Meneladani Sosok Pelopor Madzhab Maliki

Modernis.co, Malang – Pada era sekarang, banyak sekali pemuda muslim yang tidak mengenal tokoh-tokoh muslim. Banyak yang lebih tertarik dengan tokoh-tokoh lain yang ada dalam film atau komik dibanding tokoh-tokoh muslim. Hal ini biasanya disebabkan karena kurangnya minat pemuda masa kini dalam literasi tokoh-tokoh muslim. Padahal penting sekali bagi kita sebagai muslim untuk mengenal dan meneladani tokoh-tokoh muslim yang berperan dalam tegaknya agama rahmatan lil ‘alamin ini.

Kali ini kita akan membahas salah satu tokoh besar Islam, seorang ulama besar, beliau memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan ilmu fiqih, beliau adalah Imam Malik.

Biografi Imam Malik

Pada tahun 93 H di kota Madinah, lahirlah seseorang yang dikenal luas atas kecerdasannya yaitu Imam Malik. Beliau lahir dengan nama Malik bin Anas bin Abu Amir bin Amar bin Harits bin Ghaiman bin Kuatail bin Amr Harits al Ashbahi dengan nama panggilan Abdillah.

Diriwayatkan bahwa beliau pernah berguru pada 900 orang syekh, di antaranya seperti Rabiah al Ra’yi, Abdurrahman ibn Harmuz, Nafi’ al Dailami, Ibnu Syihab al Zuhri dan Ja’far ash-Shadiq. Imam Malik adalah orang yang menghormati ilmu dan ulama melebihi penghormatan beliau kepada yang lainnya.

Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam bidang hadist dan ilmu fiqih, sehingga banyak para ulama fiqih dari daerah timur, barat, dan lainnya berdatangan menemui beliau untuk menimba ilmu kepada beliau. Beliau juga tidak membeda-bedakan orang yang berguru kepadanya.

Setelah beliau menjadi seorang alim besar dan terkenal di mana-mana, dan saat itu juga penyelidikan beliau tentang hukum-hukum keagamaan mulai diakui dan diikuti oleh sebagian kaum muslimin. Hasil dari ijtihad beliau inilah yang kemudian dikenal oleh banyak orang dengan sebutan Madzhab Imam Malik atau Madzhab Maliki.

Imam Malik memiliki iman yang kuat kepada Allah SWT, beliau tidak memiliki sedikit pun rasa takut terhadap pemilik kekuasaan. Meski terhadap seorang khalifah pun jika melakukan kesalahan, Imam Malik tidak takut menegur selama apa yang dilakukannya itu dianggapnya benar. Beliau juga sabar ketika menghadapi berbagai cobaan yang datang kepadanya karena sikapnya ini.

Imam Malik menghembuskan nafas terakhirnya di Madinah al Munawwaroh pada tanggal 14 bulan Rabiul Awal tahun 179 H. Akan tetapi ada juga yang berpendapat jika beliau meninggal dunia pada tanggal 11, 13, dan 14 bulan Rajab. Sedangkan An-Nawawi berpendapat bahwa Imam Maliki meninggal pada bulan Safar.

Pendapat pertama adalah yang lebih masyhur. Beliau meninggal dunia pada masa pemerintahan Harun al Rasyd di masa pemerintahan Abbasiyah, dan beliau dikebumikan di tanah perkuburan Al-Baqi.

Sebelum beliau wafat, di sepanjang hidupnya Imam Malik menghasilkan banyak sekali karya dalam bentuk kitab, di antaranya adalah Kitab al Muwatta, Kitab al Mudawwanah, Kitab al Muwaziyah, Kitab Bidayah al Mujtahid, Kitab al Faruq, Kitab al Syarh al Kabr, Kitab Hasyiah ad Dusuki ‘Ala Syarh al Kabr lil-Dardir, Kitab Manh al Jalil Syarh Mukhtasor.

Metode Madzhab Maliki

Metode dari madzhab Maliki ini didasarkan pada ungkapan hadits dan pembahasan atas makna-maknanya, kemudian dikaitkan dengan konteks permasalahan yang ada pada saat itu, baru kemudian mencarikan hadits-hadits atau atsar yang bisa digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan tersebut. Imam Malik sangat menghindari spekulasi dan fiqih hipotesis, sehingga madzhabnya dan para pengikutnya dikenal dengan sebutan Ahlul Hadits.

Sumber hukum pada madzhab Maliki bersumberkan dari Al Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, amaliyah/praktikmasyarakat Madinah, ijma’, qiyas, pendapat individual para sahabat, kemaslahatan (istishlah), tradisi (urf).

Sifat yang Bisa Kita Teladani

  1. Produktif dalam menggunakan waktu

Di sepanjang hidupnya, Imam Malik menggunakan waktunya dengan sangat produktif. Selain untuk ibadah, beliau juga belajar banyak ilmu dari berbagai syekh, menghafal banyak hadits Rasulullah SAW dan mengajarkannya.

2. Beradab

Imam Malik sangat menghormati ilmu dan ulama (guru) melebihi penghormatan beliau kepada yang lainnya. Adab lebih penting dari ilmu, oleh karena itu setinggi apapun ilmu kita jangan sampai kita tidak menghormati guru atau ulama yang telah mengajarkan ilmunya kepada kita. Ulama adalah pewaris Nabi, oleh karena itu jika kita menghormati para ulama secara tidak langsung kita juga menghormati Nabi.

3. Tegas dalam menegakkan kebenaran dan tidak pandang bulu

Imam Malik akan menegur atau menasehati seseorang jika orang itu melakukan kesalahan. Meskipun orang yang melakukan kesalahan itu adalah kholifah atau pemimpin, beliau akan menasehati orang itu. Imam Malik juga tidak pilih kasih ketika membimbing orang yang berguru kepadanya.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa penting sekali untuk mengkaji kisah-kisah atau biografi para tokoh Islam, karena banyak sekali poin yang bisa kita petik untuk diaplikasikan ke kehidupan kita yang di mana poin-poin itu mulai memudar dari karakter pemuda zaman sekarang.

Jadilah orang yang bermanfaat. Berhenti rebahan, keluarlah dari zona nyaman. Kurangi baperan, perbanyak berperan. Don’t be busy, be productive!.

Oleh: Faishal Hafizh Bisma Ardifa (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment