Keterampilan Pedagogik Literasi Kritis

Modernis.co, Lamongan – Dewasa ini, literasi bukan hanya sebatas keterampilan membaca dan menulis kosakata. Memasuki abad 21, literasi berkembang menjadi sebuah keterampilan berpikir dalam membaca kata dan dunia serta mencari relasi diantara keduanya untuk memecahkan masalah kehidupan. Memacu pada  pendapat Alwasilah, dapat dipahami betapa pentingnya keterampilan literasi bagi perkembangan kehidupan sumber daya manusia, terutama bagi bangsa Indonesia yang tengah mempersiapkan diri menuju generasi emas 2045.

Penulis menemukan adanya kesenjangan mengenai paradigma literasi yang berkembang di masyarakat belum sepenuhnya mengadopsi paradigma literasi sebagai kekuatan budaya dan masih terpaku pada konsep literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis kosakata.

Pada dasarnya paradigma literasi konvensional mengacu pada teori Whole Language yang menemukan pada konteks pribadi siswa maupun guru, dengan berorientasi pada teks yang merupakan reproduksi dari aspek sosial budaya masyarakat, dalam hal ini siswa tidak dilibatkan menjadi anggota masyarakat, dan diperlukan metode yang cocok untuk memisahkan anggota kelas (siswa), serta digunakan sebagai jalan untuk mengompensasi ketidakadilan sosial.

Hakikat Literasi Kritis

Istilah kritis pada umumnya didefinisikan sebagai sikap bertanya dan skeptimisme tentang truisme yang diterima secara umum. Dalam wacana pendidikan, istilah kritis tertanam dalam tiga konsep: pedagogik kritis, pemikiran kritis dan literasi kritis (Cooper, 2008). Literasi kritis berkaitan dengan dengan proses mengembangkan kapasitas diri (efikasi diri) untuk membaca dibarengi dengan sikap pencarian, dan keinginan untuk mempengaruhi perubahan sosial yang positif.

Maka literasi kritis adalah kemampuan seseorang untuk mengembangkan kemampuan literasi baik itu membaca atau menulis guna menemukan kesenjangan sosial yang merepresentasikan penyalahgunaan kekuasaan, penindasan, marjinalisasi dan segala bentuk  kritis kemanusiaaan, proses ini tidak hannya melibatkan kemampuan kognitif, tapi  lebih dalam lagi melibatkan kesadaran dan pengalaman. Tak sebatas itu, literasi kritis juga dapat mengembangkan hasrat emansipatif untuk senantiasa menginginkan perubahan yang positif pada situasi sisio-cultural manusia.

Perkembangan Pedagogik Literasi Kritis di Dunia Pendidikan

Pada bagian ini, penulis akan memaparkan perkembangan pedagogik literasi kritis dalam dunia pendidikan. Beberapa riset mengenai  proses pedagogik literasi kritis telah dilakukan oleh beberapa peneliti nasional maupun internasional.

Satu, pembelajaran dioalogis dapat dimaknai sebagai pembelajaran berbasis konstruktivisme sosial. Guru menempatkan murid sebagai subjek pembangun ilmu. Siswa dan guru memiliki posisi yang sejajar dalam proses komunikasi yang intersubjektif.  Guru dan siswa belajar kolaborasi membangun ilmu, menamai dunia, melakukan refleksi, berdialog bersama dalam otonomi mereka sebagai subjek atau agen yang mengemansipasi kehidupan

Kedua, Pembelajaran hadap masalah,  pembelajaran yang menjadikan masalah-masalah kemanusiaan sebagai bahan refleksi untuk disikapi secara kritis. Penghadapan masalah-masalah manusia dalam hubungannya dengan dunia secara sadar dan bersifat intensionalitis. Melalui pembelajaran hadap masalah, siswa akan memiliki kacamata kritis yang mengimunisasi kesadaran mereka akan reaitas yang timpang dalam kehidupan masyarakat.

Ketiga, elemen selanjutnya adalah tema-tema zaman yang kontradiktif seperti kemiskinan, fenomena  kontradiktif dan korupsi yang sedang membumi dan mengancam humanitas dewasa ini

Desain Pedagogik Literasi Kritis

Melalui kegiatan pencarian informasi fakta dan opini serta peristiwa ketimpangan sosial dalam teks diyakini membantu anak  mengasah mata analitik mereka terhadap  realitas sosial yang diyakini membantu anak mengasah mata analitik mereka terhadap realitas sosial yang terjadi pada teks. Berkaitan dengan hal ini, literasi kritis menunjukkan keterlibatan mengenai partisipasi dinamis dengan informasi di sekitar kita yang memerlukan kebutuhan untuk berpikir kritis. Terlebih lagi, literasi kritis juga dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang ada.

Literasi kritis juga merupakan bentuk pemahaman evaluasi kritis untuk memahami informasi dari teks. Penggambaran ini selanjutnya dianjurkan oleh Hammond dan Macken-Horarik (1999) yang menyatakan bahwa dasar-dasar literasi kritis berkisar pada keterampilan membaca dan menulis dengan mata kritis lebih banyak lagi dalam beragam dimensi kehidupan.

Lebih jauh lagi menurut Rosenblat (2004) proses membaca kritis memungkinkan  pembaca tidak hanya memainkan peran pemecah kode, dalam arti penulis dan pembaca teks, namun juga berperan sebagai pengkritik teks. Maka dalam konteks ini, jika siswa tidak diajari bagaimana membaca secara kritis karena mereka dapat dipinggirkan, didiskriminasikan atau tidak dapat bertindak secara aktif dalam relasi kehidupan.

Singkatnya siswa tidak dapat mengendalikan mada depan sosialnya. Mengacu pada pendapat para ahli tersebut pada disimpulkan bahwa keterampilan literasi kritis melibatkan aktivitas membaca teks dengan melibatkan mata analitik dan kemampuan berpikir krisis dalam menemukan ketimpangan sosial yang menggejala, setelah itu siswa mengambil tindakan proaktif untuk merubahnya dengan beberapa alternatif solusi.

Oleh: Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment