Latar Belakang Konflik dan Invasi Rusia terhadap Ukraina

Modernis.co, Malang – Pada 24 Februari 2022, masyarakat global dikagetkan dengan invasi Rusia ke Ukraina. Warga Ukraina disambut oleh serangan rudal yang diluncurkan Putin pada pukul 5 pagi. Kemudian, Putin juga memerintahkan ribuan tentara dan tank-tank militer untuk memasuki perbatasan Ukraina dan berusaha menjatuhkan pertahanan di Kiev.

Hal ini menyebabkan Presiden Ukraina mengeluarkan status darurat militer untuk mengungsikan warganya sekaligus merekrut laki-laki usia 18-60 tahun untuk bergabung dengan tentara pertahanan nasional.

Komunitas internasional mengecam aksi Putin tersebut yang berujung pada ribuan nyawa melayang. Namun, Rusia tetap gencar meneruskan serangannya hingga hari ini. Bahkan, Presiden Ukraina sempat meminta bantuan kepada negara-negara lain lewat berita yang dikirim melalui media sosial agar dapat membendung serangan militer dari Rusia.

Konflik antara kedua negara ini dilatarbelakangi oleh geopolitik. Ketika masih menjadi bagian dari Uni Soviet, Ukraina adalah negara ke-2 yang memiliki peran penting disana. Selain menjadi tempat produksi agrikultur dan senjata militer saat Cold War, Ukraina juga terletak di wilayah strategis dengan Semenanjung Krimea yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Azov.

Keduanya adalah jalur transportasi dan perdagangan penting antara Eropa Timur dengan daratan utama Eropa. Disamping itu, Krimea juga menyimpan potensi minyak bumi dan gas alam. Melihat besarnya potensi di Krimea, tidak heran jika wilayah tersebut menjadi incaran beberapa pihak lain.

Sebenarnya, konflik antara Ukraina dan Rusia dimulai sejak 2013 dan aneksasi Krimea terjadi setahun setelahnya. Namun, invasi militer di tahun 2022 dipicu oleh keinginan Ukraina untuk masuk dalam Uni Eropa dan bergabung dengan NATO. Selama ini, Rusia masih terbayang dengan kejayaan di era Uni Soviet, sehingga masih berusaha untuk mengontrol negara-negara bubaran Uni Soviet.

Disisi lain, Ukraina tidak terima dengan aneksasi Krimea yang dilakukan oleh Rusia pada 2014. Sehingga, Ukraina yang ingin memperluas kerjasama internasional, akhirnya menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan organisasi internasional.

Disisi lain, Rusia menentang hal itu karena jika Ukraina bergabung dengan NATO, ada potensi NATO/Amerika Serikat dapat membangun markas dekat dengan perbatasan Rusia. Artinya, ada kemungkinan markas itu juga dekat dengan wilayah Krimea. Akhirnya, Rusia menyerang Kiev dengan tujuan mengubah pemerintahannya menjadi pro-Moskow.

Secara geopolitik, invasi militer yang dilakukan oleh Rusia terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022 dilatarbelakangi sengketa antara Rusia dengan Ukraina yang memiliki kepentingan nasional masing-masing. Rusia ingin menyatukan lagi negara-negara seperti di era Uni Soviet, namun Ukraina ingin menjalin kerjasama dengan Uni Eropa dan NATO. Rusia yang merasa keamanannya akan terancam dengan kehadiran NATO, akhirnya berusaha mengubah Kiev menjadi pro-Moskow dengan cara serangan militer.

Oleh: Naraya Septiara Maharani Umar

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda via website kami!

Leave a Comment