Radikalisme, Kekerasan, dan Sentimen Politik di Kampus UIN

Modernis.co, Jakarta – Walaupun kebebasan telah diperluas di banyak bidang, termasuk institusi pendidikan, sikap intoleran dan radikalisme tetap menjadi masalah di Indonesia. Institusi pendidikan yang seharusnya steril atau bersih dari pandangan radikal, sekarang rentan sekali terpapar radikalisme. Pemahaman radikalisme tidak hanya menyusup di kalangan kelompok garis keras, akan tetapi telah masuk ke sejumlah sekolah dan kampus.

Karakteristik umat Islam di Indonesia yang sebelumnya dikenal moderat, ramah, toleran dan terbuka, kini berubah menjadi konservatif, pemarah, tertutup, dan intoleran, tidak terkecuali di kalangan mahasiswa (Fealy, 2006; Hadiz, 2008, Kikue, 2014).

Merujuk dari surat tanda pengaduan ke POLSEK Jambi Luar Kota. Pada hari rabu tanggal 31 Agustus 2022, sekitar pukul 17.30 WIB, tepatnya di teras Auditorium UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi Desa Simpang Sei Duren, Kec. Jaluko, Kab. Muaro Jambi, Kota Jambi, telah terjadi kembali pengeroyokkan oleh sejumlah mahasiswa UIN STS Jambi kepada salah satu mahasiswa UIN STS Jambi. Karena di setiap moment pengenalan kampus UIN STS Jambi kepada mahasiswa baru sering terjadi pengeroyokkan oleh sejumlah mahasiswa.

Isu yang beredar bahwa ketika salah satu mahasiswa ingin mengibarkan bendera organisasi eksternal kampus mereka, mahasiswa yang lain dan sejumlah panitia melarang sampai mengejar dan mengeroyok mahasiswa yang membawa benbera tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa UIN STS Jambi tersebut tidak menginginkan organisasi eksternal yang lain masuk ke kampus UIN STS Jambi dan melarang kebebasan berserikat di lingkungan kampus.

Apalagi sampai terjadi pengeroyokkan, itu menunjukkan juga bahwa beberapa mahasiswa UIN STS Jambi memiliki sikap radikal.

Menurut Nasution (1995: 124) radikalisme diartikan sebagai gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka. Mirisnya itu terjadi di kampus Islam Negeri dan sesama mahasiswa kampus tersebut.

Islam sendiri tidak pernah membenarkan praktik penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan, serta paham politik. Meskipun memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan sejarahnya, terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan paham keagamaannya secara kaku atau dalam bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam.

Kalau pandangan radikalisme ini dibiarkan saja, sudah pasti sangat berbahaya untuk perkembangan mahasiswa dan kampus itu sendiri, dan bisa dipastikan ketika pandangan ini masih ada di kampus, akan ada pengeroyokkan lain yang akan terjadi.

Radikalisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang dirugikan oleh fenomena sosio-politik dan sosio-historis. Gejala praktik kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam itu, secara historis-sosiologis, lebih tepatnya sebagai gejala sosial politik ketimbang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keagamaan.

Azyumardi Azra (1996: 18) menjelaskan fenomena radikalisme atau fundamentalisme muncul sebagai akibat otoritarianisme (kuasa). Hamayotsu (2013), menjelaskan juga salah satu faktor kontribusi terhadap meningkatnya gerakan radikalisme agama dan intoleransi agama ialah pandangan tradisional lembaga untuk mobilisasi agama dan politik, menumbuhkan sentiment dan sikap antagonis terhadap apa yang mereka anggap musuh dalam komunitasnya, sempit interpretasi, dan dogmatis tentang Islam.

Toleransi beragama, transformasi demokratis, dan penggalakkan hak asasi manusia adalah nilai yang telah dikembangkan dan menjadi kebanggaan sendiri bagi Indonesia. Walaupun demikian, masih banyak rakyat Indonesia yang mengalami diskriminasi beragama tidak terkecuali mahasiswa-mahasiswa.

Penulis melihat dan mengamati kenapa bisa terjadi kekerasan yang terjadi di kampus-kampus di Indonesia? Bisa dikatakan terjadi karena masalah sosial politik, di mana kelompok tertentu yang mempunyai kekuasaan atas kampus tersebut. Mereka tidak ingin ada organisasi luar kampus yang lain masuk dalam kampus tersebut sehingga mengambil peran dalam kampus tersebut.

Faktor yang lainnya ialah emosi keagamaan. Bisa dikatakan salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentiment keagamaan, termasuk solidaritas kegamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu, atau kejumuddan tentang pemahaman keagamaan, yang mana mereka mengklaim bahwa golongan atau kelompok merekalah yang paling benar.

Sehingga memandang organisasi lain itu sesat, salah dan tidak benar. Akibat pandangan yang terbatas dan terbelakang itu menjadikan mahasiswa kurang bisa berkembang entah itu dalam sosial atau dalam ilmu pengetahuan.

Kalau pandangan mahasiswa-mahasiwa masih seperti ini, bisa dipastikan, entah mahasiswa atau kampus, akan bisa mundur dan tidak berkembang, sehingga wajar saja umat Islam Indonesia umumnya mudah sekali untuk diadudomba dengan sesama umat Islam lainnya.

Sudah seharusnya kampus Islam di Indonesia bisa melahirkan cendikiawan-cendikiawan muslim yang bisa meredam dan menghilangkan pandangan-pandangan radikalisme, sehingga tidak ada lagi terjadi kekerasan antar umat Islam khususnya dan umat beragama umumnya.

Oleh: Angga Panca Sera S.Ag (Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment