapa, kita masih mengenal para ulama atau pemikir yang telah meninggal jauh di masa lalu. Dengan melalui karya yang mereka tinggalkan.

Ibnu Idris As Syafi’i misalnya. Atau lebih dikenal dengan Imam As Syafi’i. Salah satu intelektual Muslim yang sangat terkenal. Juga dikenal sebagai pendiri salah satu Mazhab Sunni.

Kita mengenal beliau sebagai seorang yang sangat ahli dalam banyak bidang. Melalui salah satu karya monumentalnya, yaitu Al-Umm, dia dikenal sebagai seorang ahli fiqih. Meski sebetulnya, dia orang yang sangat multi disiplin.

Melalui “Das Kapital”, atau dalam bahasa Inggris adalah “Capital, A Critique of Political Economy”, siapa yang tidak mengenal seorang Karl Heinrich Marx. Seorang filsuf Jerman abad 19 yang sangat lihai dalam soal politik ekonomi.

Singkat kata. Kita mengenal para pemikir zaman dahulu dari dari karya-karya mereka. Akan berbeda  jika sewaktu hidup, mereka tidak menulis. Mungkin kita tidak mengenal mereka. Ini mengapa menulis itu penting. Utamanya dalam tradisi keilmuan.

Jadi, selain sarapan sajian dalam piring dan segelas susu. Penting juga sarapan baca dan tulis. Jika sarapan yang pertama untuk memenuhi kebutuhan fisik, sarapan baca tulis untuk memenuhi kebutuhan pikiran. []

Oleh: M. Khusul Khuluq

M. Khusnul Khuluq
M. Khusnul Khuluq

Muhammad Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H. Alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang tahun 2015. Peraih The Asia Foundation Scholarship of Master Program on Syaria and Human Right Studies.

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment