Perspektif Makro dan Mikro Permintaan Jeruk Kota Batu Ketika Pandemi Covid-19

Modernis.co, Malang – Kota Batu merupakan daerah pemekaran wilayah di Provinsi Jawa Timur tahun 1993. Salah satu potensi Kota Batu sebagai Kota Agropolitan adalah beragamnya tanaman hortikultura baik itu buah-buahan maupun sayuran. Tanaman buah yang diusahakan di Kota Batu adalah apel dan jeruk. Semenjak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemik global sehingga permintaan buah-buahan segar melonjak. Salah satunya jeruk yang banyak diincar masyarakat karena diyakini dapat memenuhi asupan vitamin dan menjaga daya tahan tubuh untuk melawan virus-virus dalam tubuh.

Dampak yang ditimbulkan karena adanya Covid-19 ini pasar serta kios-kios yang menjual buah mengalami penurunan omset. Tingginya hasrat atau keinginan masyarakat mengkonsumsi jeruk berdampak positif bagi para petani dan penjual buah. Harga jual buah jeruk di masa pandemic di tingkat petani pun terbilang bagus. Ketika pandemik Covid-19 salah seorang petani jeruk di Dau Kabupaten Malang mengatakan jika hasil panen jeruknya melimpah dan langsung terserap dengan mudah oleh pasar dengan harga antara Rp. 8000 – Rp. 11.000/kg.

Selama bulan Agustus merupakan akhir musim panen buah jeruk sehingga pasokan buah berkurang. September sampai dengan Januari sudah tidak ada jeruk yang bisa dipanen. Disaat pandemic harga buah justru melambung tinggi dan petani mengaku belum sanggup memenuhi seluruh permintaan jeruk. Masyarakat makin sadar pentingnya memperkuat imunitas tubuh melalui konsumsi buah-buahan segar. Aneka jeruk yang dikonsumsi seperti jeruk lemon, jeruk siem, jeruk keprok hingga jeruk baby yang dicari konsumen.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kota Batu , pada tahun 2015 jumlah produksi jeruk 132,231 kw, tahun 2016 jumlah produksinya 141,253 kw dan pada tahun 2019 jumlah produksinya adalah 238, 436 kw maka dari itu dapat disimpulkan bahwa jeruk mengalami peningkatan dari segi produksinya. Di tengah pandemi Covid-19 permintaan jeruk semakin meningkat, salah satu petani jeruk di Kota Batu bisa mendapatkan omzet 20 juta sampai dengan 35 juta per bulan.

Buah jeruk selain mengandung vitamin c dengan dosis yang tinggi, jeruk juga banyak disukai oleh pelanggan karena bisa menyehatkan kulit, menjadi obat sariawan alami, bisa menguatkan kesehatan jantung serta bisa meningkatkan kinerja otak dan mengandung antioksidan yang cukup untuk penguatan imunitas tubuh. Banyak pembeli buah jeruk yang mendatangi petani jeruk untuk membeli buah jeruk sendiri dan menawarkan harga sendiri yang bisa dibilang harganya lebih tinggi dari yang ditetapkan oleh petani.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor buah-buahan pada bulan Februari 2020 sebanyak 14,5 ton turun 45% dibandingkan dengan impor di bulan sebelumnya. Hal tersebut menjadikan peluang untuk petani buah lokal mengisi pasar dan menggantikan buah impor yang harganya lebih murah. Aneka jenis jeruk yang laris ketika pandemi yaitu jeruk lemon, jeruk siem, jeruk keprok hingga jeruk baby yang banyak dicari oleh konsumen untuk dikonsumsi selama pandemic Covid-19.

Jeruk baby termasuk jenis jeruk yang special buahnya dicirikan memiliki kulit yang tebal berwarna hijau atau orange cerah, memiliki aroma yang harum, warna dagingnya putih sedikit kekuningan serta memiliki rasa yang manis. Jeruk baby ini banyak digemari oleh masyarakat karena bisa dikonsumsi semua kalangan termasuk bayi dan anak-anak. Kandungan asam buah jeruk baby diperkirakan 50% lebih rendah dibandingkan dengan jeruk-jeruk lainnya.

Oleh : Tanti Eka Rahmawati, Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment