Maba dan Kebimbangan Pilihan Organisasi

imm tamaddun

Modernnis.co, Malang – Pergantian dari status siswa menjadi seorang mahasiwa, pastinya merupakan suatu hal yang sangat membanggakan bagi setiap orang yang melanjutkan pendidikannya di jenjang universitas.  Perlu diketahui, bahwa atmosfer dunia universitas sangat jauh berbeda dengan dunia sekolah. Tentu terdapat atmosfer baru dengan tantangan yang sangat menarik untuk dihadapi dengan bersungguh-sungguh.

Sampai di sini saya bisa melihat bahwa sebagian mahasiswa baru, tentu ada yang merasa bahagia dan bangga. Namun adapula yang merasa cemas dan khawatir karena meraka harus mempersiapkan strategi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Adapun anggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa bukanlah hal mudah, namun bisa jadi mudah bilamana ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang mahasiswa yang sesungguhnya. Yaitu bukan hanya menjadi seseorang yang menyandang status mahasiswa saja, tetapi selalu berusaha untuk menjadi mahasiswa yang berkualitas. Kemudian dari sini timbul pertanyaan, ‘bagaimana caranya?’ tentu dengan berorganisasi.

baca juga: Soal Rasa dalam Ber-IMM

Urgensi Berorganisasi

Kehidupan seorang mahasiswa bukan hanya sekedar tentang belajar di kelas, mendengarkan penjelasan dari dosen maupun dari teman-teman sekelas yang melakukan presentasi terkait teori-teori mata kuliah yang disajikan dosen. Melainkan harus aktif dalam kegiatan organisasi dan kemasyarakatan.

Dari situ, mari kita coba membaca ungkapan dari Tan Malaka bahwa: “Bila kaum muda yang telah menempuh pendidikan dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Artinya, sebagai seorang yang bependidikan, maka harus punya cita-cita yang tinggi dan berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan. Nah, salah satu jalannya adalah harus terlibat aktif terlebih dahulu di organisai.

Sebab dengan berorganisasi akan membantu kita untuk belajar bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, dengan organisasi pula kita bisa memperluas radius pertemanan yang nantinya bisa mempermudah dalam mengeyam bangku kuliah. Selain itu, dengan organisasi juga nanti kita akan bisa mengatasi rintangan yang ada. Sebab kita akan dihadapkan dengan berbagai permasalahan kuliah dan organisasi. Dari sanalah daya kritis kita akan diasah dan diuji.

Momen Menunjukan Eksistensi Organisasi

Sudah menjadi hukum kampus, bahwa setiap maba harus mengikuti serangkaian kegiatan orientasi sebelum perkuliahan dimulai. Kegiatan orientasi tersebut bertujuan untuk mengenalkan maba terkait kehidupan perkuliahan. Harapanya setelah kegiatan orientasi, para maba mampu beradaptasi, mengetahui sistem perkuliahan yang ada.

baca juga: IMM Kalah di Rimba Digital

Tidak hanya itu, seluruh organisasi kemahasiswaan juga turut andil untuk menunjukan eksistensinya masing-masing. Perlu diketahui, bahwa di kampus terdapat 2 jenis organisasi, yaitu; 1) organisasi intra kampus, seperti; BEM, DPM/SENAT,  HMJ, dan UKM/LSO. Dan 2) organisasi ekstra kampus, seperti; IMM, HMI, PMII dan lain sebagainya.

Menurut hemat saya, organisasi yang paling antusias dalam menunjukan eksistensinya adalah organisasi ekstra kampus. Bagaimana tidak, jauh hari sebelum orientasi maba di mulai mereka sudah memulai merancang strategi dan membuat berbagai inovasi baru untuk mengenalkan organisasinya kepada para maba. Dengan harap nantinya bisa memperoleh banyak calon kader yang tertarik dengannya.

Dengan banyaknya organisasi yang mengenalkan ciri khasnya masing-masing, tentu hal demikian bisa membuat para maba menjadi bimbang dan bingung untuk menentukan pilihannya. Dalam memilih organisasi yang tepat, maka kita sebagai seoarang muslim harus memilih organisasi yang didalamnya mengajarkan tentang keaagamaan yang berdasar pada ajaran Nabi Saw serta organisasi yang memliki ruang gerak yang luas, yakni keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan.

IMM Sebagai Pilihan

IMM merupakan singkatan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang merupakan gerakan mahasiswa Islam sekaligus organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan, yang memiliki basis masa Mahasiswa di berbagai kampus Muhammadiyah dan kampus non Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga mancanegara.

Adapun tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Dengan begitu bisa dikatakan bahwa IMM ialah tangan kanannya Muhammadiyah.

Jadi, jika ada kampus Muhammadiyah, maka di situ IMM harus melebarkan sayap dakwahnya. Dengan spirit internalisasai ideologi nilai dasar ikatan yang dimilikinya, maka sudah menjadi keharusan bagi IMM untuk membendung masuknya berbagai ideologi lain yang masuk di ruang dakwahnya serta sanggup dalam mencetak kader yang anggun dalam moral, unggul dalam intelektual.

Sejalan dengan arah geraknya, IMM juga mempunyai Trikompetensi dasar yaitu religiusitas, intelektualitas dan humanitas. Trikompetensi dasar tersebut merupakan sebuah kapasitas yang nantinya harus dimiliki oleh setiap kadernya. Tiga hal tersebut merupakan paket lengkapnya IMM. Karena setiap kader tidak hanya mendapat bimbimngan dalam hal agama melainkan juga dibina agar menjadi kader yang progresif dan kritis yang tentunya sangat bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

baca juga: Perempuan Tangguh itu Bernama IMMawati

Mengapa Harus IMM?

IMM adalah rumah bagi setiap mahasiswa dalam mengembangkan potensi dan minat-bakat yang ada pada setiap diri mahasiswa melalui berbagai bidang yang disediakannya. Kita sebagai mahasiswa, terlebih mahasiswa baru harus cerdas dalam menentukan wadah sebagai tempat berproses dan mengembangkan potensi yang kita miliki.

Sebagai seorang mahasiswa, terlebih mahasiswa yang berkuliah di Universitas Muhammadiyah pasti akan merugi jika tidak bergabung dengan IMM, sebab IMM adalah anak kandungnya Muhammadiyah, sebagai anak kandung tentu IMM akan difasilatasi dan diberikan ruang dakwah yang sangat luas.

Dengan begitu, IMM akan lebih leluasa dalam berjuang menghasilkan kader dengan membawa semangat keilimuan yang mampu mengikuti perkembangan zaman dan mampu membawa perubahan sosial, sebagaimana kata Ali Syariati, mereka adalah kaum yang tercerahkan (Rausyan Fikr) yang sudah seharusnya menjadi pijar penerangan di tengah gelapnya global. Masih bimbang? Yuk segera tentukan pilihan.

Oleh: M. Nizar Syahroni, Aktivis IMM Tamaddun FAI UMM

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment