Pendidikan Seks dan Urgensinya

Modernis.co, Malang – Pendidikan seks atau Sex education merupakan salah satu hal yang perlu diajarkan kepada generasi muda pada umumnya, terlebih lagi kepada generasi milenial yang hidup pada saat ini. Hal ini penting untuk dilakukan, sebab kurangnya pengetahuan banyak orang terhadap batasan-batasan yang perlu diperhatikan antara perempuan dan laki-laki. Akibat banyaknya khalayak yang kurang mengerti mengenai apa saja kode etik yang perlu diperhatikan ketika terjadi interaksi antara laki-laki dan perempuan.

Banyak terjadi pelanggaran norma yang dilakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab. maka dari sanalah timbullah Kejadian-kejadian yang melanggar norma contohnya adalah pelecehan seksual yang menjadi teror tersendiri bagi kaum perempuan dan hal ini tentunya sangat meresahkan masyarakat.

Terdapat banyak kasus pelanggaran norma berupa pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat, seperti yang baru-baru ini terjadi di Kota Malang, tepatnya di daerah Dinoyo. Kejadian tersebut membuat geger masyarakat setempat. Kasus pelanggaran norma berupa pelecehan seksual yang terjadi adalah pembegalan payudara oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap seorang pegawai wanita yang tinggal di daerah Dinoyo.

Kejadian tersebut tertulis dalam kolom berita Momentum Malang. Diberitakan bahwa seorang karyawati berinisial BY (27) asal Sumberpucung, Kabupaten Malang yang tinggal di indekos Jl. MT Haryono VIII, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada hari Jumat (21/01/2021) pukul 19.52 WIB menjadi korban begal payudara. Pelaku meremas payudara korban saat berada di Jl. MT Haryono Gang XA, Kelurahan Dinoyo. Kejadian ini sempat membuat korban mengalami syok dan merasa trauma.

Berdasarkan contoh kejadian di atas, dapat diketahui bahwa kurangnya pemahaman si pelaku mengenai norma yang perlu diperhatikan ketika berinteraksi dengan lawan jenis, ini juga menjadi PR bagi penegak hukum di indonesia, selain dihukum dengan setimpal penjahat seks seperti ini juga perlu diberi edukasi seks agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang telah dia perbuat lantaran kesadaran secara pemahaman dan simpati.

Bukan semata-mata karena takut terjerat hukum saja. Walaupun semua orang mengetahui bahwa norma-norma dalam kehidupan ada banyak macamnya dan batasannya. Hal yang perlu digarisbawahi adalah apakah tersangka mengetahui dan memahami dengan baik dampak yang terjadi pada korban atas perbuatan yang dilakukannya? apa yang akan didapat oleh pelaku dan korban setelah melakukan hal tersebut?

Tindakan yang dilakukan si pelaku dengan jelas disebutkan dalam pasal 289 s.d. 296 KUHP BAB Pencabulan. Hal ini dapat menjadi alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan pelaku termasuk ke dalam ranah pelecehan seksual. Tentunya kejadian tersebut dapat di proses secara hukum karena adanya perlakuan yang melanggar dan dilakukan secara fisik. Korban pun juga mendapatkan dampak negatif setelah mengalami kejadian tersebut, yakni serangan psikis yang menyebabkan adanya trauma mendalam.

Bisa saja akibat kejadian tersebut, korban menjadi takut bepergian keluar rumah sendirian atau adanya kecurigaan berlebihan terhadap orang yang berlalu lalang dan juga teman-teman yang berada di sekitarnya. Berdasarkan kemungkinan-kemungkinan tersebut korban akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sosial ke depannya. Kemungkinan terburuk dari kejadian tersebut bahkan bisa sampai membuat korban memerlukan penanganan khusus dari pihak ahli untuk menghilangkan trauma tersebut.

Berbanding terbalik dengan kasus yang beberapa hari yang lalu terjadi, adanya kejadian seorang perempuan masuk penjara lantaran membunuh korban karena membela dirinya agar tidak diperkosa yang terjadi di NTT. Apakah bisa dikatakan bahwa si pelaku ini korban dari kecacatan hukum? Tidak juga, karena si pelaku tidak mengindahkan norma-norma hukum yang ditegakkan di Indonesia. Yakni tidak boleh membunuh dalam berkehidupan berbangsa dengan alasan apapun.

Lalu apa yang harus dilakukan si wanita agar dia menjadi seseorang yang benar dimata hukum, seharusnya si pelaku melaporkan kejadian asusila tersebut kepada pihak yang berwenang agar tidak  berlarut-larut dan terjadinya pembunuhan tersebut.

Itulah mengapa sex education itu merupakan hal yang sangat penting dan perlu diajarkan kepada masyarakat luas, terutama kepada generasi masa kini. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi lagi kejadian-kejadian serupa di masa yang akan datang. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi setiap orang tua untuk mengawal pendidikan seks bagi anak-anaknya sejak usia dini.

Perlu diperhatikan bahwa sex education tidak serta merta hanya larangan soal melakukan seks sebelum menikah atau dampak negativ yang ditimbulkan saat melakukan sex sebelum waktunya, ini adalah kebiasaan yang perlu di perbaiki dalam pendidikan sex dikalangan orang tua kepada anaknya.

Seharusnya pendidikan seks kepada remaja lebih ditekankan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab, dan adanya pendampingan secara berkala dari orang tua mengenai seks itu sendiri. Lebih spesifik lagi diajarkanlah kepada si anak jika dikemudian hari mereka mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari pihak terdekat ataupun orang lain, langkah-langjah apa yang harus mereka lakukan.

Dari situ maka akan terbentuk mental si anak yang siap dalam hal pengetahuan dan psikis mereka, untuk mewaspadai kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dan tidak berdampak kepada kelalaian-kelalaian yang tidak diingankan pula.

Dari situ mereka akan berfikir lebih rasional dan lebih bijak dalam memilih keputusan untuk tidak melakukan seks sebelum menikah, atau menjauhi perbuatan yang berhubungan dengan pelecehan seksual dan sejenisnya. Dan juga dengan begitu mereka akan lebih bisa menghargai lawan jenis mereka dan berfikir bahwa perbuatan mereka nantinya akan bisa merugikan diri sendiri dan orang lain di sekitar mereka.

Oleh: Ahmad Haidar Mumtazan (Mahasiswa FAI UMM, Aktivis IMM Tamaddun)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment