Menanti Netralitas Media di 2024

Modernis.co, Malang – Media massa memiliki peran penting dalam membangun demokrasi di Indonesia, dimana posisi media seharusnya menjadi alat pengontrol dan menjaga keseimbangan sesuai koridornya sebagai alat penyamapain informasi ke pada publik yang di harapkan tidak menyalah gunakan fungsinya sebagai agen demokrasi.

Dalam mentrasformasikan nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat, media diharapkan tidak lagi ada keberpihakan dan campurtangan dari siapa pun. Peran media sendiri sudah jauh dari netralitas, serta mulai adanya pergeseran fungsi atau peranan media.


Pasca tragedi 1998 mayoritas media sudah kehilangan arah. Moment politik yang terjadi di tahun 2014 dalam kampanye Presiden beberapa media melakukan kebohongan publik media dengan memunculkan data yang dimanipulasi “pemilihan Presiden Amerika dimanipulatif sebagai data pemilihan Presiden di Indonesia.”
Media hari ini tidak terlalu edukatif, salah satu contoh yang bisa kita lihat dari kurangnya nilai edukatif dari media, ialah mengenai pernikahan Aurel dan Attah Halilintar yang di tayangkan secara Live. Seharusnya dalam menyiarkan informasi kepada khalayak umum, media harus memberikan nilai yang benar-benar edukatif, bukan hanya mengejar tingkat popularitas penonton saja. Peran media di Indonesia juga sangat vital dalam pembentukan opini publik, bahkan media juga dimanfaatkan sebagai sarana politik.

Dalam pemilihan presiden 2019 beberapa tahun lalu misalnya, berita-berita yang disampaikan media membuat konflik horizontal di tengah masyarakat. Hal tersebut bisa di lihat media yang berpihak pada kubu Jokowi- Ma’rufAmin dan kubu Prabowo-Sandi. Kejadian seperti itu bahkan terjadi setiap pemilu di Indonesia, jangan heran pers lupa akan perannya.


Dalam bukunya Ririt Yuniar yang berjudul (Pilpres dan Jurnalistik Hitam Putih) Saat pemilihan presiden dari periode 1999-2014, menjelaskan bahwa media ternyata tidak hanya memberitakan proses dan keadaan politik tetapi secara berpihak, media sengaja memilih foto-foto tertentu sesuai dengan keberpihakan politik pada pasangan calon tertentu, dimana di manfaatkanya foto jurnalistik secara intensif oleh calon presiden dan wakil presiden. Foto pasangan calon tidak hanya ditampilkan apa adanya dalam media, tetapi juga di komposisikan sesuai dengan tujuan dan citra yang ingin di bangun atas kehadiran suatu toko.


Walaupun dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers pasal 6 butiran a disebutkan bahwa “pers nasional melaksanakan peranannya memenuhi hak masyarakat untu mengetahui”. Hal tersebut menunjukan bahwa, media hanya memberikan informasi dan masyarakat yang akan menyimpulkan.

Namun, jangan lupa pers juga sebagai pilar demokrasi keempat, setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif, pers semestinya selalu menyampaikan informasi ke pada publik secara berimbang tanpa berpihak ke siapapun. baik dalam pengambilan gambar peristiwa kejadian, bahkan dalam mevisulisasikan sebuah rekaman foto.


Mengingat 2024 merupakan sejarah terbesar bagi perjalanan pemilu di Idonesia, hal ini di karenakan 2024 kelak, masyarakat akan melakukan pemilihan serentak di Indonesia mulai dari pememilihan kepala negara, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sampai kepala daerah secara serentak. Hal tersebut sangatlah sulit bagi media untuk bersikap netral terhadap pasangan calon tertentu, apalagi banyak petinggi partai politik yang memiliki media sendiri.

Sekali lagi penulis ingin menegaskan, bahwa media harus hadir untuk memberikan nilai edukatif kepada masyarakat menjelang pemilihan serentak 2024, bukan malah sebaliknya kehadiran media akan membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Penulis berharap akan hadirnya media yang netral agar terbangun demokrasi Indonesia yang lebih demokratis, semoga pemilihan serentak 2024 kelak tidak terjadi konflik yang begitu besar di tengah masyarakat.

Dan penulis berharap kehadiran media seharusnya memberitakan informasi yang berimbang tidak lagi adanya keberpihakan untuk mendongkrak popularitas tokoh politik tertentu, baik melalui media cetak, media elektronik, maupun bentuk karya jurnalistik foto yang dihasilkan oleh fotografer dari realitas sosial dengan menggunakan trik kamera maupun trik cetak yang menghasilkan nilai dari raelitas foto dalam “memfreming” sosok seorang tokoh.


Penulis mengajak pada semua pihak baik partai politik, tokoh politik tidak memanfaatkan media untuk menaikan eletabilitas bahkan memanfaatkan media untuk menjatuhkan lawan politik, sudah banyak konflik yang terjadi antara pendukung calon yang saling membunuh akibat ulah pemberitaan media yang provokatif.

Semoga pemilihan serentak 2024 berjalan dengan lancar dan tidak terjadi kegaduhan yang berkepanjangan.

Oleh : Rafli Tamauni (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment