Meneropong IPM: Meneguhkan Kembali Slogan Nuun Walqalami Wamaa Yasturuun

Modernis.co, Lamongan – Tulisan ini sebagai kado milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke-60. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah di lingkungan pelajar, slogan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tentu bernuansa pada tujuan Muhammadiyah itu sendiri, yang orientasinya adalah membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara kaffah.

Aktualisasi Islam yang kaffah tidak sekadar terlihat dari ritualitas ibadah, melainkan juga menuntut penganutnya menjadi muslim unggul dalam hal akhlak sosial dan muamalah. Untuk itu, sebagai perpanjangan tangan Muhammadiyah di lingkungan akademisi, IPM perlu mempertajam kembali slogan IPM dalam tubuh IPM dan aktualisasi gerakan pada setiap kader-kader IPM. Slogan inilah yang menjadi pelecut semangat kader IPM yang digelari IPMawan dan IPMawati.

Aktualisasi semangat yang hadir dan mesti dikembangkan oleh kader IPM ialah istilah “nuun walqalami wamaa yasturuun.” Slogan ini prinspnya adalah fase awal yang mesti dijalankan dan dilewati oleh segenap kader IPM.

Oleh karena itu, kader IPM hidup di lingkungan yang akademik atau dalam bahasa lain berada dalam lingkungan keluarga (persyarikatan) yang utuh, terdiri atas ayah (Muhammadiyah), ibu (Aisyiyah) dan saudara kandung, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Tapak Suci, serta ortom lainnya sudah sangat layak tumbuh dengan sehat dan subur.

Secara sosiologis, perkembangan suatu hal itu sangat erat kaitannya dengan suasana dan budaya yang mengelilinginya. Dengan teori tersebut, IPM telah nyata mendapat dukungan penuh, hanya saja cara (metode) pembacaan segenap kader dan secara khusus setiap tingkat kepemimpinan di internal IPM-lah yang dituntut dapat memaksimalkan kekayaan alamiah itu, Apalagi, era globalisasi dan fase distorsi yang kini hadir di tengah-tengah kehidupan umat manusia sudah semakin menagih potensi IPM dalam mengisi ruang-ruang publik, bahkan, ruang kepemimpinan.

Haedar Nashir, ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan, dalam rangka menghadapi perubahan zaman yang sangat cepat, IPM memiliki tugas untuk mentransformasikan nilai-nilai dasar kepada kehidupan pelajar.

Tugas tersebut tercermin dari slogan IPM yang sangat kuat “demi pena dan segala apa yang dituliskannya”. Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengaitkan ayat ini dengan firman Allah QS. al-Alaq tentang pentingnya membaca. Slogan ini harus mampu menjadi kekuatan dalam menggerakkan roda organisasi serta memajukan semesta.

“Demi pena apa yang dituliskannya” itu merupakan tanggung jawab akademik kader-kader IPM di tengah masyarakat, yang kemudian diharapkan dapat menjaga nalar kritis/positif masyarakat. Sedangkan, keberhasilan kader IPM untuk membuktikan peran moralitasnya itu sebenarnya juga telah membuktikan keunggulan kecerdasannya.

Tentu saja, sebagai kader yang memiliki semangat ilahiyah atau agama, kader IPM memiliki orientasi duniawi dan ukrawi. Slogan “nuun walqalami wamaa yasturuun” memandu dan mengantarkan kader IPM pada pemenuhan dua konteks kehidupan umat beragama itu, yakni duniawi dan ukrawi.

Hanya saja, tantangan dalam menjalankan kehidupan dengan segala kompleksitasnya itu merupakan ujian berat bagi kader IPM untuk tidak terjebak pada kenyataan sosial yang cenderung ekslusif (memandang negatif perbedaan).

Kader IPM mesti berani bersaing secara terbuka, sehingga, kemudian nalar dan sikap batin kader IPM menjadi inklusif (menerima perbedaan). Bila hal ini dapat teraktualisasikan dengan sempurna, kader IPM diyakini mampu menjadi pusat pemersatu gagasan yang berkeadaban dalam internal dan eksternal Muhammadiyah.

Oleh : Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment