Machiavellian Kampus: Gelagat Mahasiswa Menyambut Politik Kampus

Modernis.co, Malang – Meskipun belum memasuki masa kampanye, banyak baliho dan semiotika bernuansa mulai muncul untuk menyambut Pilkada 2024. Terobosan ini menghadirkan pro dan kontra. Untuk konteks fasilitas pemerintah, saya kira akan lebih berkonotasi negatif karena belum tuntasnya sindrom patronase birokrasi pasca Orde Baru sehingga sangat rawan politisasi birokrasi.

Sedangkan kampanye di lembaga pendidikan, ini menarik untuk dielaborasi. Setidaknya ada beberapa poin dalam mengaitkan atmosfer dan konstelasi politik praktis ke dalam ruang-ruang akademik pendidikan, minimal kampus.

Di atas ini hanya sebagai pemantik belaka, jauh daripada itu yang lebih menarik lagi nampaknya gelagat-gelagat itu diadopsi oleh sebagian organisasi mahasiswa. Dalam mengambil ancang-ancang menyambut hari pemilihan, para pimpinan organisasi mahasiswa tak mau kalah lincah dalam menggaet suara untuk pemilihnya nanti.

Kampus-kampus di republik ini sebetulnya memiliki historis politik internal sejak lama. Protes publik mahasiswa pada tahun 1966 (Tritura), 15 Januari 1974 (Malari), dan Mei 1998 (Reformasi) menghasilkan banyak hal penting, termasuk pergeseran rezim. Tidak mengherankan bahwa pada akhir 1970-an Soeharto memberlakukan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) untuk mencegah aktivitas politik di kampus.

Akibatnya, meskipun mayoritas mahasiswa sudah dewasa dan memiliki hak untuk memilih, kampanye politik masih haram hingga hari ini. Namun, pada masa Orba, masih ada organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan kubu politik tertentu, terlepas dari apakah mereka diakui atau tidak. Banyak orang yang dulunya aktivis kampus sekarang menjadi politisi. Oleh karena itu, politik negara selalu ada di kampus.

Politik Machiavellian

Politik adalah aspek penting dalam kehidupan manusia yang tak terhindarkan, dan keberadaannya tak cuma terbatas pada ranah pemerintahan negara. Bahkan dalam lingkungan kampus, politik memiliki peran yang signifikan. Saat kita berbicara mengenai politik kampus, kita tak bisa menghindari perbandingan dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh seorang filsuf politik terkenal, Niccolò Machiavelli.

Melihat konteks di Italia saat itu, Machiavelli dikenal dengan pemikirannya yang realis dan pragmatis, menggarisbawahi kebutuhan untuk mengambil langkah-langkah yang kadang-kadang kontroversial demi meraih kekuasaan dan tujuan politik. Dalam konteks politik kampus, mahasiswa juga terlibat dalam dinamika politik.

Mahasiswa yang memahami prinsip-prinsip Machiavellian dalam politik kampus sering kali menerapkan taktik “cerdik” dan kebijakan pragmatis. Mereka bisa membentuk aliansi dengan individu berpengaruh, menggunakan diplomasi untuk mempengaruhi kebijakan kampus, atau bahkan bersedia melakukan tindakan kontroversial untuk mencapai tujuan mereka. Namun, perlu diingat bahwa seperti yang dituangkan oleh Machiavelli, pendekatan pragmatis semacam itu juga bisa menimbulkan dilema etika dan moral.

Dalam lingkungan kampus, konflik dan ketidakpuasan dapat muncul dari siswa yang terlalu fokus pada kekuatan dan tujuan pribadi mereka tanpa mempertimbangkan kepentingan bersama dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa dalam politik kampus untuk menemukan keseimbangan antara taktik Machiavellian dan etika yang kuat. Jika mereka ingin mencapai perubahan yang positif dan berkelanjutan dalam lingkungan akademik mereka, ini akan sangat penting.

Prinsip politik Machiavelli dapat diterapkan di kampus dalam beberapa konteks. Sebagai contoh, ada calon presiden mahasiswa yang membuat janji-janji yang tidak masuk akal untuk menarik perhatian pemilih. Yang lain menggunakan taktik curang, seperti menyebarkan gosip palsu atau memberikan uang kepada pemilih, untuk mendapatkan keunggulan dalam persaingan politik kampus.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa pendekatan politik Machiavelli tidak selalu bersifat negatif. Ada kemungkinan bahwa penerapan prinsip-prinsip Machiavelli dapat berfungsi sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan yang bersifat positif. Misalnya, mahasiswa dapat menjatuhkan pemerintahan yang korup di kampus dengan menggunakan strategi Machiavellian.

Kita dapat melihat bagaimana prinsip Machiavelli diterapkan secara negatif dalam politik kampus, seperti taktik curang atau janji yang tidak realistis. Namun, kita juga harus mengingat bahwa dalam beberapa situasi, penerapan prinsip Machiavelli juga dapat membantu menghasilkan perubahan yang baik.

Dengan demikian, mahasiswa harus bijak dalam menggunakan pendekatan politik Machiavelli di kampus. Mereka harus memiliki tujuan yang jelas dan positif yang menguntungkan semua warga kampus, terutama mahasiswa. Tujuan harus diprioritaskan, dan mahasiswa harus siap menerima konsekuensi dari pilihan mereka. Oleh karena itu, politik Machiavelli dapat digunakan sebagai alat yang berguna untuk mengubah lingkungan akademik.

Akhir kata, politik kampus adalah area penting yang mempengaruhi kehidupan mahasiswa dan aktivitas di kampus. Jika kita membandingkannya dengan prinsip Machiavelli, kita akan melihat betapa pentingnya memiliki kebijaksanaan dan pemahaman yang mendalam ketika kita menghadapi tantangan politik di lingkungan kampus. Mahasiswa harus memahami tujuan politik mereka dan konsekuensi moral dari taktik politik yang mereka gunakan.

Oleh: Yudhistira Ananta (Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment