Literasi Digital dan Dampak Media Digital

Modernis.co, Lamongan – Kemajuan teknologi menciptakan disrupsi pada kehhidupan sehari-hari, mulai dari otomatisasi yang mengancam ragam mata pencaharian, hingga bagaimana masyarakat mencerna dan mengabarkan informasi. Zaman sekarang ini, lebih dari setengah populasi di Indonesia sudah terhubung internet. Angka penetrasi internet semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Teknologi digital terus merangsek kehidupan keluarga saat ini tanpa terbendung. Baik orang tua maupun anak-anak menjadi pengguna media digital dalam berbagai bentuk, seperti komputer, telepon pintar, piranti permainan game maupun internet. Penggunaan media digital di  rumah ternyata tidak meningkatkan kualitas kehdiupan berkeluarga. Tak jarang anggota keluarga justru terpisahkan karena lebih tertarik menghabiskan waktu dengan perangkat digital mereka daripada berinteraksi bersama. Lebih parah, orang tua dan anak bisa mengalami masalah kecanduan gawai. Maka orang tua perlu mengembangkan cara baru mendidik anak di era digital. (Wicaksono, 2019)

Anal-anak sebagaimana generasi sebelumnya membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua untuk menggunakan media digital  dengan bijaksana. Maka orang tua perlu memahami  nilai utama dunia digital yang menyetir kehidupa kita saat ini.

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anak, mengajari, mengarahkan dan mendidik. Tanggung jawab orang tua meliputi tanggung jawab keimanan, fisik, materi, akal, moral, sosial, kejiwaan, dan seks. Tanggung jawab inilah yang disebut dengan bentuk pendidikan. Tujuan dari pendidikan adalah untuk membentuk anak-anak menjadi manusia yang sehat, berkarakter mulia, cerdas, berakhlak serta mampu menjadi generasi kuat dan memiliki masa depan yang cerah.  Agar semua ini terwujud  maka orang tua  harus mengetahui dan menerapkan pendidikan yang benar sesuai tahapan perkembangan anak yang berlandaskan syarat Islam sebagaiman telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai sunnahnya.

Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama memiliki peran dan fungsi yang sentral dalam mendidik dan membentuk kepribadian seorang anak. Maka proses pendidikan dan pembentukan kepribadian anak menjadi pertama kali di lingkungan keluarga. Keluarga adalah persekutuan orangtua dan anak-anak. Kebutuhan dan keterikatan anak dan usaha-usaha yang dialami orang tua, serta ikatan-ikatan darah dengan semua kekerabatan badani dan rohani membuktikan bahwa keluarga merupakan lembaga sosial alami.  Di sinilah sasaran dan tugas-tugas keluarga adalah membesarkan anak-anak serta memperhatikan kebutuhan  sehari-hari para anggotanya.

Dalam Islam terdapat beberapa istilah yang sangat tepat digunakan sebagai pendekatan dan penguatan pembelajaran, dengan menerapkan model pembelajaran dalam penguatan pendidikan karakter, untuk membentengi arus globalisasi pada era revolusi industri.

Pola Asuh Orang Tua yang Efektif di Era Digital

Proses interaksi antara orang tua dan anak untuk mendukung perkembangan fisik, emosi, inteletual, sosial dan spiritual berlangsung sejak seorang anak dalam kandungan. Itu berarti bahwa pola asuh merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan anak.

Keterlibatan orang tua dalam membentuk kepribadian anak bertujuan untuk mencegah perilaku menyimpang yang tidak  sesuai dengan norma susila dan nilai moral dalam diri anak. Dengan demikian, pola asuh orang tua berarti suatu proses interaksi antara orang tua dan anak yang meliputi kegiatan seperti memeliharam membing, mendidik serta mendisipnkan dalam mencapai proses kedewasaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Anak Generasi Digital

Pertama, memiliki ambisi besar untuk sukses. Anak zaman sekarang cenderung memiliki karakter yang positif dan optimis dalam menggapai mimpi dalam hidupnya. Anak-anak ini lahir dalam kondisi dunia yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Orang tua dari generasi ini mayoritas lebih mapan, mampu memberikan fasilitas dan rasa nyaman kepada anak. Anak zaman sekarang ini memiliki ambisi besar untuk sukses karena semakin banyaknya role model yang diidolakan dibandingkan generasi sebelumnya. Anak harus memiliki ambisi atau goal sejak dini. Oleh karena itu orang tua perlu mendefinisikan goal atau cita-cita anak dengan jelas dan benar.

Kedua, anak cenderung berpikir praktis dan berperilaku instan. Anak-anak generasi ini menyukai pemecahan masalah yang praktis. Ketiga, anak mencintai kebebasan, generasi Net sangat menyukai kebebasan berpendapat, berkreasi dan berekspresi. Anak generasi ini lahir di dunia yang modern. Suatu dunia dengan ciri bahwa rezim tirani otoriter tidak memiliki kekuasaan untuk mengontrol yang lain.  Anak-anak generasi ini lebih menyukai pelajaran yang bersifat eksplorasi dan tidak menyukai pelajaran yang bersifat menghafal. Mereka menghendaki supaya aturan di rumah harus disertai dengan penjelasan yang logis.

Maka, orang tua perlu memberikan penjelasan logis tentang peraturan yang berlaku di rumah. Pendidik perlu memberikan konsep kebebasan yang bertanggung jawab kepada anak-anak, pendidik tidak boleh membiarkan anak bebas tanpa memahami prinsip sebab akibat dan konsekuensi diri suatu perbuatan atau peraturan yang diberikan kepada anak.

Keempat, percaya diri. Anak-anak yang lahir pada generasi ini mayoritas memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki sikap optimis dalam banyak hal. Zaman ini membutuhkan seorang anak yang bermental positif dan percaya  diri. Atas dasar itulah, orang tua perlu membantu anak supaya sikap  optimis dan percaya diri terus bertumbuh dan berkembang dengan baik. Setiap masukan yang bernuansa nasehat dari orang tua harus bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.

Orang tua juga perlu menyampaikan kepada anak bahwa kunci sukses untuk mencapai tujuan dan cita-cita dalam hidup adalah menjaga keseimbangan antara kepercayaan diri dan kompetensi diri. Orang tak perlu menciptakan lingkungan yang nyaman supaya anak bertumbuh dalam kompetensi dan kepercayaan diri yang tinggi.

Kelima, anak cenderung menyukai hal yang detail. Generasi ini termasuk generasi yang kritis dalam berpikir. Selain itu, generasi ini sangat detail dalam mencermati  suatu permasalahan atau fenomena yang terjadi dalam hidup setiap hari. Generasi ini dapat memperoleh segala informasi dan gambar dengan menulis saja topik yang ingin ditelusuri lewat google.

Hal ini tentu berbeda sekali dengan generasi sebelumnya tanpa bantuan internet harus mencari jawaban atas suatu hal dengan mencari buku atau bertanya pada guru. Dengan cepatnya segala informasi ini, maka generasi sekarang dapat mengakses semua informasi daan menciptakan suatu konsep pola berpikir kritis dari berbagai pendekatan yang disediakan oleh dunia maya.

Keenam, anak mahir menggunkan digital dan teknologi informasi. Generasi sekarang lahir ketika media digital mulai  merambah dan berkembang dengan pesat dalam segala dimensi kehidupan manusia. Generasi ini sangat mahir menggunakan segala macam gadget dan aneka media digital lainnya dalam melayani kepentingan dan kebutuhan setiap hari. Anak-anak ini lebih memilih berkomunikasi  melalui dunia maaya atau media sosial daripada berkomunikasi  atau berinteraksi langsung dengan orang lain.

Ketujuh, anak mempunyai keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan. Setiap orang pada dasarnya memiliki keinginan agar diakui atas kerja keras, usaha, kompetensi yanng telah didedikasikan untuk berbagai kepentingan. Generasi ini mempunyai kecenderungan supaya mendapat pengakuan dalam bentuk reward.

Dampak Penggunaan Media Digital

Pertama, anak zaman sekarang kurang memiliki kemapuan teknik membaca tradisional. Hal ini terjadi karena perkembangan media digital dan teknologi yang begitu pesart. Generasi net senang mengakses informasi melalui teknik meringkas atau membaca highlight suatu topik. Hal ini tentu berbeda dengan teknik membaca  tradisional di mana orang memiliki ketahanan mentaal dan konsentrasi saat membaca suatu informasi. Anak zama sekarang malah kurang memiliki kemampuan teknik membaca tradisional.

Kedua, anak kurang memiliki produktivitas kerja. Penggunaaan media digital dan teknologi yang berlebihan justru membuatproduktifitas kerja anak semakin berkurang. Maka, ada sekolah yang melarang anak-anak untuk membawa telepon genggam yang memiliki aplikasi media sosial di dalamnya. Pihak sekolah mempunyai alasan yang rasional yakni mencegah anak menghabiskan waktu produktif dengan bermain atau berselanjar di jaringan sosial.

Ketiga, jaringan sosial internet dapat membahayakan zona privasi seseorang. Ada banyak kasus pelecehan seksual dan penipuan terjadi justru dialami sejumlah gadis remaja akibat komunikasi dan interaksi yang berlebihan dan tidak terkontrol di media sosial.

Oleh: Fathan Faris Saputro, Founder Rumah Baca Api Literasi

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment