Jejak Tokoh Aktivis Perempuan Muhammadiyah

Modernis.co, Malang – Isu feminis tentu tak perlu kita bahas lagi secara etimologi maupun epistimologi, namun secara eksistensi tak bisa kita tinggalkan melihat fakta yang senyatanya tak sesuai dengan yang seharusnya. Kita tahu budaya patriarki adalah penyebab utama lahirnya deskriminasi. Konstruksi pemahaman masyarakat yang tercipta dari mitologi-mitologi klasik menuai banyak polemik dan ramai dikritik.

Bagaimana mungkin mitos-mitos yang fiktif berakibat pada paham-paham yang deskriminatif. Perempuan menjadi korban. Dilegitimasi dengan ajaran-ajaran agama seakan-akan bakal ditaati sebagai norma. Penerapan metodologi dalam menafsirkan teks suci agaknya harus dikoreksi.

Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan reformasi yang memiliki spirit keislaman tinggi tentu tak abai melihat hal semacam ini. Lahirlah gerakan ‘Aisyiyah yang mencetuskan tokoh-tokoh perempuan hebat dan saling bersinergi demi kemajuan kaum perempuan.

Kita kenal Nyai Walidah penggagas forum “sopo tresno” yang merupakan cikal bakal berdirinya organisasi ‘Aisyiyah. Transformasi forum “sopo tresno” menjadi ‘Aisyiyah juga tak lepas dari kecakapan Siti Bariyah sebagai ketua pertama dalam organisasi tersebut. Kapasitas keilmuan dan kecakapan yang ia miliki mampu membawa perubahan dan membebaskan diri dari belenggu budaya yang selama ini mengubur potensi perempuan.

Beranjak sedikit dari ‘’Aisyiyah, Muhammadiyah juga memiliki tokoh-tokoh perempuan hebat yang banyak berkiprah di bidang kesetaraan gender. Ibu Profesor Chamamah dan Ruhaini Dzuhayatin merupakan sebagian dari sekian banyak tokoh perempuan hebat yang aktif dalam bidang pengkajian hukum Muhammadiyah yakni Majelis Tarjih dan Tajdid, di mana kala itu mayoritas anggota organisasi tersebut adalah laki-laki. 

Profil Feminis Muhammadiyah

Sepanjang sejarah, kesetaraan gender selalu menjadi isu yang krusial untuk diperbincangkan. Kerap menjadi beban moral bagi para perempuan secara umum, namun tidak semua perempuan mampu bergerak dan menyuarakan hasrat kegelisahannya.

Muhammadiyah melahirkan tokoh-tokoh perempuan tangguh yang akan disorot dalam artikel ini, yaitu nyai Walidah, Siti Bariyah, Ibu Profesor Chamamah dan Siti Ruhaini Dzuhayatin. Keempat tokoh berpengaruh tersebut sudah cukup mencerminkan tokoh-tokoh aktivis perempuan lainnya dalam menyuarakan perubahan dan memerdekakan perempuan yang selama ini termarjinalkan.

Pertama, Nyai Ahmad Dahlan yang bernama asli Siti Walidah merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang banyak berkiprah di bidang keperempuanan. Mulai dari bidang pendidikan sampai bidang pemberdayaan sosial.

Dalam bidang pendidikan, Nyai Walidah menggagas konsep pendidikan “catur pusat”. Formulasi “catur pusat” terdiri dari empat komponen, yakni pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan rumah ibadah. Ditemani suaminya KH. Ahmad Dahlan yang sangat empati terhadap pemberdayaan perempuan, dibentuklah forum “sopo tresno” yang saat ini berkembang menjadi organisasi “’Aisyiyah”.

Cita-cita Nyai Walidah tidak lain dan tidak bukan untuk memajukan bangsa terutama perempuan. Ia mengemukakan pentingnya pendidikan sebagai komponen paling mendasar yang harus dibangun. Salah satu kiprah besarnya dalam dunia pendidikan adalah didirikannya asrama perempuan Kweekschool Muhammadiyah Perempuan (Madrasah Muallimat Muhammadiyah) yang saat ini menjadi cikal bakal eksisnya pendidikan berbasis pesantren.

Tak kalah populernya, Nyai Walidah juga dinobatkan sebagai pahlawan Nasional melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971 pemerintah RI. Setelah suaminya wafat, ia juga memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya dan untuk pertama kalinya kongres besar itu dipimpin oleh seorang wanita. Hal ini pun menjadi viral diberbagai surat kabar kala itu.

Kedua, Siti Bariah lahir di Kauman pada 1325 H dan menjadi ketua pertama dalam organisasi Aisyiah. Terpilihnya sebagai ketua ‘Aisyiyah tentu berdasarkan kualitastas keilmuan dan besarnya pengalaman yang ia miliki. Selain karena antusiasnya dalam forum pengajian “sopo tresno”, Bariah juga dinilai memiliki pemikiran yang modern berdasarkan pengalaman pendidikan yang ia tempuh di Neutraal Meisjes School sekolah Belanda saat itu.

Konon, kepiawayannya dalam berbahasa Belanda dan Melayu yang ia terapkan dalam forum kajian “sopo tresno” kerap menarik perhatian masyarakat untuk berbondong-bondong mengikuti pengajian tersebut. Selain menjadi perintis majalah ‘Aisyiyah, performa intelek Siti Bariah juga membuatnya dipercaya untuk menafsirkan artikel di suara Muhammadiyah yang berjudul “Tafsir Maksoed Moehammadijah” edisi no 9 th. Ke 4 September 1923 pada masa kepemimpinan KH. Ibrahim.

Ketiga, Ibu Profesor Chamamah adalah salah satu aktivis perempuan yang banyak berkiprah di Muhammadiyah. Perempuan kelahiran Kauman 24 Januari 1941 ini pernah menjabat sebagai ketua umum PP Nasyiatul Aisyiyah dan menjabat pula sebagai ketua umum PP ‘Aisyiyah selama dua periode. Kebanggaan yang patut dihargai pula bagi Chamamah dengan prestasinya sebagai salah satu perempuan pertama yang duduk di meja Majelis Tarjih dan Tajdid, di mana saat itu mayoritas anggotanya didominasi oleh laki-laki.

Menurut budayawan sekaligus intelektual muslim Emha Ainun Najib yang akrab kita sapa sebagai Cak Nun, Ibu Chamamah merupakan tokoh perempuan yang menyimbolkan ketidakjumudan. Sejalan dengan itu, kepekaan Chamamah dalam ranah sosial maupun intelektual terkhusus mengenai gender kerap kali ia tampilkan dalam beberapa argumennya di berbagai media.

Dalam  acara puncak peringatan Milad ke 102 Aisyiyah yang dirilis dalam Suara Muhammadiyah, Chamamah menyatakan bahwa organisasi ‘Aisyiyah telah menjadi pelopor bagi kebangkitan wanita dengan menjunjung tinggi pendidikan. Bahwa pendidikan merupakan fondasi awal bagi perempuan untuk membawa perubahan dan melakukan pembangunan agar terbebas dari ketertinggalan.

Keempat, Siti Ruhaini Dzuhayatin lahir di Kabupaten Blora Jawa Tengah 17 Mei 196, tumbuh besar di lingkungan keluarga Muhammadiyah yang moderat dan mengenyam pendidikan di pondok pesantren berbasis modern. Ia adalah salah satu penerus Ibu Chamamah di Majelis Tarjih.

Kritisnya terhadap kesetaraan mulai tumbuh sejak ia hidup di pesantren Pabelan Magelang. Tempat ia belajar studi keislaman memberikan kesadaran dan membuka pemikirannya atas interpretasi dan ajaran Islam yang menyiratkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Ia percaya bahwa Islam tidak mengajarkan perbedaan ataupun mengunggulkan laki-laki dari perempuan.

Prinsip hidup yang ia terapkan adalah intellectualism and activism berangkat dari pepatah Arab “al Ilmu bila ‘amalin ka syajari bila tsamarin” (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah). Dijuluki sebagai Ibu Gender karena kiprahnya yang sangat signifikan dalam bidang kesetaraan dan keadilan gender.

Ruhaini juga terlibat secara nyata dalam lembaga perlindungan pada perempuan korban kekerasan Rifka Annisa Women’s Crisis Center, lembaga pioner yang menjadi rujukan bagi lembaga-lembaga perlindungan lain. Julukan Ibu Gender tampaknya pantas ia sandang dengan berbagai giat dan gelagatnya menyuarakan keadaan perempuan dalam berbagai kompleksitas problematika gender.

Kompetensi inteleknya tentang gender bisa kita temukan dalam berbagai karya tulisnya, mulai dari permasalahan feminis dalam ranah organisasi Muhammadiyah sendiri, dalam tingkat nasional maupun internasional.

Spirit Pembaharuan

Sepanjang lintas sejarah adat dan budaya menuai keterpurukan bagi perempuan. Tradisi patriarki membangun paham bahwa otoritas laki-laki lebih unggul dari perempuan. Tidak hanya itu, sebelum Islam datang wanita seakan tidak dianggap sebagai manusia yang harus diperlakukan dengan manusiawi.

Dengan berjalannya waktu berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat martabat perempuan dan membangkitkannya dari keterpurukan. Inilah salah satu misi Islam. Spirit kebangkitan kaum perempuaan sebagaimana divisualisasikan oleh keempat tokoh di atas dapat kita jadikan sebagai bahan percontohan.

Patut disadari bahwa perempuan juga harus berpartisipasi dan mengambil peran untuk mewujudkan perubahan dan menuntut keadilan. Keadilan tidak bisa diwujudkan hanya dengan menyuarakan protes dan demonstrasi, tapi harus dibuktikan bahwa perempuan juga punya kapabilitas yang patut dihargai.

Keempat tokoh inspiratif cukup memberikan angin segar bagi para perempuan generasi mendatang untuk tidak berhenti berjuang. Akhir kata, Ibu kita Kartini mengatakan bahwa “Bukan laki-laki yang hendak kami(perempuan) lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang”.

Oleh: Alfia Nur Aulia (Mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment