Merajarelanya Gadget dalam Pendidikan Agama Islam

Modernis.co, Malang – Perkembangan zaman akan hal kecanggihan teknologi kini telah melahirkan fenomena yang memprihatinkan serta menjadi suatu tantangan besar dalam dunia pendidikan, yakni dengan lahirnya generasi gadget. Istilah “Generasi gadget” merupakan salah satu fenomena dalam kehidupan yang berlatar belakang dari munculnya komunikasi gawai (gadget).


Komunikasi gawai (gadget) telah mendarah daging pada seluruh lapisan kemasyarakatan. Sehingga sikap apatis, pragmatis dan ingin mencapai tujuan secara instan terus mewabah hingga pada sendi-sendi kehidupan. Gadget telah menggantikan posisi teman bermain anak dalam proses pertumbuhan serta perkembangannya.


Sehingga, peran kompleks teman sebaya sebagai pembentuk kepribadian hanya tinggal sejarah masa lalu belaka. Rasa peduli, rasa memiliki serta kesetia kawanan kini telah berubah menjadi rasa kebersamaan atas dasar kepentingan. Istilah gadget sendiri tentu mustahil menjadi masalah dan suatu tantangan, tanpa diiringi kata internet didalamnya.


Mungkin inilah yang dianggap menjadi suatu tantangan serius bagi orang tua dan guru dalam menghadapi generasi gadget sendiri, yakni ketika istilah gadget telah terhubung dengan kata “Internet”. Akhir-akhir ini, ketergantungan pada gadget dan internet sudah tak lagi menjadi hal yang tabu.


Sebagai contoh dalam dunia pendidikan, yang mana segala tindakan serta hasil dari pemikiran siswa kini tak lagi bersifat alamiah dari daya berpikirnya, melainkan semua itu merupakan wujud dari tindakan ambil referensi dari internet. Dalam hal ini salah persepsi dalam mengartikan fungsi dari internet merupakan akar dari masalah ketergantungan siswa, bahwa di sini internet telah dianggap sebagai patokan atau dasar dari setiap tindakan.


Sehingga seringkali kita jumpai seorang anak yang bertindak amoral, membangkang jika di nasehati, bahkan sampai terjerumus pada jurang kriminalitas. Sungguh memprihatinkan jika tidak ada tindakan preventif dalam penanganan masalah tersebut, karena pada saat seperti itulah tindakan meyimpang seolah-olah akan mejadi hal yang wajar bagi generasi milenialis.


Dengan munculnya komunikasi gawai (gadget) pada dunia pendidikan, tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru. Fenomena tersebut tidak bisa dipungkiri, bahwa dengan munculnya komunikasi gawai (gadget) menjadikan daya semangat belajar anak-anak berkurang.


Mereka lebih dimanjakan oleh internet yang bisa dengan cepat menjawab pertanyaan serta melayani kebutuhan mereka serta menjadikan mereka fokus pada kehidupan maya dan meninggalkan kehidupan nyata. Sehingga yang timbul pada diri mereka hanyalah sikap egois serta apatis pada realita yang sedang terjadi.


Karakter serta moral pada seorang anak penyandang julukan ”Generasi gadget” sangatlah memprihatinkan, mereka tidak lagi bisa menghargai keberadaan orang disekitarnya bahkan berani menentang orang tua serta gurunya sendiri.


Bahkan, seringkali dalam proses pembelajaran, internet bukan semata hanya sumber rujukan dalam mencari informasi seputar ilmu pengetahuan saja, melainkan mereka sudah mulai berani membuka konten negatif dari internet itu sendiri.


Penafsiran salah dari anak-anak terkait definisi era milenial, bahwa era milenial merupakan era dimana kebebasan menjadi norma utama serta pijakan dasar dalam bertindak menjadi penyebab untuk bertindak amoral serta sebagi gerbang pembuka ketidak teraturan dalam segala bidang tindakan anak.


Sebagaimana seperti yang telah terjadi tersebut, bahwa generasi milenialis tidak lagi memperhatikan norma-norma yang ada, melainkan mereka berprinsip bahwa internet adalah segalanya. Alhasil ialah, penyimpangan terjadi dimana-mana, banyak kasus tawuran antar pelajar, hamil diluar nikah, serta tindak kriminal lainnya.


Lingkungan dalam hiruk pikuk kehidupan anak jaman sekarang yang semakin tidak teratur menjandi suatu alasan perlunya di teguhkan kembali pendidikan agama sebagai suatu solusi dalam perbaikan moral siswa di era milenial. Sebagaimana kedudukan pendidikan agama diera milenial merupakan suatu jembatan dalam langkah membentengi siswa dari segala tindakan yang bersifat negatif diera milenial khususnya.


Pendidikan Agama didefinisikan sebagai dasar dalam menciptakan moral ketaqwaan serta keimanan dalam menciptakan kepribadian peserta didik yang berintegritas tinggi serta memiliki sikap yang mampu menciptakan peserta didik agar mampu melaksanakan peranan dalam menuntut pengetahuan tentang ajaran agama.


Disamping itu, harapan lebih dari pendidikan agama adalah sebagai wujud realisasi revolusi moral remaja sebagai penyandang istilah “Generasi milenial” yang semakin lama semakin memburuk. Munculnya berbagai bentuk pembaharuan dalam peningkatan kualitas kehidupan seperti munculnya komunikasi gawai (gadget), tentu menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pendidik.


Sebagaimana telah dirumuskan, bahwa fitrah manusia adalah sebagai mahluk yang selalu ingin berubah dan menghendaki perubahan. Sehingga dalam konteks tersebut, dapat disimpulkan bahwa segala bentuk pembaharuan dalam bentuk apapun diera milenial tak lagi bisa dihindarkan.


Inilah yang seharusnya menjadi tugas tersendiri bagi tenaga pendidik di era milenial yakni dengan cara menjadikan bentuk perubahan tersebut sebagai media perbaikan moral peserta didik. Dengan adanya perubahan dalam berbagai tatanan kehidupan, maka pantasnya para generasi milenialis bertindak secara produktif, konservatif dan menemukan berbagai hal baru guna memperbaiki tatanan kehidupan.


Akan tetapi justru berbanding terbalik, bahwa mereka yang mendapat label “Generasi milenial” tidak lagi bertindak secara produktif dan konservatif seperti apa yang diharapkan sebelumnya, tetapi malah justru bertindak destruktif. Atau juga bisa dikatan, mereka bertindak secara produktif tetapi diikuti dengan perilaku destruktif pula, seperti halnya yang sekarang ini sedang marak-maraknya beredar dalam berita yakni terkait air rebusan pembalut.
Disinilah peran pendidikan agama sangat diperlukan, guna mengukuhkan kepribadian dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan sehingga generasi milenalis sadar akan manfaat serta resiko dari apa yang mereka lakukan.

Dikarena perubahan dalam pandangan relatifitas tidak dapat dihindarkan, maka yang perlu dilakukan adalah pengintrogasian nilai-nilai perubahan dengan nilai-nilai keagamaan kedalam dunia pendidikan.

Dalam proses perbaikan moral generasi milenial, maka langkah pertama yang harus dilakukan seorang guru ialah ia harus mampu berkreasi dalam memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran dalam penanaman nilai-nilai karakter pada peserta didik. Pengubahan serta menjadikan bentuk peluang menjadi syarat utama dalam kiat tindakan konservatif.


Karena alasan yang pasti, mengapa sering terjadi penyimpangan oleh peserta didik dalam penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran?, satu diantaranya ialah peserta didik lebih canggih dibandingkan guru dalam mengoperasikan teknologi. Sehingga dalam hal ini tidak ada alasan lain untuk tidak bisa menggunakan teknologi bagi guru bidang studi keagamaan dalam memanfaatkan teknologi pada proses pembelajaran.


Karena, dengan adanya Merajarelanya Gadged Dalam Kesampingan Pendidikan Agama Islam antara bentuk perubahan dengan model pembelajaran, maka akan berdampak positif pada proses KBM itu sendiri. Pada hakikatnya seorang anak membutuhkan kekuatan jasmani, akal ilmu dan anak-anak juga membutuhkan pula pendidikan budi pekerti, perasaan, kemauan, cita rasa dan kepribadian.


Dalam kata lain, seorang peserta didik tidaklah berguna jika ia memiliki ilmu yang tinggi tanpa disertai dengan akhlak yang baik pula. Sebagaimana nantinya akan timbul ketidak jujuran dalam diri peserta didik kelak ketika ia terjun di dunia kerja, seperti melancarkan aksi korupsi, kolusi, suap dan segala bentuk penyimpangan lainya.


Dalam hal ini jelas bahwa perlunya keseimbanga antara ilmu pengetahuan serta spiritualitas peserta didik. Oleh karena itu, mungkin tingkat pengetahuan para peserta didik terhadap ilmu pengetahuan akan membawanya kearah kemajuan, namun hanya dengan spirituallah seseorang akan dinilai sebagai orang yang baik atau buruk, patut kekal menjadi seorang pejabat atau berakhir pada jeruji besi.


Inilah makna sebenarnya dari fungsi moralitas itu sendiri, yakni yang akan menghantarkan kearah mana kita melangkah. Dalam segala tindakan para peserta didik yang tanpa ada pengawasan ekstra, maka akan dengan mudah terjadi beragam penyimpangan dalam setiap tindakannya.


Disinilah pendidikan agama harus tampil pada baris terdepan dalam penanganan moralitas siswa yang semakin memburuk, serta sebagai pengawasan guna penunjang terwujudnya realisasi sikap para peserta didik yang terintegrasi dengan iman serta akhlakul karimah dalam mengekang tindakan amoral bagi generasi milenialis.

Oleh : Firdausyah Irani (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Prodi Pendidikan Agama Islam)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment