Perkembangan Era Digital Bagi Pendidikan Anak

Modernis.co, Malang – Anak bukan hanya anugerah terindah yang diberikan oleh Sang Pencipta, tetapi juga titipan Allah SWT yang diberikan kepada orang tua yang layak dan siap untuk mendidik anak tersebut. Anak baru lahir kodratnya adalah suci dan kondisi anak akan tergantung pada orang tua tersebut. Seperti apa kedua orang tua itu maka anaknya juga akan seperti orang tua tersebut. Rasulullah SAW bersabda. “Setiap bayi dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majudi,” (HR. Bukhari).

Orang tua memiliki peran tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak, mengarahkan, mendidik dan mengajari. Tanggung jawab orang tua meliputi tanggung jawab materi, keimanan, moral, fisik, kejiwaan, akal, seks dan sosial. Tanggung jawab inilah yang disebut dengan bentuk pendidikan. Tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk membentuk anak-anak menjadi manusia yang sehat, cerdas, berkarakter mulia, berakhlak serta mampu menjadi generasi kuat dan memiliki masa depan yang cerah.

Agar semua ini terwujud maka orang tua harus mengetahui dan menerapkan pendidikan yang benar dengan tahapan perkembangan anak yang berlandaskan syariat Islam sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai sunnahnya. Orang tualah yang berperan penting untuk mengarahkan kehidupan anak kepada kebaikan atau keburukan, kebodohan atau kecerdasan, akhlak jahiliyah atau akhlak karimah.

Tanggung jawab orang tua tidak hanya ibu, namun ayah juga sangat berpengaruh dalam mendidik anak, dan hampir setiap waktu anak akan selalu bersama orang tua. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Seseorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarga dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan seorang wanita juga pemimpin di rumahnya dan ia bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Bangsa Indonesia saat ini, terutama pada setiap anak dan generasi muda sudah mengalami penipisan akhlak, sehingga pendidikan dalam Islam bisa menjadi salah satu solusinya. Pada masa anak-anak sedang berada pada masa  keemasan  (golden age) dan keberhasilan pendidikan pada usia emas ini sebagai penentu  keberhasilan anak pada masa remaja dan dewasanya, sehingga manti akan menghasilkan anak-anak yang berakhlak mulia dan mampu menjadi generasi emas dengan membawa cahaya kegemilangan bagi bangsa ini.

Pendidikan dalam Keluarga

Pendidikan anak dalam keluarga mencakup seluruh aspek dan melibatkan semua anggota keluarga, mulai dari  ibu, bapak dan anak-anak. Namun yang lebih penting adalah pendidikan itu wajib diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Anak bukanlah sekedar yang terlahir dari tulang sulbi, atau anak cucu keturunan saja, namun termasuk juga anak seluruh orang muslim dimana pun berada, yang kesemuanya adalah  termasuk generasi umat yang menjadi tempat bertumpu harapan kita, untuk dapat mengembalikan kesatuan umat seutuhnya.

Keluarga merupakan batu bata dalam bangunan suatu bangsa. Suatu bangsa terdiri dari kumpulan keluarga, jika rumah tangga rapuh dan lemah, maka  bangsa itu akan lemah. Oleh karena itu, setiap komponen dalam keluarga memiliki peranan penting. Dalam ajaran agama Islam, anak adalah amanah dari Allah SWT yang wajib dipertanggungjawabkan, sebagaimana Allah SWT telah memerintahkan dalam Qur’an surat At-Tahrim ayat 6. Kewajiban tersebut dapat dilaksanakan dengan mudah dan wajar karena orang tua mencintai anaknya. Manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan mempunyai sifat mencintai anaknya.

Era Digital

Istilah era digital merupakan perkembangan dari dunia teknologi yang terdiri atas seperangkat media yang tidak akan berfunsi jika berdiri sendiri. Sedangkan media digital adalah sebuah bentuk media elektronik dimana data dismpan dalam  format digital.

Digital berasal dari kata digitus,  dalam bahasa Yunani berarti jari jemari. Apabila kita hitung jari jemari orang dewasa, maka berjumlah sepuluh (10). Nilai sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0, oleh  karena ittu digital merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0 dan 1 atau off dan on. Semua sytem komputer menggunakan sistem digital sebagai basis datanya. Dapat disebut juga dengan sistilah Bit (Binary Digit). Contoh media digital antara lain adalah telepon genggam/ Hanphone (HP), Personal Digital Assistants (PDAs), Game Consoles, Netbook, laptop dan komputer, yang kesemuanya bisa diakses jika tersambung dengan internet.

Media sosial sebagai salah satu media online di era digital yang memungkinkan para pengguna dapat berpartisipasi untuk menciptakan dunia sendiri bagi para penggunanya. Media soaial seakan telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat era modern. Tanpa memandang usia, dari anak-anak sampai orang dewasa telah terlarut dalam nostalgia media sosial. Facebook, Twitter, Blog, Vlog, YouTube, Blackberry Massanger (BBM), Whatsapp (WA), Line, Skype, Instagram, e-mail dan aplikasi lainnya menjadi komunikasi digital yang begitu mendunia seakan menjadi rumah kedua tempat pelabuhan segala keluh kesah.

Dampak positif media digital terhadap sosial dan budaya diantarannya. Pertama, perbedaan kepribadian pria dan wanita. Banyak pakar yang berpendapat  bahwa semakin besar posrsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpinm baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.

Data yang tertulis dalam buku “Megatrend for Women From Liberation to Leadership” yang ditulis oleh Patricia Aburdene dan John Naisbitt menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membeesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politi, sebagai anggota parlemen, senator dan berbagai jabatan penting lainnya.

Kedua, meingkatnya rasa percaya diri. Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa yang semakin kokoh. Bangsa-bangsa baru tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia. Ketiga, Tekanan, kompetensi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.

Pendidikan Anak dalam Keluarga di Era Digital

Mendidik anak di zaman millenial perlu usaha ekstra jika dibandingkan dengan zaman puluhan tahun yang lalu. Perkembangan dunia digital tidak hhanya memberi kemudahan, namun juga dapat membuat jurang pemisah antara orangtua dan anak. Cara mendidik anak diera digital agar hubungan antara orang tua dan anak tetap terjaga.

Petama, persiapkan anak masuk era digital. Mengajarkan anak bahwa penggunaan gadget ada waktunya dan memilik batasnya. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak untuk dapat melihhat  situs yang tidak diinginkan. Maka orang tua harus mengedepankan komunikasi dengan anak sebagai pengganti gadget.

Kedua, persiapan anak masuk pubertas. Mayoritas orangtua merasa malu membicarakan masalah seks dengan anak dan terkadang cenderung menghindarinnya. Padahal pembicaraan itu justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti perkembangan usianya.

Ketiga, mengajarkan agama. Menjadi kewajiban orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanamkan sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agam tidak hanya sebatas bisa membaca Al-Qur’an, bisa berpuasa atau sekadar pergi ke masjid. Orang tua perlu menanamkan secara emosional agar anak mencintai aktivitas tersebut.

Keempat,  berbiacara secara baik-baik. Orang tua harus belajar berbiacara secara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau  mendengarkan perasaan anak.

Kelima, tujuan pendidikan yang jelas. Orang tua harus belajar berbicara secara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengarkan perasaan anak.

Oleh: Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment