Peran Kaum Intelektual di Masyarakat

Modernis.co, Lamongan – Sebagai kaum intelektual yang punya nilai tambah, mahasiswa untuk mampu memperankan diri secara profesional dan proporsional di masyarakat ataupun di dunia pendidikan. Peran mahasiswa tidak sekadar kegiatan pembelajaran di bangku perkuliahann, di perpustakaan dan akses internet yang ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang sedang ia tempuh tapi lebih dari itu.

Mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat. Oleh karena itu perlu dirumuskan perihal peran, fungsi dan posisi mahasiswa untuk menentukan arah perjuangan dan kontribusi mahasiswa tersebut.

Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis mahasiswa sering membuat perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Dan satu hal yang menjadi kebanggaan mahasiswa mahasiswa adalah semangat membara untuk melakukan sebuah perubahan.

Mahasiswa bukan hanya sekadar agen perubahan tapi mahasiswa sepantasnya menjadi agen pemberdayaan setelah perubahan yang berperan dalam pembangunan fisik dan non fisik sebuah bangsa yang kemudian ditunjang dengan fungsi mahasiswa selanjutnya yaitu social control, kontrol budaya, kontrol masyarakat dan kontrol individu sehingga  menutup celah-celah adanya kezaliman. Mahasiswa bukan sebagai pengamat  dalam peran ini, namun mahasiswa juga dituntut sebagai pelaku dalam masyarakat, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa merupakan bagian masyarakat.

Idealnya, mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma yang berlaku disekitarnya, dan pola berfikirnya. Namun, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mendalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya  yang berkontak dengan masyarakat, walaupun ada sebagian mahasiswa yang mulai melakukan pendekatan dengan masyarakat melalui program-progran pengabdian masyarakat.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangnya silaturrahim seiring hilangnya harapan masyarakat kepada mahasiswa. Maka dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh akan menyianyakan ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kualitas sumbangsih ilmu pada masyarakat.

Agent of Change

Kondisi bangsa saat ini jauh dari kondisi ideal, dimana banyak penyakit-penyakit masyarakat yang menghinggapi tubuh bangsa ini, mulai dari pejabat-pejabat atas hingga bawah dan tentunya menular pula kepada rakyatnya. Sudah seharusnya kita melakukan perubahan terhadap hal ini. Alasan selanjutnya mengapa kita harus melakukan perubahan adalah karena perubahan itu sendiri merupakan harga mutlak dan pasti akan terjadi.

Sudah jelas kenapa perubahan itu perlu dilakukan dan kenapa mahasiswa harus menjadi garda terdepan dalam perubahan tersebut, lantas dalam melakukan perubahan tersebut haruslah dibuat metode yang tidak tergesa-gesa, dimulai dari ruang lingkup terkecil yaitu diri sendiri, lalu menyebar terus hingga akhirnya sampai ke ruang lingkup yang kita harapkan, yaitu bangsa ini.

Sadar atau tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati  diri kita sebagai mahasiswa dan bangsa Indonesia. Untuk itu mengubah sebuah system, hal utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri.

Social Control

Mahasiswa menjadi panutan dalam masyarakat, berlandaskan dengan pengetahuannya, dengan tingkat pendidikannya, norma-norma  yang berlaku  di sekitarnya dan pola berfikirnya. Namun,  kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan, mahasiswa cenderung hanya mendalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan dan sedikit sekali diantaranya yang berkontak dengan masyarakat, walaupun sebagian mahasiswa yang mulai melalui pendekatan dengan masyarakat melalui program-program pengabdian masyarakat.

Sikap kritis dan pro aktif untuk dimiliki oleh mahasiswa bukan hanya sebagai pengamat dan penilai atas suatu aktifitas yang kemudian disampaikan dengan pedas melalui orasi (demo) tapi partisipasi aktif dengan masyarakat dan sampaikan temuan dan ide-ide perbaikan dengan logis dan santun.

Mahasiswa yang acuh terhadap masyarakat akan mengalami kerugian yang besar jika ditinjau dari segi hubugan keharmonisan dan penerapan ilmu. Dari segi keharmonisan, mahasiswa tersebut sudah menutup diri dari lingkungan sekitarnya sehingga muncul sikap apatis dan hilangya silaturrahim seiring hilangya harapan masyarakat kepada mahasiswa.  Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh akan menyiapkan  ilmu yang didapat di perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi sangat kurang kuantitas sumbangsih ilmu pada masyarakaat.

Kita sebagai mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian sosial yang peduli terhadap masyarakat karena kita adalah bagian dari mereka. Kepedulian tersebut tidak hanya diwujudkan dengan demo atau turun kejalan saja. Melainkan dari pemikiran-pemikiran cemerlang mahasiswa, diskusi-diskusi atau memberikan bantuan moril dan materil kepada masyarakat dan bangsa kita dengan cara memberikan sumbangsih secara nyata.

Iron Stock

Mahasiswa juga dapat menjadi Iron Sttock, yaitu mahasiswa diharapan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-genrasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaanya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.

Sejarah telah membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialismem hingga reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan perubahan kondisi bangsa.

Mahasiswa sebagai iron stock berarti mahasiswa seorang calon pemimpin bangsa masa depan yang akan  menggantikan generasi yang telah ada. Sehingga tidak cukup seorang mahasiswa  hanya belajar study saja namun pengalaman kepemimpinan juga harus dimiliki sehingga ketika lulus nanti seorang mahasiswa akan memiliki kemampuan memposisikan diri di dalam masyarakat.

Moral Force

Mahasiswa dituntut utuk memiliki akhlak yag baik, karena mahasiswa berperan sebagai teladan di  tengah-tengah masyarakat. Segala tingkah laku mahasiswa akan diamati dan diniai oleh masyarakat. Untuk itu mahasiswa harus pandai menempatkan diri dan hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat.

Dari keempat itulah, peran yang ideal dan seyogyanya harus dilakukan oleh mahasiswa, implementsi dari peran tersebut dapat terwujud apabila mahasiswa memahami dan menjalani nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri Darma Perguruan Tingg, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Betapa pentingnya peran mahasiswa untuk membangun bangsa ini ke arah  yang lebibb baik. Untuk itu kita sebagai mahasiswa diharapkan tidak hanya sekadar belajar mencari IP setinggi-tingginya namun kita juga harus berkontribusi nyata di tegah-tengan masyarakat. Karena mahasiswa adalah salah satu unsur terpenting dalam pembangunan bangsa.

Oleh: Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment