KH. Syuja’ dan Jejak-Jejak Perjuangan di Muhammadiyah

Modernis.co, Malang – Menulislah, maka kau akan abadi. K.H. Syuja’ membuktikan kata-kata itu. Bahkan beliau mengabadikan kisah sang guru, yakni K.H. Ahmad Dahlan dalam bukunya yang ditulis pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya. Buku tersebut ialah “Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangan Muhammadiyah di Masa Awal”.

Dalam buku tersebut K.H. Syuja’ menjelaskan bahwa agenda menggembirakan yang membuat Muhammadiyah berkembang pesat adalah agenda pengajian ”Malam Djoem’ah“. Pengajian dengan metode baru tersebut mendapat sambutan yang ramai dari masyarakat.

Pengajian “Malam Djoem’ah“ disinyalir lahir dari renungan pemuda-pemuda yang melayani rapat tahunan organisasi Boedi Utomo di sekolahan K.H. Ahmad Dahlan yang tidak lain merupakan kediaman pendiri organisasi Muhammadiyah ini.

Lantas bagaimana sejarah K.H. Syuja’ tertuliskan’?

K.H. Syuja’ memiliki nama asli Danilayin bin Raden Lurah Hasyim. Ia lahir pada tahun 1885. Ayah K.H. Syuja’ adalah seorang lurah keagamaan di masa Sultan Hamengkubuwono VII. Nama Muhammad Syuja’ baru disandang setelah ia menunaikan ibadah haji.

K.H. Syuja’ bersama dengan saudara-saudaranya di Kauman yaitu H. Fachroddin, Ki Bagus Hadikusumo, Siti Bariyah serta pemuda Kauman yang lain pada masa selanjutnya menjadi tokoh-tokoh penting Muhammadiyah. K.H Syuja’ pun termasuk salah satu murid pertama Kiai Ahmad Dahlan. Beliaulah yang menggugah Kiai Dahlan menerangkan hakikat pengamalan Al-Ma’un.

Dari pengamalan teologi Al-Ma’un inilah Muhammadiyah menjadi Non-Government Organization (NGO) Islam dengan jaringan aset amal usaha di bidang sosial, pendidikan dan kesehatan terbesar di Indonesia. Hingga usia yang ke-107 Muhammadiyah terhitung memiliki sedikitnya 20 ribu TK/PAUD, 7.651 sekolah, 174 perguruan tinggi, 457 rumah sakit, 318 panti asuhan, 54 panti jompo, dan 82 rehabilitasi penyandang disabilitas, termasuk 75 rumah sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang disediakan untuk merawat pasien Covid-19.

Mayoritas mengenal Muhammadiyah dari amal usahanya. Namun, adakah yang mengetahui siapa di balik itu semua? Jangan-jangan kader Muhammadiyah sendiri tidak mengetahui sejarahnya. K.H Muhammad Syuja’. Tentu saja nama beliau tidak sepopuler pendiri organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.

Namun, kiprahnya sangat besar dalam mencetuskan ide amal usaha Muhammadiyah, yakni membangun rumah sakit, panti sosial untuk orang miskin dan mendirikan panti asuhan.

Awal mulanya K.H Syuja’ mengungkapkan gagasan untuk membangun rumah sakit, armeinhuis (panti sosial), dan weeshuis (panti asuhan) pada sambutannya sebagai pengurus pusat (hoofdbestuur) dalam rapat anggota Muhammadiyah Istimewa tanggal 17 Juni 1920. Namun, ide-ide cemerlang tersebut ditertawakan bahkan ada yang menanggapnya gila.

K.H Syuja’ sebagai penanggungjawab di bidang PKO (Penolong Kesengsaraan Umum) menyanggah ejekan tersebut dengan berkeyakinan, bahwa adanya surat Al-Ma’un adalah bukti umat Islam lebih layak membangun dibandingkan dengan umat lainnya.

“Banyak orang-orang di luar Islam yang sudah berbuat menyelenggarakan rumah-rumah panti asuhan untuk memelihara mereka si fakir miskin dan anak-anak yatim yang terlantar dengan cara yang sebaik-baiknya, hanya karena terdorong dari rasa kemanusiaan saja, tidak karena merasa tanggung jawab dalam masyarakat dan tanggung jawab di sisi Allah kelak di hari kemudian. Kalau mereka dapat berbuat karena berdasarkan kemanusiaan saja, maka saya heran sekali kalau umat Islam tidak berbuat. Padahal agama Islam adalah agama untuk manusia bukan untuk khalayak yang lain. Apakah kita bukan manusia? Kalau mereka dapat berbuat, kena apakah kita tidak dapat berbuat? Hum ridjal wa nahnu rijal (mereka manusia, begitu pula kita).”

Pada 1923 armeinhuis (panti sosial) Muhammadiyah pertama berhasil didirikan di Yogyakarta dengan menampung sekitar 30 orang, baik perempuan maupun laki-laki yang terus bertambah setiap tahunnya. Demikian pula yang terjadi pada pembangunan panti asuhan.

Selanjutnya pada tahun yang sama, poliklinik Muhammadiyah pertama lahir di daerah Jagang Notoprajan dengan 20-60 pasien. Meski pada awalnya sempat jatuh bangun karena kendala biaya, semangat Al-Ma’un yang terus terjaga memupuk semangat perjuangan. Hingga akhirnya poliklinik Muhammadiyah mampu menyediakan 10 ranjang rawat inap pasien pada tahun 1925.

Didik L Hariri dalam Jejak Sang Pencerah mencatat, bahwa nantinya kerelaan hati dr. Somowidagdo dari Malang yang mengabdikan diri tanpa syarat kepada Muhammadiyah di Jagang Notoprajan, menjadi pintu pembuka bagi Muhammadiyah, sehingga mampu mendirikan berbagai rumah sakit di seluruh Indonesia.

Di bawah kepemimpinan K.H Syuja’, PKO tidak hanya membangun panti asuhan, panti sosial dan klinik, tetapi juga turut terlibat dalam kerja kemanusiaan bencana alam seperti saat meletusnya gunung Merapi tahun 1930.

Selain itu, beliau juga berhasil mewujudkan mimpi Kiai Dahlan, agar suatu saat Muhammadiyah bisa mendirikan Bagian Penolong Haji sebagai bagian dari kerja PKO setelah Belanda pada 1920 melarang para calon jamaah haji dari Indonesia dan meloloskan pelayaran calon jamaah haji dengan biaya enam kali lipat lebih mahal.

Mimpi pendirian maskapai pelayaran Bagian Penolong Haji tersebut berhasil diwujudkan K.H Syuja’ melalui N.V. Pelayaran dan Dagang Indonesia yang disahkan Belanda pada 18 Januari 1941. 18 tahun setelah wafatnya Kiai Dahlan.

Menjelang akhir hayatnya, K.H Syuja’ bersedih hati, karena ketika sakit beliau tidak dirawat di Rumah Sakit PKO Muhammadiyah. Hal itu disebabkan oleh peralatan yang belum memadai.

K.H Syuja’ wafat di Kauman pada tanggal 5 Agustus 1962. Beliau sudah tiada, tapi hasil dari gagasannya yang sempat ditertawakan sampai saat ini terus berkembang dan meluas. Mulai dari pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan nasional, hingga respon krisis kemanusiaan internasional di berbagai negara melalui Muhammadiyah Aid.

Sayangnya tidak terlalu banyak kisah mengenai K.H. Syuja’ yang tertuliskan. Baik di media massa maupun dalam bentuk buku. Semoga akan ada lebih banyak lagi tulisan mengenai tokoh-tokoh Muhammadiyah. Namun, yang tidak kalah penting, semoga seluruh kalangan dari anak kecil sampai orang tua, berkenan membaca sejarah yang semakin lama makin tergerus oleh berita-berita selebritis.

Oleh: Iis Muala Wati (Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UMM dan Kader IMM Tamaddun FAI)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment