Sri Sultan Hamengkubuwana: The Spiritual Ruler Of Java

nurbani yusuf

Modernis.co – Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram Islam bergelar Senopati Ing Alaga Sayidin Panoto Gomo Khalifatullah Tanah Jawa. Setelah kisruh kerajaan Demak Bintoro tak bisa reda. Intrik dan konflik terus meruak. Petarungan kepentingan dan kelompok kian tak terbendung. Pembangkangan di mana-mana sebagai protes atas kebijakan istana. Demak Bintoro merapuh karena ulah penguasa yang hipokrit dan hedonis. Kepercayaan rakyat terus menipis.

Danang Sutowijoyo. Demikian nama kecilnya, putra dari Ki Ageng Pemanahan. Berbagai cerita mengenai kisah hidup Danang Sutawijaya demikian memikat dengan puluhan tafsir dan cerita mistis. Tapi di situlah menariknya. Bukankah para rasul dan nabi juga menarik karena cerita mitos yang diawetkan.

Saat masuk dapur karibnya Ki Ageng Giring, mencari air minum, Ki Ageng Pemanahan mendapati kuali kosong tanpa air. Kemudian menemukan buah kelapa muda besar tersimpan. Ia memecah dan meminum dan memakan isinya semuanya tanpa sisa.

Konon kelapa muda ini adalah hasil uzlah yang dilakukan Ki Ageng Giring teman karibnya. Untuk mendapatkan keturunan mandraguna menguasai tanah Nusantara. Berawal dari minum kelapa muda itulah kelak keturunan Ki Ageng Pemanahan bakal menurunkan raja-raja di tanah Jawa.

Pintar saja tak cukup apalagi hanya berbekal harta cekak, atau popularitas di kerumunan terbatas dan kelebihan orasi di atas mimbar dengan bahasa kampus, tambah tak cukup, kita selalu berhitung logis dengan kalkulasi politik rasional praksis. Bagi saya itulah penyebab berbagai kekalahan telak calon yang dijagokan. Kurang pintar dan populer apa Amien Rais, keok di putaran pertama.

Dalam konsep kekuasaan Jawa, seorang penguasa, Raja, Prabu, Sultan, Ratu, Presiden atau apapun namanya bukan hanya sekedar memimpin manusia tapi juga penghuni yang ada di tlatah itu, termasuk alam semesta dan lelembut yang ada di dalamnya.

Dengan konsep seperti itu, maka usaha lahir saja tak cukup maka perlu ikhtiar batin untuk mendapatkan dukungan atau setidaknya diterima. Berbagai laku batin diupayakan. Bahkan sebagian melakukan perjanjian tak perduli menabrak aqidah.

Bagaimana Islam memandang kekuasaan. Dijelaskan dalam Al-Quran bahwa kekuasaan hanya milik Allah. Allah akan memberi atau mencabut kekuasaan kepada siapapun yang dikehendaki. Termasuk mempergilirkanya tanpa kecuali. Konsep inilah yang disepakati sebagian besar kita. Sebagai sandaran tawakkal dan pasrah mutlak kepada Yang Maha Kuasa.

Lalu apa cukup demikian. Rasulullah saw pernah menegur seseorang penunggang onta yang shalat dan tidak mengikat ontanya dengan alasan tawakkal. “Ikat dulu ontamu baru tawakkal,” kata Rasulullah. Nasehat pendek tapi dalam ditindakan.

Nubuwah tidak akan keluar dari urutan nashab. Semua nabi berasal dari bapak yang satu yaitu Ibrahim as dan ibu berbeda demikian penjelasan nabi saw. Pun dengan kekuasaan tak akan lepas dari wahyu keprabon, dan Sri Sultan Hamengkubuwana bagaimana pun mewarisi kekuasaan itu. Dan sejenak kita mengabaikannya karena sibuk mengurus demokrasi dan segala perangkatnya.

Soekarno dan Soeharto menyadari itu, meski telah menjabat Presiden, keduanya tetap ta’dzim kepada keraton Ngayogjakarto Hadiningrat dan keraton Kasunanan Mangkunegaran di Solo. Dan barangkali itu yang membuatnya lama berkuasa. Itulah kekuasaan: “pintar dan populair saja tak cukup”. Wallahu a’lam.

Oleh: KH. Nurbani Yusuf (Pegiat Komunitas Padhang Makhsyar Malang/Kiayi Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Related posts

Leave a Comment