Poligami Dalam Perspektif Madzhab Syafi’i

Modernis.co Malang – Pernikahan adalah salah satu ibadah yang dianjurkan oleh Allah SWT, karena adanya perbedaan jenis kelamin pada manusia yang diciptakan Allah SWT. Diciptakannya laki-laki dan perempuan ini bertujuan agar manusia bisa berpasang-pasangan dan melakukan perkawinan sehingga mendapatkan keturunan dan timbul rasa kasih sayang diantara keduanya.

Pernikahan yang diinginkan oleh semua orang seperti pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kata poligami sendiri asalnya dari polus dan gamos yang artinya polus adalah banyak, dan gamos adalah perkawinan.

Jika digabungkan keduanya antara polus dan gamos maka artinya suatu perkawinan yang banyak. Namun dalam istilah fiqh, poligami sering dikenal dalam sebutan ta’addud al-zaujat yang artinya istri yang banyak, dan dalam istilah sendiri poligami artinya kebolehan melakukan perkawinan terhadap dua, tiga, atau empat perempuan apabila bisa berbuat adil.

Semua orang yang telah menikah sudah pasti menanti kelahiran buah hati dan keturunan mereka. Namun ada juga pasangan suami istri yang sudah lama menjalin hubungan sah (pernikahan) tapi tidak juga dikaruniai buah hati oleh Allah SWT, karena itu abnyak psangan suami istri yang melakukan bayi tabung atau juga poligami agar bisa mendapatkan keturunan.

Menurut Ramulyo bahwa poligami itu merupakan suatu pernikahan yang dimana seorang suami memiliki istri lebih dari satu, yang dimana seorang suami itu menikahi satu wanita saja, lalu di waktu lainnya suami tersebut menikahi wanita lain lagi tanpa menceraikan istri pertamanya.

Lepas dari suatu pengertian polgimai tadi, poligami sendiri masih banyak diperdebatkan oleh banyak para ahli hukum Islam. Bukan hanya para ulama yang pro-kontra terhadap poligami, melainkan masyarakat juga banyak yang tidak menerima poligami dan tidak seikit juga yang menerima poligami itu.

Masyarakat yang menerima poligami tadi biasanya beranggapan bahwa poligami adalah sunnah yang sudah tertera di dalil Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 2 sampai An-Nisa ayat 3. Selain terdapat di dalam Al-Qur’an jika kita mengingat tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, beliau juga melakukan poligami.

Dan masyarakat yang menolak poligami mereka beranggapan bahwa poligami itu tindakan ketidak adilan terhadap kaum wanita dan bisa mendiskriminasikan kaum wanita.

Sedangkan yang membolehkan poligami juga disyaratkan sebagaimana yang tertera di dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 yang mengatakan bahwa dasar suatu perkawinan yaitu monogami atau satu istri, bukan poligami. Namun poligami diperbolehkan tapi dengan syarat batas maksimal hanya empat orang istri.

Bagi orang yang ingin melakukan poligami harus melakukan perjalanan sidang di Pengadilan untuk mendapatkan izin dari Pengadilan dengan syarat seorang suami harus mendapatkan restu dari istri pertamanya. Berarti jelas apanila tidak meminta izin di pengadilan maka pernikahan yang kedua tadi tidak mendapatkan kekuatan hukum.

Menurut para Imam Madzhab Fiqh poligami diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu seperti memiliki keadilan terhadap semua istrinya. Ada beberapa syarat poligami dalam Kompilasi Hukum Islam yang terdapat pada pasal 55-56. Pertama, batasnya berpoligami hanya memiliki empat orang istri saja.

Kedua, suami harus bisa berlaku adil terhadap istri=istri dan anak-anaknya. Ketiga, jika syarat berlaku adil tidak bisa dipenuhi maka suami tidak boleh berpoligami. Keempat, mendapatkan izin dari pengadilan Agama. Kelima, permohonan izin dilakukan seperti yang sudah diatur dalam Bab VIII Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975.

Keenam, perkawinan yang dilakukan dengan istri Ke-dua, Ke-tiga, atau Ke-empat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.

Menurut Para Ulama mengenai hukum poligami itu diperbolehkan ketika dalam situasi darurat seperti, istri yang telah divonis mandul yang menyebabkan tidak bisa memberikan keturunan, istri yang telah memiliki riwayat penyakit yang mematikan sehingga tidak dapat memenuhi sebuah kewajibannya terhadap suami.

Menurut Imam Syafi’i mengenai keadilan dalam poligami adalah seorang suami harus berlaku adil terhadap istri-istrinya, dan yang dimaksud dengan keadilan tadi adalah terkait masalah fisik misalnya seorang suai mengunjungi istri di malam atau siang hari, yang menurut ulama fiqh bahwa seorang suami.

Bagi suami yang ingin melakukan poligami terhadap istri pertamanya juga harus memiliki dana yang cukup untuk membiayai semua kebutuhan juga memperlakukan sama rata atau adil terhadap semua istrinya.

Menurut pendapat Imam Syafi’i mengenai masalah batasan memiliki empat orang istri yang ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah SAW sebagai penjelas yang ada di dalam firman Allah SWT yaitu tidak seorang pun yang boleh menikah lebih dari empat kali tidak terkecuali Rasulullah.

Di dalam buku Metodologi Fiqh Islam Kontemporer yang mengutip Muhammad Shahrur, ia menjelaskan bahwa Allah SWT tidak hanya membolehkan poligami, tetapi Allah SWT juga menganjurkan nya, dengan syarat bahwa istri yang ke-dua, ke-tiga, dan ke-empat itu adalah janda yang telah memiliki anak yatim.

Jika syarat-syarat tadi tidak terpenuhi maka jelas bahwa perintah untuk melakukan poligami tadi gugur. Poligami sendiri banyak terjadi di Indonesia terutama bagi para ustadz kondang yang banyak melakukan poligami seperti Ust. Muhammad Arifin Ilham, dan KH. Abdullah Gymnastiar atau yang sering kita sapa sebagai Aa Gym.

Menurutnya, pemahaman tersebut melahirkan istilah dikotomis, nikah sah secara agama dan juga sah secara negara. Tetapi jika sah secar agama saja tanpa mendapatkan surat nikah resmi dari Kantor Urusan Agama ataupun catatan sipil maka seorang suami akan mudah melakukan perceraian terhadap seorang istri tanpa menghadap ke Pengadilan Agama.

Bukan hanya itu saja, melainkan nasib sang anak dan istri tidak bisa mendapatkan warisan. Keadilam dalam melakukan poligami menurut Imam Syafi’i yang wajib dilakukan terhadap semua istrinya menganut beberapa poin. Pertama, keadilan untuk pembagian jadwal gilir yang dilakukan oleh suami terhadap istri ini sangat penting menurut.

Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibary yang menjelaskan apabila seorang suami bekerja pada siang hari maka sebaiknya melakukan penggiliran di malam hari, dan sebaliknya apabila suami bekerja di malam hari maka harus melakukan penggiliran di siang hari.

Dan jika suami telah bermalam dirumah istrinya yang seorang maka suami juga harus bermalam juga di rumah istri yang lain, jadi waktu giliran terhadap istri yang paling singkat yaitu satu malam, bsa dihitung mulai dari terbenamnya matahri hingga terbitnya sang fajar dan batas paling lama adalah tiga malam.

Kedua, keadilan seorang suami memberikan tempat tinggal untuk istri, bahwa yang namanya suami sudah wajib untuk menafkahi keluarganya terutama istrinya. Salah satu bentuk nafkah yang harus di berikan kepada istrinya adalah tempat tinggal yang nyaman.

Jadi, tuntutan seorang suami bukan hanya berlaku adil untuk pembagian penggilirian namun juga wajib memberikan tempat tinggal yang nyaman kepada istri-istrinya. Ketiga, keadilan dalam menafkahi beberapa istri juga hal sangat penting, selain menafkahi berupa tempart tingal yang nyaman, suamijuga menafkahi biaya kebutuhan hidup sang istri beserta pakaian untuk istri-istrinya.

Oleh : Muhammad Luthfi Rizal S, (Mahasiswa UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment