Keberadaan Muhammadiyah dalam Perkembangan Pendidikan Nasional di Indonesia

Modernis.co – Indonesia merupakan negara yang mempunyai sejarah pendidikan yang beragam. Hal ini dikarenakan banyak organisasi-organisasi yang juga mencantumkan pendidikan sebagai sarana pergerakan maupun komitmen.

Dari sekian banyak organisasi tersebut dapat kita ketahui Muhammadiyah adalah salah satu organisasi yang sampai saat ini masih menunjukkan keberadaannya, dan bahkan berkembang dengan sangat pesat seiring perkembangan zaman. Adanya keberadaan pergerakan Muhammadiyah tidaklah lepas dari sosok KH. Ahmad Dahlan (1868-1923). Ia merupakan pribadi unik yang lahir di kampung Kauman, Jogyakarta.


Muhammadiyah telah mengalami tantangan dan rintangan bahkan sejak awal berdiri. Diawali dengan ajaran Islam yang masih dianggap tabu pada dunia pendidikan pada masa kolonialisme Belanda serta untuk mencapai dari salah satu tujuan dari imperialisme dan kolonialisme yaitu menyebarkan agama Kristen di tanah jajahan, setelah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.


Maka tantangan Muhammadiyah pun berubah yakni bagaimana melawan pengaruh tentara Jepang yang sedang memberikan doktrin untuk rela mati dalam peperangan guna membantu tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka pun, dunia pendidikan Indonesia masih belum tertata dengan rapi. Hal ini terjadi karena pemerintah serta semua elemen masyarakat termasuk Muhammadiyah masih fokus untuk menjaga kedaulatan NKRI.


Lantas bagaimana peran muhammadiyah daam perkembangan pendidikan? Pada zaman orde barulah, Muhammadiyah dan pendidikan Islam modern berkembang sangat pesat, karena pemerintah pada saat itu menfokuskan pembangunan termasuk didalamnya membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Di era reformasi ini, Muhammadiyah telah mampu bersaing dalam dunia pendidikan baik nasional maupun internasional.


Pencapaian Muhammadiyah dalam bidang pendidikan amat luar biasa, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi menjadi bukti bahwa Muhammadiyah tidak main-main dalam mencapai tujuannya. Hal ini tentu saja karena dilandasi oleh keinginan dan kesungguhan yang amat kuat. Aspek filosofis, psikologis dan sosiologis menjadi perhatian utama dalam menyelenggarakan pendidikan yang bermutu serta terjangkau oleh masyarakat luas.


Keberadaan pendidikan Muhammadiyah pada masa lampau, merupakan suatu wujud amal shalih. K.H. Ahmad Dahlan mampu menawarkan model pendidikan baru sebagai pemba-haruan (ashlah) dari pendidikan konvensional sekolah Belanda dan pesantren. Pendidikan Muhammadiyah juga mampu melahirkan generasi baru yang “lebih Jurnal Tarbawi” dibandingkan dengan alumni pesantren dan sekolah Belanda.


Pendidikan Muhammadiyah saat ini (orde baru) di pandang secara kuantitatif dan kualitatif, jauh lebih baik dibandingkan dengan pendidikan Muhammadiyah jaman K.H. Ahmad Dahlan. Tetapi, jika diletakkan dalam kerangka pembaharuannya dan amal shalih yang melandasi aktivitasnya, nampaknya pendidikan Muhammadiyah saat ini mengalami banyak kekurangan.


Kekurangan tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya kibrah para pengelola pendidikan, terlalu beratnya tantangan yang dihadapi atau kompleksitas persoalan yang harus dipecahkan. Sebaliknya Muhammadiyah pun mendirikan sekolah umum model pemerintah seperti Kweekschool (sekolah guru) tetapi tidak netral agama.

Dengan predikatnya sebagai pembaharu, Muhammadiyah menyusun kurikulum pengajaran di sekolah-sekolahnya mendekati rencana pelajaran sekolah- sekolah pemerintah.

Pada pusat-pusat pendidikan Muhammadiyah disiplin- disiplin sekuler (ilmu umum) diajarkan, walaupun ia mendasarkan sekolahnya pada masalah-masalah agama.
Muhammadiyah mampu masuk kedalam sendi-sendi kehidupan masyarakat melalui berbagai cara, salah satunya di bidang pendidikan.

Muhammadiyah hadir berkat buah fikir K.H. Ahmad Dahlan yang telah berfikir kritis dan modern. Dengan cara mengaplikasikan ilmu agama dan ilmu umum, Muhammadiyah mampu bertahan dan dapat mengikuti perkembangan jaman tanpa melupakan tujuan utama didirikannya Muhammadiyah.

Keberadaan Muhammadiyah harus dijaga dan harus menjadi contoh-contoh bagi organisasi non pemerintah lainnya yang mengabdi untuk bangsa dan negara.

Oleh: Siti Wardah Annisa, Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment