Konsep “Diri” Remaja Pengguna Instagram

Modernis.co, Malang – Tak bisa dipungkiri lagi jika salah satu platform yang paling sering digemari oleh remaja di era digital adalah Instagram (IG). Keunikan platform ini adalah kita dapat mengekspresi diri dengan sebebas-bebasnya. Hampir setiap hari remaja tidak segan-segan untuk mengunggah segala kegiatan pribadinya melalui akun Instagram pribadinya.

Kecenderungan pengguna Instagram remaja saat ini dalam mengunggah salah satu objek foto diri sendiri atau foto selfie, barang-barang branded yang dimiliki, makanan yang high class, mode atau fashion style, tempat-tempat traveling dan lain sebagainya. Memiliki kehidupan yang sukses dan memiliki barang-barang yang mewah seringkali membuat kita lupa diri.

Lalu, apakah kita tidak boleh membagikan momen kebahagiaan di Instagram?

Sebenarnya sah-sah saja dan tak masalah karena itu menjadi hal yang merupakan bagian dari urusan pribadinya. Tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan adalah niat menunjukkan itu untuk apa.  Alasan mereka dalam mengunggah foto-foto yang menarik hanya ingin diterima kedalam suatu lingkungan sosial dan dapat dikatakan sebagai simbol yang menandai sebuah status sosial tertentu, yaitu dengan cara menampilkan citra diri mereka.

Sampai terkadang dapat dimaknai oleh para pengguna lain dengan pandangan yang berbeda-beda. Hal di atas akhirnya membentuk semacam konsep diri, seorang tokoh sosiolog; George Herbert Mead menyebutnya dengan pandangan, perasaan, dan penilaian individu mengenai dirinya dengan pengunggahan foto atau video remaja di Instagram. Remaja memiliki kebutuhan untuk memperhatikan dan ingin merasa diperhatikan oleh orang lain.

Apabila remaja tersebut mendapatkan tanda suka (like) yang banyak atau komentar (comment) yang dinilai “memuji” dirinya dari pengguna lainnya. Remaja cenderung merasa mendapatkan kasih sayang dari orang lain atau dukungan. Bahkan merasa bahwa diri mereka diterima dalam masyarakat, begitupun sebaliknya.

Jika hanya sedikit atau tidak sama sekali mendapat respon like atau comment, maka pengguna tersebut merasa minder sehingga konsep dirinya menjadi negatif. Akhirnya, terbentuklah reaksi dari simbol-simbol yang ditunjukkan melalui Instagram oleh penggunanya, sehingga munculnya istilah fans (pendukung) maupun haters (pembenci).

Jika ada seseorang memposting foto dengan Outfit Of The Day (OOTD) kekinian untuk menaikkan jumlah followers mereka. Laman Instagram dipenuhi berbagai gaya yang bisa menunjukkan bahwa orang tersebut untuk selalu tampil cantik, menarik dan fashionable di hadapan semua orang. Tentu ingin lebih percaya diri ketika berinteraksi dengan orang lain dan ingin diakui keberadaannya oleh kelompoknya.

Tren ini memang banyak digandrungi oleh para remaja, sebenarnya ada hal yang lebih baik kalau kamu mau melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Tampilan diri melalui foto-foto yang ia posting akan menunjukkan jati diri mereka. “Diri” yang ditampilkan oleh pengguna media sosial seperti Instagram ini dapat menunjukkan bagaimana konsep dirinya walaupun hanya bagian luarnya saja.

Dalam karyanya, George Herbert Mead melihat interaksi di media sosial berbeda dengan interaksi di dunia nyata, karena komunikasi yang dilakukan melalui simbol dengan berupa tulisan maupun gambar, foto, dan video. Fenomena update story maupun upload foto dan video di Instagram merupakan sebuah tindakan individu dengan penggunaan simbol. Tujuannya adalah untuk mendeklarasikan identitas semacam “inilah diriku”.

Simbol-simbol yang ditunjukkan di Instagram melalui unggahan story, instastory maupun sejenisnya dikemas sedemikian rupa, hingga membentuk sebuah image atau citra individu yang ingin ditampilkan ke ranah publik. Jadi, jelas di sini Instagram diibaratkan sebagai pisau bersisi dua, yaitu tingginya tingkat pengguna Instagram juga dapat berdampak positif maupun negatif, sehingga dampaknya seringkali memunculkan beragam komentar pro dan kontra.

Menarik kita melihat bagaimana konsep diri remaja pengguna Instagram, tentu ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, kita harus memberikan filter terlebih dahulu sebelum mengunggah foto atau video dengan segala sesuatu yang akan kita unggah ke Instagram. Pada akhirnya kembali lagi, yang menjadi sorotan utama bukan hanya bagaimana platform Instagram berusaha menyetir cara pandang para warganet.

Akan tetapi, kesadaran individu dalam memfilter informasi dan mengendalikan penggunaan media sosiallah yang juga berperan besar terhadap kesehatan mental mereka sendiri. Hal ini karena sejatinya makna dari simbol yang kita tampilkan di Instagram ditentukan oleh publik.

Pada media sosial Instagram selain sebagai media untuk mengekspresikan diri, juga dapat menjadi media untuk memperluas pertemanan atau interaksi dengan orang lain, bahkan dengan orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Hal ini tentu memicu adanya dampak positif dan negatif. Dampak positif yang bisa diambil dari adanya ruang bebas di Instagram adalah kita bisa mendapat teman dan wawasan baru.

Sedangkan dampak negatif yang dapat terjadi adalah adanya kejahatan di media sosial, bullying, dan pelecehan seksual. Seperti kasus di Daerah Yogyakarta yang dilakukan seorang mahasiswa untuk memenuhi hasrat seksusalnya dengan memaksa para pengguna Instagram yang mengikutinya dengan mengancam bahwa jika tidak melakukan apa yang dia minta, maka foto seronok mereka akan disebar. Kasus ini melibatkan sepuluh anak remaja pengguna instagram.

Oleh karena itu, pelajaran yang dapat kita ambil adalah jangan mudah percaya dan terbuai dengan orang yang tidak kita kenal. Selain itu, kita harus tetap selektif dan hati-hati memilih teman walaupun Instagram memberikan ruang bebas untuk berteman dengan siapapun. Mari kita gunakan Instagram dengan hal yang positif, cerdas, arif tentunya juga perlu dibatasi, diiringi dengan meningkatkan literasi diri, dan kita harus memahami maksud seseorang dalam menampilkan simbol di Instagram.

Semoga kita jadi lebih bijak dalam hal mengunggah sesuatu di Instagram karena tidak semua orang nyaman dengan apa yang kita posting. Pastikan tujuan kita dalam mengunggah sesuatu di Instagram bisa berdampak baik untuk berbagi informasi. Sebaliknya, Instagram juga bisa berakibat buruk jika digunakan untuk hal-hal negatif, apalagi sampai melanggar norma.

Oleh: Maslatun Nisak, Mahasiswi (Prodi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment