Menyoal Eksistensi Mahasiswa dan Kegagapan Literasi

Modernis.co, Depok – Membaca merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan pengetahuan, dari yang sebelumnya belum tahu menjadi mengerti dan paham. Namun masih disayangkan, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Bergitu pun pemuda dan mahasiswannya. Mahasiswa lebih suka ngobrol dari membaca. Data dari UNESCO, minat baca masyarakat Indonseia hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia Cuma 1 orang yang rajin membaca.

Hal ini sangat bertentangan dengan budaya bangsa bangsa maju yang beranggapan bahwa dalam setiap  problem besar selalu yang dilihat “ what wrong with our education?”. Artinya suatu bangsa maju manakala punya sebuah masalah,  akar yang harus pertama dicari dan diselesaikan adalah akar  pendidikan. Karna jika pendidikannya benar, akan benar seorang itu, akan benar bangsanya. pun jika terdapat kesalahan maka pendidik atau orang disekitarnya lah yang memberi contoh pendidikan salah.

Mahasiswa yang disematkan sebagai garda perubahan sudah cukup mengkhawatirkan, bahkan organisasi organisasi yang menamakan aktor intelek banyak yang tidak kompeten. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Per Agustus 2019 jumlah pengangguran lulusan Universitas mencapai 5,67 persen dari total angkatan kerja sekitar 13 juta orang.

Dapat  disimpulkan para lulusan universitas masih banyak yang belum mampu kompeten dibidangnya dan belum siap menghadapi dunia nyata. Terlebih banyak lulusan yang bekerja bukan pada bidang yang linear dengan jurusan yang diambil.

Hal ini tak terlepas dari kecendrungan buruk mahasiswa yang belum sadar akan dharma pertama pada tri dharma perguruan tinggi. pendidikan dan pengajaran. Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tanpa proses belajar yang di awalai dengan kesadaran membaca, tentunya SDM unggul dan berkualitas akan minim dihasilkan dan tentunya akan berefek kepada proses pembangunan bangsa.

Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dari membaca, sehingga tak salah sebuah ungkapan “ good leader is a good reader”. Seorang pemimpin yang baik akan terlahir saat ia mampu membaca secara verbal, membaca lingkungan, menggunakan akal fikirnya.

Islam sendiri meletakkan pendidikan yang monumentalnya sendiri adalah wahyu pertama yaitu “iqra’ “. Artinya “bacalah”. Iqra’ dalam ayat pertama yang diturunkan Tuhan merupakan kata perintah yang tidak memiliki objek. Sehingga saat kalimat itu tidak memiliki objek artinya kembali ke asal kata tersebut. Iqra’ dapat diartikan membaca, berliterasi, kegiatan berfikir, bernalar, dan bahkan kemampuan seorang membaca lingkungan.

Hal yang cukup disayangkan pada organisasi kemasiswaan salah satunya kebebasan berfikir yang tidak didahului oleh ilmu, sehingga pergerakan yang ada terkesan pragmatis bahkan sudah jauh dari esensi penyambung aspirasi masyarakat.

Sudah selayaknya organisasi kemahasiswaan menjadi motor penggerak literasi dilingkungan kampus yang masih cenderung rendah. Iklim organisasi yang hanya sekedar menjadi tempat berkumpul, nongkrong, dan banyak menghabiskan waktu dengan hal yang kontra produktif harus dirubah menjadi perkumpulan wadah ber literasi dan diskusi.

Gerakan ini dapat dimulai dengan beberapa langkah dasar. Pertama, setiap Badan Pengurus harian atau jajaran atas organisasi mahasiswa itu haruslah berilmu dan mempunyai kesadaran untuk mencerahkan anggota organisasinya untuk sadar akan pentingnya literasi. Tentu terpilihnya jajaran atas atau BPH menjadikunci, jika mereka terpilih karena kelayakan dan kecakapan maka akan benarlah organasasi itu, jika tidak maka sebaliknya.

Kedua, organisasi haruslah menjadi mediator dan wadah untuk setiap kegiatan literasi. Organisasi pun harus mulai cerdas mengemas bentuk literasi agar sesuai dengan zaman dan peminatan mahaisswa. Tidak bisa dipungkiri bahwa era generasi z dan millenial sangat bertergantungan dengan tekkhnologi, termasuk handphone.

Tak jarang ditemukan mahasiswa yang lulus tanpa kecakapan dibidangnya atau dibidang lain. Kecerdasan dari pengurus organisasi sangat dibutuhkan dalam hal ini. Ketiga, organisasi  harus menjadi fasilatator fisik dan nonfisik. Fasilitas fisik bisa dalam bentuk pengadaan perpustakaan, atau penulisan esai rutin, dan ngobrol santai yang terselip  disitu nilai nilai literasi. Nonfisik dapat dibangun salah satunya dengan membuat kesadaran bahwa setaiap anggotanya harus memeiliki wawasan, terkait ilmu dibidang masing masing, pengetahuan terkini tentang teknologi, dan isu isu terkini.

Oleh: Mikdad Nizam (Kader Himpunan Mahasiswa Islam Depok)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

One Thought to “Menyoal Eksistensi Mahasiswa dan Kegagapan Literasi”

  1. […] baca juga: Menyoal Eksistensi Mahasiswa dan Kegagapan Literasi […]

Leave a Comment