Resolusi Konflik Suporter Deltras Sidoarjo dan Gresik United

Modernis.co, Malang – Secara histori, Gresik United dan Deltras FC sama-sama pernah mencicipi kasta sepak bola teratas di tanah air. Gresik United dulunya merupakan reinkarnasi dari klub Petrokimia Putra. Sementara Deltras FC dulunya berasal dari klub Gelora Putra Delta (GPD). Dua tim legendaris tersebut, pernah bertemu di kompetisi musim 2000-2001.

Baik Petrokimia Putra maupun Deltras FC juga pernah mengorbitkan sejumlah pemain yang berkostum timnas. Widodo C. Putro dan Jaenal Ichwan merupakan striker haus gol di zamannya. Hal yang sama pada Deltras FC, nama seperti Budi Sudarsono dan I Putu Gede tidak asing bagi masyarakat Sidoarjo.

Dua tim ini juga pernah sama-sama terjerembab di kasta sepakbola paling bawah. Yakni, Liga 3 Askab PSSI Jawa Timur. Setelah dibenahi oleh kepala daerah yang sama-sama gila terhadap olahraga sepak bola, dan masih satu keluarga. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani (Gus Yani) adalah anak menantu dari KH Ali Masyuri (Gus Ali). Sementara Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali merupakan anak dari Gus Ali.

Berkat tangan dingin kedua kepala daerah tersebut. Gresik United dan Deltras FC juga lolos bersamaan di kasta Liga 2.  Kedua tim itu, juga memiliki suporter fanatik. Ada Ultrasmania di Gresik United dan Delta Mania di Deltras FC. Baik Gresik United maupun Deltras FC juga memiliki stadion sama megahnya. Stadion Gelora Joko Samudro (Gejos) memiliki kapasitas 25 ribu penonton.

Sementara Stadion Gelora Delta Sidoarjo 35 ribu penonton. Uniknya ada kesamaan plat nomor kendaraan Gresik dan Sidoarjo yang sama-sama diawali huruf W. Tidak salah jika ada pecinta sepakbola yang menamakan Gresik United vs Deltras FC, ibarat duel sesama plat W. 

Awal ricuhnya suporter Gresik United dengan Deltras mania Sidoarjo adalah pada tanggal 16 Desember 2009 yang berawal dari nyanyian Ultras Mania yang berisi pertanyaan kabar “piye… piye… piye kabare… piye kabare Delta Mania…”, malah tidak direspons oleh Delta Mania, sebaliknya Delta Mania malah membalas nyanyian tersebut dengan nyanyian yang berisi meledek dan menyakitkan.

Alhasil setelah pertandingan berakhir, para suporter Gresik United dihujani batu oleh para suporter Deltras. Untungnya pihak keamanan sigap dalam menanggapi tersebut, selama perjalanan pulang para suporter Gresik United dikawal oleh Polisi.

Kericuhan antara Ultras Gresik United dengan Delta Mania Sidoarjo terjadi hingga sekarang. Pada tanggal 30 Juli 2022 pada saat laga uji coba yang mana dimenangkan oleh Gresik United. Kericuhan diawali dari tribun sektor 8 dan sektor 9. Kericuhan itu terjadi antarsuporter Deltamania. Tidak jelas apa yang membuat mereka ribut.

Saat itu Deltras memang sedang ketinggalan gol dari Gresik United. Kerusuhan berlanjut setelah wasit meniup peluit panjang. Suporter Gresik United yang menempati tribun sektor 5 dan sektor 6 dilempari batu dari luar stadion oleh oknum suporter. Akibatnya, kedua suporter saling melempar batu.

Dalam kasus kerusuhan suporter Deltras dan Gresik United, ada satu teori analisa konflik yang agaknya relevan untuk dipakai. Teori itu disebut “peta konflik”. Peta konflik merupakan alat yang berupaya melihat suatu peristiwa/konflik dari setiap variabelnya. Mulai dari pelaku utama, siapa pelaku yang mempunyai pengaruh, siapa pelaku yang terkena dampak, siapa pelaku yang diuntungkan atau dirugikan dalam konflik tersebut. Peta konflik mengemukakan bahwa semua yang ada dalam konflik, adalah termasuk pelaku. Sebab, tanpa adanya semua subjek suatu konflik tidak akan terjadi.

Ada beberapa solusi untuk menekan konflik ini agar meluas dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Atau bahkan bisa jadi hal ini dapat dihindari ketika beberapa peraturan ditegakkan dengan semestinya. Adapun solusinya yaitu:

Penanggung Jawab Acara

Fungsi tugas dari adanya penanggung jawab acara adalah untuk menjaga berjalannya acara agar lebih kondusif dan sesuai dengan arahan.

Suporter Deltras dan Gresik United

Fungsi dari adanya suporter adalah untuk atau sebagai penyemangat pertandingan yang diselenggarakan, agar pemain dapat bertanding dengan semangat dan penuh kerja keras.

Aparat dan Pemerintah

Aparat, pemerintah, dan juga pejabat-pejabat klub melakukan mediasi di antara kedua suporter tersebut. Mediasi yang dilakukan adalah dengan mendengarkan penjelasan dari setiap perwakilan suporter untuk memberikan solusi yang tepat dan cermat agar kedua belah pihak saling menerima dan mampu menjalin solidaritas yang tinggi. Pemerintah seharusnya memfasilitasi para suporter tersebut untuk dapat bermediasi tanpa adanya oknum provokator yang akan merusak mediasi tersebut.

Berbagai upaya dan solusi telah dilakukan untuk menekan konflik antar kedua suporter. Baik dari pihak kepolisian, PT. LIB selaku penyelenggara liga, serta para pendukung atau suporter dari kedua belah pihak harus bahu-membahu dalam menangani masalah seperti ini.

Dibutuhkan pula kesadaran dalam masing-masing individu bahwa berselisih bukanlah sesuatu yang benar. Pihak-pihak yang berselisih ini benar-benar harus segera ditanamkan mindset perdamaian. Harapan nya agar kedepannya citra sepakbola nasional kita dapat mendapatkan pujian dari seluruh elemen masyarakat.

Oleh: M. Aras Rasyid, M. Davy Rizky Z., Afrinda Lola N., Welinus Nerigi, M. Febry Noor H., Andi Rinaldi M. Y., dan M. Arfen Nizar, Mahasiswa/i Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang
 

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Leave a Comment