Kok Pembicaranya Laki-laki Semua, Mana Pembicara Perempuan?

Modernis.co, Jakarta – Pada masa pandemi ini, banyak sekali diskusi panel, seminar, lokakarya, symposium dan berbagai meeting yang dilakukan dalam jaringan (daring/online). Flyer, pamphlet atau gambar woro woro acara banyak tersebar di mana-mana.

Bertebaran dan luar biasa pembicaraannya. Ada saja yang dibicarakan. Berbagai pembahasan yang penting atau sekedar remeh temeh dilaksanakan.

Sayangnya, kadang ada yang membuat heran. Ketika melihat sebuah panel diskusi yang diadakan dengan mengundang beberapa orang pembicara, tapi pembicaranya tidak seimbang atau setidaknya ada pembicara perempuannya.

Hal ini dinamakan “male dominate” yakni laki-laki mendominasi dan “All Male Panel” atau “Manel” yang hanya ada pembicara laki-laki. Fenomena ini terjadi ketika sebuah pembicaraan dengan mengharapkan berbagai persepsi namun tidak mengundang pembicara perempuan.

Tentunya hal ini perlu disoroti bahkan mungkin dikritik.

Mana pembicara perempuan?

Pertanyaan ini perlu ditanyakan ketika kamu ikut sebuah panel yang mengundang beberapa pembicara. Gender equality penting bagi sebuah pembahasan. Kesempatan seperti ini perlu untuk menampilkan sosok-sosok perempuan yang tertutupi oleh penokohan laki-laki yang diutamakan.

Padahal di belakang sana ada sosok perempuan yang tidak kalah dalam memberikan kontribusi.

Tentunya hal ini perlu diperjuangkan. Tidak bisa perempuan hari ini diremehkan. Begitu banyak perempuan-perempuan hebat yang memiliki pemikiran cemerlang.

Namun sosoknya tak pernah diberikan kesempatan untuk tampil memberikan ide dan gagasan.

Dalam pemilihan pemateri hal ini perlu dibudayakan untuk menghindari male dominate. Jika pembaca tulisan ini adalah panitianya, maka cobalah untuk mempertimbangkan ini.

Atau kamu yang diundang mengisi panel tersebut. Coba tanyakan siapa saja pematerinya, siapa saja pembicaranya. Apakah sudah terjadi keseimbangan antara pembicara laki-laki dan pembicara perempuan.

Jika ternyata tidak ada perempuannya, maka jangan egois untuk tetep mengiyakan jadi pembicara diforum tersebut. Mundurlah untuk menjadi pemateri. Cobalah memberikan pengertian agar tidak terjadi male dominate atau bahkan all male panel.

Apalagi jika panel tersebut sengaja dibuat untuk membicarakan sebuah pembahasan yang dibahas atau diperdebatkan dari berbagai perspektif. Penempatan perempuan sebagai pembicara tentunya penting. Dan tentu saja penting.

Kenapa tidak mengundang pembicara perempuan?

Male panel banyak terjadi, dari forum-forum kecil hingga forum-forum besar berskala nasional bahkan internasional. Bukan tanpa alasan, tentunya mereka banyak alasan. Coba tanyakan saja kepada panitia penyelenggara panel.

Pembicara perempuan kadang sulit ditemui, begitu kata mereka. Padahal ada sosok sosok yang luar biasa dibelakang mereka. Perempuan punya hal berbeda dan unik.

Betapa banyaknya perempuan yang memberikan kontribusi luar biasa, namun sosoknya tak dikenali. Karena apa? Tak diberikan kesempatan untuk tampil di depan khalayak ramai. Sedikit sekali yang memikirkan hal ini.

Namun, kadang memperjuangkan perempuan untuk bisa tampil bukan hanya dikarenakan laki-laki yang ingin mendominasi baik sadar maupun tidak sadar. Namun seringkali karena dari perempuan itu sendiri.

Banyak perempuan yang menolak untuk dijadikan pembicara atau pemateri, bahkan selalu menunjuk laki-laki untuk tampil ke depan. Ayolah girls, hey, you are the best!

Untuk semua perempuan, saya ingin menyampaikan, kalian adalah manusia hebat, sadarilah. Kalian bahkan lebih berhak untuk berbicara di depan. Kalian sosok yang patut diberikan kesempatan. Ambil kesempatan itu. Dan bicaralah serta tunjukkanlah bahwa memang kalian memang luar biasa.

Perempuan punya perspektif yang berbeda

Setidaknya berikan kesempatan bagi perempuan untuk tampil didepan publik. Ini adalah suatu bentuk menghargai dan menunjukkan kalau perempuan juga ada. Bukan untuk mencari panggung atau apa.

Tapi ketika kita berbicara feminisme dan kesetaraan gender orang-orang berbicara bahwa perempuan sudah setara. Namun dari sisi ini saja tidak diperhatikan. Inilah hal yang harus kita ubah dan diperjuangkan untuk mengubahnya.

Banyak yang mengatakan budaya patriarki itu tidak ada tapi male dominate atau dominasi laki-laki saja masih terpampang nyata. Padahal memang belum ada kesadaran semacam ini.

Salah satu alasan kenapa perempuan harus memiliki panggung diranah publik apalagi ketika membicarakan suatu hal yang perlu didiskusikan adalah karena perempuan memiliki perspektif yang berbeda.

Ada hal hal yang tidak dimiliki laki-laki dalam memandang sesuatu. Tentunya karena perempuan memiliki hal-hal yang bisa dibilang khusus.

Misalnya dalam mendiskusikan kebijakan. Perempuan punya sisi yang perlu dipikirkan juga. Apakah sudah adil atau tidak dalam perspektif perempuan. Barangkali belum adil bagi perempuan maka hal itu bisa menjadi hal yang penting untuk didisksusikan.

Di Indonesia, kebijakan yang mengarusutamakan gender cenderung minim bahkan bisa dibilang nihil. Nah perspektif perempuan seperti ini penting untuk dikulik. Pembicaraan akan lebih menarik bukan?

Banyak sekali perempuan yang tak pernah dimunculkan. Yang juga punya kontribusi seperti laki laki. Masa iya pembicaranya laki-laki terus, pembahasannya itu-itu saja. Apalagi orangnya itu-itu saja.

Dan hari ini diskusi misalnya menggunakan aplikasi zoom atau platform meeting online bisa disiarkan. Apa tidak bosan melihat pemateri yang itu-itu saja?

Tidakkah ingin mencari hal-hal baru yang perlu digali dan diketahui. Pilihannya adalah buat diskusi yang ramah bagi perempuan. Berikan kesempatan mereka yang tak pernah terekpos publik. Perempuan bisa jadi tokoh yang luar biasa.

Perempuan punya pengalaman yang unik

Satu lagi yang harus pembaca fikirkan. Perempuan unik dan punya pengalaman yang unik pula. Dia memiliki sisi lain yang menarik untuk dibahas. Misalnya dalam hal pengalaman turun ke lapangan atau dalam keseharian. Ada hal-hal di ranah public yang hanya dirasakan oleh perempuan.

Ketika kita berbicara tentang perannya di masyarakat misalnya, perempuan ada di tempat yang bisa diambil pengalamnya. Betapa sesungguhnya kontribusi dan peran perempuan itu banyak.

Namun jika yang diundang laki-laki saja. Apakah hal ini bisa dibicarakan? Apakah ada kemungkinan dibicarakan? Tentu saja bisa, namun bukankah lebih mengena jika perempuan yang berbicara?

Perempuan bisa juga kok. Coba dipikirkan lagi, mana pembicara perempuan?

**Oleh: Ananul Nahari Hayunah (Ketua Umum PK IMM Ushuluddin UIN Jakarta)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment