Kampus, Orang Tua dan Nalar Kritis

Modernis.co, Malang – Kali ini kita membahas tentang Kampus yang merupakan rumah kedua bagi mahasiswanya. Sebagaimana kita ketahui, rumah merupakan tempat kita mendapatkan ketenangan dari tekanan baik itu tekanan dari luar maupun tekanan dari dalam.

Adapun komponen yang dapat disebut dengan rumah yaitu adanya orang tua, kakak, adik, dan hal-hal yang dapat menunjang kenyamanan. Sudah seharusnya atau kewajiban dari setiap komponen saling bekerja sama dalam mewujudkan keamanan atau kenyamanan hidup dalam suatu rumah, yang sering kita sebut sebagai rumah Idaman.

Begitu pula dengan kampus, yang mana merupak rumah ke dua bagi mahasiswa nya. Sama halnya seperti rumah, kampuspun mempunyai komponen dalam mewujudkan kampus idaman adanya dosen-dosen dan para staf selaku orang tua mahasiswa di rumah keduanya.

Tentunya hal ini tidak terlepas dalam kewajiban berkomunikasi yang baik agar tercapainya tujuan dari kampus itu sendiri. Tujuan ini akan tercapai apabila adanya kenyamanan di dalam suatu rumah.

Baik itu kenyamanan yang diberikan orang tua ke anaknya, maupun rasa hormat anak yang selalu diberikan kepada orang tuanya dengan menimbang batasan-batasan dari rumah itu sendiri.

Namun ketika ada suatu masalah yang terjadi antara komponen keluarga, hendaklah komponen tersebut mencari jalan tengan dalam perselisihan yang ada. Dengan mengedepankan rasa cinta kasih hingga tidak ada perpecahbelahan.

Tentunya selaku orang tua wajib mengajarkan anak nya menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi kehidupan. dan orang tua pun menjadi hal yang mutlak agar dapat memberi contoh atau pedoman bagi anaknya.

Terlepas dari itu banyak sekali permasalah yang sering terjadi di lingkungan keluarga, namun hendaknya tidak menjadi baperan dengan masalah tersebut.

Baik anak yang baperan, maupun orang tua yang baperan hal ini tidak harus terjadi dan ini akan menghambat terwujudnya rumah idaman baik dalam lingkungan keluarga maupun kampus sebagai rumah kedua mahasiswa

Tentunya orang tua hendak menjadikan anaknya yang menjadi insan yang lebih baik lagi untuk masa depan, seperti halnya orang tua menginginkan anaknya kritis dalam membuat perhitungan dan memiliki aturan atau etika.

Dan ini harus selalu dipupuk oleh orang tua walaupun yang dikritisi orang tuanya sendiri, karena itu mewujudkan suatu keberhasilan mendidik anak. Lain halnya ketika orang tua dikritik mulai merasa baper, maka dengan tegas saya katakan “tujuan keluarga atau kampus idaman tidak akan terwujudkan.”

Bagi seorang anakpun tentunya memiliki aturan dalam mengkritisi suatu kejadian, dan disitulah peran orang tua dalam membimbung anak, bukan menjauhi sebab yang di kritik orang tua itu sendiri. Bukan mengajarkan maupun meluruskan namun teman saya pernah mengatakan “orang tua bukan Tuhan yang Maha Benar.”

Anak salah wajar, disitulah peran orang tua dalam mengajar. Ketika kritikan dibalas dengan hempasan, maka rasa hormat hanya dapat diambil dari rasa ketakutan bukan lagi kasih sayang.

Hal ini sangat memprihatinkan hendaknya orang tua menjadikan tempat mengadu dan tempat menimbulkan rasa nyaman dalam hidup berkeluarga yang menimbulkan cinta dalam rasa hormat, bukannya ketakutan.

Jika hal ini sudah terjadi apabila rasa hormat di dapatkan dengan cara menakuti? maka sekali lagi saya katakan “tujuan keluarga atau kampus idaman tidak akan terwujudkan.”

Stop baperan, kritisnya seorang anak merupakan keberhasilan orang tua dalam mendidik demi kehidupan dalam mencapai rumah idaman.

Oleh: OomPanjul (Mahasiswa STKIP Muhammadiyah Bungo Jambi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment