Nasib Pertanian di Tangan Milenial

Modernis.co, Malang – “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”  Kalimat legendaris dari presiden pertama republik Indonesia, Soekarno ini sejatinya telah menggambarkan bagaimana pemuda yang memiliki jiwa berkobar, raga yang kuat, dan pemikiran yang kritis merupakan aset besar bagi sebuah bangsa seperti halnya Indonesia.

Indonesia sendiri digadang-gadang akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030 di mana populasi masyarakatnya akan didominasi oleh orang-orang berusia produktif yakni 15 hingga 60an tahun. Tahun ini sendiri data BPS menunjukan bahwa 24,02%  penduduk Indonesia diisi oleh pemuda. Namun, bonus demografi akan benar-benar terjadi apabila pembangunan ekonomi terlaksana dengan baik dan merata.

Pembangunan ekonomi yang baik tentu akan menghasilkan lapangan pekerjaan yang luas dan ketersediaan sumber daya manusia yang unggul yang akan menjadi potensi besar untuk keberhasilan bonus demografi sehingga menjadikan cita-cita Indonesia emas dapat terwujud.

Salah satu sektor penting yang perlu diperhatikan untuk menghadapi puncak dari bonus demografi 2030 ialah sektor pertanian. Sebab, sektor ini tidak kalah vital dibandingkan sektor-sektor penyokong ekonomi lainnya. Tentu hal ini tidak terlepas dari julukan Indonesia sebagai negara agraris.

Sektor pertanian juga perlu untuk dipertimbangkan dalam pembangunan ekonomi untuk menghadapi bonus demografi karena menurut data BPS tahun 2019 sebesar 33,4 juta orang Indonesia bekerja di sektor pertanian, sektor pertanian jugalah yang mencukupi kebutuhan pangan kita yang tidak dapat dipungkiri sebagai seorang manusia kita pasti perlu makan.

Data BPS juga menunjukan bahwa rentang pertengahan 2019-pertengahan 2020 sektor pertanian juga mengalami kenaikan tenaga kerja sebesar 2,78 juta. Hal ini menunjukan bahwa di masa pandemi Covid-19 sektor pertanian masih menjadi sektor yang mumpuni untuk dikembangkan.

Terlepas dari adanya kebijakan dan gonjang-ganjing kenaikan dan penurunan harga, seperti yang sedang ramai saat ini, yakni menurunnya harga telur yang membuat para peternak mengeluh, atau beberapa bulan lalu ketika harga cabai juga turun sangat drastis. Terlepas dari hal-hal ini sektor pertanian masih dianggap sebagai sektor yang kuat dalam menghadapi pandemi.

Sayangnya besarnya peluang dan tingginya harapan pertanian sebagai salah satu sektor penyokong bonus demografi tidak diimbangi dengan adanya sumber daya manusia yang mumpuni, juga masih adanya problem-problem seperti penyempitan lahan pertanian, transformasi teknologi yang belum merata, dan subsidi pupuk serta bibit yang juga menjadi polemik.

Berbicara mengenai sumber daya manusia di bidang pertanian, sudah tidak asing lagi bagi beberapa praktisi di bidang pertanian tentunya, bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini justru sedang mengalami penuaan petani, yakni pergeseran minat pemuda dari menjadi petani ke sektor lainnya, dan pekerjaan petani di dominasi oleh kaum tua.

Bahkan juga muncul anekdot yang menggambarkan bahwa pekerjaan petani sekian tahun yang akan datang hanya akan  menjadi sejarah atau bahasa sederhananya ialah punah. Data badan pusat statistik tahun 2019 lalu juga menunjukkan bahwa dari 33,4 juta orang yang bekerja sebagai petani, persentase petani mudanya hanya sebesar 8%.

Hal ini disebabkan karena beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya minat pemuda bekerja sebagai petani. Seperti, ego sosial yang menganggap pekerjaan sebagai petani kurang dihormati, pekerjaan di bidang pertanian dianggap kotor dan panas sehingga lebih baik bekerja di sektor lain yang dianggap lebih nyaman, peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dinilai kurang sehingga petani dianggap tidak berprospek dan pemuda memilih pekerjaan dengan income yang lebih menjanjikan, penyempitan lahan, dan beberapa permasalahan lainnya.

Menanggapi hal ini, menteri pertanian memiliki beberapa program seperti transportasi pertanian tradisional ke modern, pemberian bantuan alat mesin pertanian (alsintan), dan pembangunan polbangtan. Namun, hal ini juga dianggap kurang merata sehingga kesejahteraan petani juga msih dianggap oleh sebagian orang sebagai kesenjangan.

Apabila hal ini terus terjadi maka, akan sangat berpengaruh buruk terhadap keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia. Sebab, apabila antar masyarakat dan pemerintah bersinergi untuk memajukan sektor pertanian dan pemuda kembali memiliki minat di bidang pertanian. Sejatinya, pemuda tentu lebih melek teknologi dibandingkan para petani kaum tua saat ini.

Pemahaman pemuda terhadap teknologi sudah barang tentu akan menciptakan keberlanjutan pertanian yang lebih bernilai. Pemuda sendiri saat ini, beberapa telah melakukan banyak inovasi yang menjadikan spekulasi bahwa petani itu tidak dihormati bisa dikikis.

Seperti adanya start-up, sistem pemasaran Online, serta inovasi di bidang rekayasa genetika, juga kerja sama dengan perusahaan-perusahaan nasional merupakan salah satu langkah awal pemuda untuk tetap eksis bekerja di sektor pertanian pada revolusi industri 4.0 ini.

Langkah hebat para pemuda ini tentu menghasilkan nilai ekonomi yang tidak sedikit, banyak petani milenial yang memiliki penghasilan tidak kalah tinggi dari pegawai dengan keberhasilannya membangun start-up di bidang pertanian dan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar.

Inovasi baik dari pemuda ini sudah semestinya memperoleh dukungan dari banyak pihak, seperti pemerintah dan masyarakat sendiri. Sebab, apabila hal ini terus dikembangkan maka sistem pertanian 4.0 yang lebih menjanjikan, menghasilkan, dan tidak lagi dinilai negatif akan terlaksana, sehingga tidak menutup kemungkinan pula untuk sektor pertanian mampu bersaing dan menjadi salah satu sektor pendukung terlaksanakannya puncak bonus demografi di tahun 2030. Semua ini juga kembali di tangan pemuda yang juga menjadi salah satu penentu nasib pertanian negeri ini.

Oleh: Anggita Ayunda Sakuntala (Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment