Konsumsi Media di Tengah Pandemi

Modernis.co, Palangka Raya – Keterbatasan aktivitas sehari-hari di tengah pandemi tentunya menyisakan banyak waktu luang bagi banyak orang. Ada yang menggunakan waktu luangnya untuk bermain game, marathon, film, belajar hal baru, dan masih banyak lagi.

Bahkan, saya sendiri sempat jalan-jalan via Google Maps. Meski ini terdengar seperti kurang kerjaan. Tetapi terbukti kegiatan tersebut cukup mengobati kerinduan saya akan dunia luar.

Selain itu, keterbatasan ini membuat kebiasaan sehari-hari kita mulai berubah. Yang biasanya kita melakukan aktivitas secara offline, kini semuanya dilakukan secara online. Gawai sudah menjadi teman sejati yang membantu kehidupan selama pandemi agar kita tetap dapat terhubung dengan dunia luar.

Selama pandemi, tentunya kita terus mengikuti perkembangan informasi seputar COVID-19 baik melalui televisi maupun media online. Secara tak sadar, pola perilaku kita dalam mengonsumsi media sudah mulai berubah karena adanya pandemi.

Sejak kasus pertama COVID-19 di Indonesia yang dilaporkan pada tanggal 2 Maret 2020. Pengunjung media online serta penonton televisi di Indonesia mengalami kenaikan drastis.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ComScore, pengunjung media online di Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 8% setiap bulannya. Pada Maret 2020, dan telah menjadi pengunjung terbanyak hingga saat ini dengan total 87 juta pengunjung.

Sedangkan untuk penonton televisi survei yang dilakukan oleh Nielsen Indonesia, meningkat sebanyak 12% lebih tinggi dari periode normal. Terutama pada program berita meningkat sebanyak 25%.

Ini artinya, kebiasaan mengonsumsi media pada masyarakat Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh situasi pandemi.

Allan Rubin (dalam Morissan, 2010:270) berpendapat bahwa, kebiasaan mengonsumsi media dapat dikelompokkan kedalam sejumlah kategori. Yaitu, untuk menghabiskan waktu, sebagai teman, memenuhi ketertarikan, pelarian, kesenangan, interaksi sosial. Bahkan untuk memperoleh informasi atau mempelajari konten media tertentu.

Selama pandemi ini, waktu luang menjadi alasan bagi kebanyakan orang untuk mengonsumsi media sebagai sarana menghabiskan waktu dan mendapat informasi.

Yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, kemudian dapat berpotensi menjadi ketergantungan akibat terlalu sering mengonsumsi media.

Dalam teori ketergantungan, Melvin Defleur dan Sandra-Ball Rokeach. Keduanya menyatakan bahwa semakin seseorang bergantung pada suatu media untuk memenuhi kebutuhannya. Maka media tersebut menjadi semakin penting bagi orang itu.

Ketika seseorang merasakan kepuasan dalam menggunakan sebuah media. Maka seseorang tersebut akan selalu menggunakan media yang sama. sampai orang tersebut menjadi sangat bergantung dengan media yang digunakannya.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan mencari informasi seputar perkembangan COVID-19. Akan tetapi, dapat menjadi masalah jika sampai menimbulkan efek ketergantungan. Hingga kemudian seseorang justru menjadi stres setelah mengetahui bahwa masa pandemi tidak akan berakhir dalam waktu dekat ini. Akibat berita-berita yang telah mereka baca.

Memang kesehatan fisik sangatlah penting di situasi saat ini. Namun, kesehatan mental juga tetap harus diperhatikan.

Menurut psikolog dari Universitas Oklahoma, Brad Stennerson, mengonsumsi berita seputar pandemi terlalu sering dapat menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan mental.

Pendapat tersebut memang masuk akal. Karena berita seputar pandemi yang dimuat di media sengaja dibuat “menakutkan” guna menarik para pembaca. Ditambah lagi jika ada headlineBreaking News” dengan latar merah di belakangnya yang tentunya dapat membuat pembaca panik.

Sebaiknya, kita cukup mencari informasi seputar pandemi sesekali saja dalam sehari. Agar tidak menjadi ketergantungan dan untuk menjaga kesehatan mental kita supaya tidak stres.

Perhatikan juga kredibilitas media tersebut. Hibur diri dengan perbanyak mencari berita seputar hiburan atau konten hiburan di internet. Seperti melihat meme lucu, menonton video hewan yang menggemaskan, dan hiburan-hiburan lainnya.

**Oleh : Hafizh Rama Dana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment