Refleksi Hari Buku, Tidak Ada yang Salah Dengan Buku Kiri

Modernis.co, Malang – Sejarah mencatat, tepat pada tanggal 23 April dikenal dengan Hari Buku Internasional. Peringatan tersebut baru kemudian diresmikan oleh  UNESCO pada tahun 1995 untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Hubungan antara 23 April dengan buku pertama sekali dibuat oleh toko buku di Catalonia, Spanyol pada tahun 1923. Gagasan tersebut berasal dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andres sebagai cara untuk menghargai penulis Miquel de Carvantes yang meninggal pada tanggal tersebut.

Hari buku sedunia, menurut hemat saya menjadi sangat penting untuk kemudian dijadikan refleksi untuk meningkatkan budaya membaca dan kebebasan dalam memilih bacaan. Budaya membaca dewasa ini sering digaungkan oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi sampai pada komunitas telah banyak mengelorakan gerakan literasi.

Ini adalah sebuah kesadaran yang harus senatiasa dipupuk. Mengingat, kondisi minat baca di Indonesia masih terbilang rendah dan tertinggal dari negara lain. Survei yang dilakukan oleh UNESCO tahun 2019, Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara di dunia pada level literasi membaca.

PISA juga turut mencatat, berdasarkan laproan yang rilis Desember 2019 lalu, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77 negara. Dari sini dapat disimpulkan bahwa minat baca di negeri ini masih sangat rendah.

Beberapa pekan yang lalu, mucul berita di berbagai media, yaitu tentang tindakan polisi melakukan razia buku-buku kritis yang diduga sebagai barang bukti penangkapan kelompok Anarko di Tangerang. Sejumlah buku yang disita antara lain Massa Aksi, Corat-coret di Toilet, Indonesia Dalam Krisis, Nasionalisme Islamisme dan Marxisme dan masih banyak lagi, khususnya buku yang berhaluan kiri.

Ini adalah sebuah ironi, saya cuma mau bilang bahwa minat baca di negeri ini sangat rendah, tapi kenapa razia, penyitaan, pemberedelan sampai pada pembakaran buku masih dilakukan. Apakah hanya karena buku-buku tersebut bercorak pemikiran ‘kiri’, lantas kemudian harus segera dibumihanguskan?. Bagaimana minat baca bisa meningkat, kalau buku sampai pada pikiran saja dibatasi.

Jika hal semacam itu masih terus terjadi, itu artinya ada sebuah pemahaman yang tidak utuh. Selain itu juga mengindikasikan ada sebuah pemahaman yang fatalis, yang senatiasa terkonstruk dan diwariskan. Lebih jelasnya lagi, nampaknya masyarakat masih terperangkap oleh penjarah sejarah.

Penjarah Sejarah dan Stigmatisasi Gerakan Kiri

Pemikiran kiri di Indonesia bisa dibilang sesuatu yang jarang diketahui dan dikaji oleh masyarakat, khususnya anak muda. Meskipun ada, bisa terbilang masih sangat sedikit yang bergelut didalamnya. Kenapa dewasa ini pemikiran kiri tidak terlalu populer?, hal tersebut karena stigmatisasi terhadap pikiran kiri sudah terlanjur melembaga dan dianggap sesuatu yang harus dihindari.

Secara historis, pemikiran kiri di Indonesia mulai dibumihanguskan sejak transisi orde lama menuju orde baru (65), karena dianggap sebagai hantu oleh rezim saat itu. Terminologi kiri juga kerap dikaitkan pada segala hal (pemikiran dan gerakan sosial) yang yang berusaha melakukan sebuah pembacaan ulang atas situasi ketimpangan yang akibat ketidakberhasilan pemerintah dalam mengelolah negara.

Menariknya lagi, pemikiran dan gerakan sosial ini sering disimbolkan sebagai revolusi yang berakar dari paham Sosialisme, Marxisme dan Komunisme. Yang diidentikkan dengan kekerasan. Belum lagi gerakan tersebut selalu dikontekskan dengan luka sejarah akbiat komunisme, khususnya di Indonesia.

Stigmatisasi terhadap bentuk pemikiran yang berhaluan kiri sampai saat ini kian masif. Suatu hal yang mengindikasikan bahwa masyarakat masih terjebak dalam penjara sejarah. Menurut Ali Syari’at, pandangan determinisme sejarah telah menentukan perbuatan manusia dan menjadi penentu kemana harusnya manusia bergerak.

Penjara sejarah telah membutakan masyarakat dalam melihat realitas sosial yang ada, sehingga masyarakat terperangkap dengan status quo yang ada, terkhusus dalam pemahaman terhadap terminologi ‘kiri’.

Padahal wacana pemikiran kiri adalah pemikiran dan gerakan sosial yang revolusioner dan senatiasa mengkritisi segala bentuk ketidakadilan. Pemikiran kiri adalah sebuah anti tesis yang digunakan sebagai dasar gerakan untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan dengan sistem kapitalisme yang menindas.

Oleh karena itu, marilah keluar dari penjara sejarah, mari buka pikiran kita dengan memperluas pandangan dalam melihat realitas sosial. Salah satu kunci agar pandangan dan wawasan kita lebih luas adalah dengan membaca. Membaca menjadi kunci dalam memperoleh pengetahuan.

Hari Buku dan Kebebasan Dalam Berpikir

Semakin luas wawasan dan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia, maka manusia akan terhindar dari perilaku yang cendererung perfeksionisme. Seperti kata pepatah, “orang berilmu itu seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”. Semakin luas pengetahuan seseorang, maka orang tersebut akan semakin santun dan tidak mudah marah. Apalagi sampai membenci buku, karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan.

Mungkin sedikit pesan kepada yang sering merazia buku kiri. Jangan asal melakukan razia, baca dan pahami dulu isinya. Mungkin sedikit mengutip Franz Magnis Suseno. Beliau menyatakan bahwa fenomena pemberangusan buku adalah tindakan fisik untuk membungkam pikiran yang tidak mampu dilawan secara pikiran. Utamanya pada abad ke-20, model ini sering digunakan serta menjadi ciri khas dari fasisme.

Hari buku sedunia harus menjadi momentum untuk meningkatkan kembali budaya membaca buku. Dan teruntuk yang membenci buku-buku bergenre kiri, segera hilangkan stigma tersebut di kepala kalian. Hari ini negara kita sedang dilanda budaya krisis literasi dan berpikir. Oleh karenanya jangan membatasi kebebasan orang dalam berpikir, jangan membatasi orang dalam membaca buku kalau mau menjadi sebuah negara yang punya peradaban yang mencerahkan.

Oleh : Wahyu Hendra (Ketua Umum IMM Rausyan Fikr UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment