Lika-liku Harga Cabai Menjelang Pergantian Tahun

Modernis.co, Malang – Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang menjadi unggulan di Indonesia. Ada beberapa daerah sentra penghasil cabai yang berkontribusi besar dan sebagai produsen utama cabai di Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Cabai yang umum dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat yaitu cabai keriting, cabai merah dan cabai rawit sebagai bumbu pelengkap dan penambah cita rasa makanan. Cita rasa cabai yang pedas tidak menghalangi masyarakat untuk mengonsumsi dan bahkan banyak yang menggemari kuliner bercita rasa tersebut.

Kebutuhan masyarakat terhadap cabai terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan industri makanan terhadap cabai. Hal tersebut dikarenakan trend makanan pedas yang digemari di kalangan masyarakat sehingga memunculkan maraknya bisnis kuliner yang menyajikan cita rasa pedas.

Komoditas cabai sering mengalami fluktuasi harga di pasaran. Jenis komoditas pertanian ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kontribusi cabai terhadap perekonomian Indonesia yang tinggi membuat komoditas pertanian ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah supaya terus meningkatkan produksinya dan dapat memenuhi kebutuhan cabai masyarakat Indonesia.

Stok produksi cabai pada bulan Juli 2021 di Indonesia berdasarkan data yang dikeluarkan Kementrian Pertanian mengalami surplus sebanyak 4.439 ton. Surplus produksi cabai tersebut dapat disebabkan karena produksi cabai yang melimpah serta cuaca yang mendukung pertumbuhan cabai.

Surplus pada pertengahan tahun 2021 tersebut tidak dapat mengatasi permasalahan harga cabai yang selalu merangkak naik pada momen menjelang akhir tahun dan awal tahun tahun baru. Hal tersebut terlihat melalui perkembangan harga cabai Desember 2021 menyentuh angka hingga Rp. 80.000 per kilogram untuk cabai rawit. Harga cabai rawit pada bulan Januari 2022 menyentuh angka kurang lebih Rp. 97.000 per kilogram.

Fenomena kenaikan harga cabai di Indonesia umumnya selalu merangkak naik akhir tahun pada bulan November dan Desember kemudian pada awal tahun yaitu pada bulan Januari. Naiknya harga cabai terkadang dapat menimbulkan inflasi terhadap beberapa bahan pangan lainnya. Pada Desember 2021, cabai menyumbang inflasi sebesar 0,13%.

Beberapa komoditas mengalami peningkatan harga pada akhir 2021 dan awal tahun 2022. Kenaikan harga yang dialami komoditas pertanian selain cabai yaitu minyak goreng. Di sisi lain terdapat komoditas pertanian yang mengalami penurunan harga yaitu komoditas bawang merah.

Ada beberapa hal yang menyebabkan harga cabai kian melambung pada saat-saat tertentu yaitu adanya momen-momen yang menyebabkan kebutuhan cabai kian meningkat. Momen tersebut seperti perayaan tahun baru dan momen perayaan Idul Fitri karena momen tersebut dijadikan kesempatan untuk berkumpul dengan teman ataupun keluarga. Selain itu panjangnya rantai pemasaran juga mempengaruhi harga produk pertanian.

Faktor alam yang mendukung meningkatnya harga cabai yaitu saat musim hujan sebab curah hujan yang semakin tinggi. Curah hujan tinggi menyebabkan budidaya cabai rentan mengalami kegagalan panen sebab terserang hama penyakit ataupun dapat disebabkan karena pembusukan. Hal tersebut yang menyebabkan produksi cabai menurun, biaya produksi meningkat dan harga jual cabai cenderung meningkat. Hal tersebut dapat menimbulkan inflasi.

Solusi untuk peningkatan harga cabai yang dapat dilakukan yaitu dengan mengatur waktu tanam komoditas tersebut sehingga kebutuhan masyarakat terus terpenuhi setiap waktu. Cara lain untuk menstabilkan harga cabai dengan memperpendek rantai pasok cabai, sebab dengan panjangnya rantai pasok suatu komoditas pertanian akan menambah jumlah biaya pemasaran yang akan berpengaruh terhadap harga jual barang.

Oleh: Mutammimatur RR (Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment