Polemik Pengajuan Bahasa Melayu Malaysia sebagai Bahasa Kedua ASEAN

Modernis.co, Malang – Usulan mengenai pengajuan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Asean kalah bersaing dengan penggunaan Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan dari segi populasi penduduk Indonesia sangat mendominasi kawasan ASEAN. Dengan dominasi populasi Indonesia, otomatis akan membuat Bahasa Indonesia lebih populer dibandingkan Bahasa Malaysia.

Sebagai contoh Bahasa Indonesia tersedia dalam aplikasi Duolingo di mana Bahasa Melayu tidak terdapat dalam Duolingo. Contoh lain adalah kreator yang berasal dari Indonesia  lebih banyak dari Malaysia dimana komentar dari warga Malaysia dapat ditemukan dengan mudah pada banyak pada video-video yang berasal dari kreator Indonesia.

Menurut data dari The ASEAN Population, masyarakat Indonesia mendominasi populasi ASEAN hingga 40%. Jika dibandingkan dengan Bahasa Malaysia yang berjumlah 4.88%, tentu popularitas Bahasa Indonesia lebih dominan jika dibandingkan dengan bahasa melayu Malaysia.

Bahkan Pak Nadiem menolak gagasan tersebut dengan berargumen “Dengan semua keunggulan yang dimiliki Bahasa Indonesia dari aspek historis, hukum, dan linguistik, serta bagaimana Bahasa Indonesia telah menjadi Bahasa yang diakui secara internasional, sudah selayaknya Bahasa Indonesia duduk di posisi terdepan, dan jika memungkinkan menjadi Bahasa pengantar untuk pertemuan-pertemuan resmi ASEAN.”

Malaysia memiliki suku mayoritas, suku Melayu. Bahasa utamanya adalah bahasa Melayu. Namun, realitasnya tidak semua orang menggunakan bahasa Melayu. Ada suku keturunan Tionghoa dan keturunan India yang tidak bisa bahasa Melayu. Mereka lebih nyaman menggunakan Bahasa Inggris. Sedangkan pemuda melayunya menggunakan bahasa campuran Melayu-Inggris.

Walaupun bahasa Melayu adalah bahasa resmi negara Malaysia, namun dalam praktiknya, bahasa Melayu jarang digunakan. Warganet, masyarakat sipil, artis, hingga iklan mereka memakai bahasa Rojak yang berarti Bahasa campuran dari bahasa Melayu, Mandarin, dan Tamil. Maka dari itu, tidak semua masyarakat Malaysia berbahasa Melayu dengan lancar. Di samping penggunaan bahasa, Malaysia terdiri dari beberapa suku yang didominasi oleh suku Melayu. Beberapa suku selain Melayu, seperti keturunan dari Tionghoa dan India, mereka jarang menggunakan Bahasa Melayu dan lebih nyaman menggunakan Bahasa Inggris.

Bagaimana caranya menyatukan 600 juta penduduk dengan satu bahasa tunggal? Atau bahkan 200 juta penduduk yang menganut paham yang berbeda. Jika dilihat dari bahasa luar seperti Bahasa Prancis yang digunakan sebagai bahasa resmi kedua Uni Eropa, hal ini wajar dikarenakan Bahasa Prancis sudah digunakan secara luas khususnya di Eropa Barat. Namun hal ini masih mendapat tantangan di bagian Eropa Timur meskipun Bahasa Prancis sudah menjadi bahasa kedua resmi Uni Eropa.

Bagaimana bahasa Melayu akan akan digagas menjadi Bahasa kedua ASEAN jika masyarakat Malaysia itu sendiri tidak sepenuhnya menggunakan Bahasa Malaysia dalam praktik keseharian? dan apakah negara-negara lain di ASEAN akan menyetujui gagasan mengenai Bahasa Melayu di mana tiap-tiap negara di ASEAN memilki kepentingan nasional nya masing-masing di mana pengaruh dari luar akan susah masuk.

Pada akhirnya, apakah pengajuan ini akan diterima oleh negara-negara di ASEAN? Menurut saya tidak, dikarenakan tiap-tiap negara ASEAN memiliki tendensi nasionalistis di mana saat ada negara lain ingin memaksakan nilai-nilai luar untuk masuk dalam negara mereka, mereka otomatis akan menolak gagasan seperti ini.

Oleh: Aldityra Damara, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Leave a Comment