Historis Perkembangan Hukum Islam pada Masa Tabi’in

Modernis.co, Malang – Hukum Islam atau yang kita tau nama lainnya sebagai Tasyri  merupakan salah satu disiplin ilmu yang mencakup tentang aturan-aturan yang mengatur tentang hubungan antara manusia dengan Allah (Habluminallah) dan manusia dengan manusia (Habluminannas). Hukum Islam sendiri telah berkembang sejak zaman Rasulullah, kemudian yang diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin, selanjutnya diteruskan oleh para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan dilanjutkan pada para alim ulama hingga saat ini.

Pada masa Tabi’in ini, perkembangan hukum Islam ditandai dengan adanya aliran politik yang secara tidak langsung terbentuknya aliran hukum. Beberapa faktor yang mendorong perkembangan hukum Islam diantaranya perluasan wilayah dan adanya perbedaan dalam penggunaan ra’yu. Thaha Jabir Fayadl Al’ulwani berpendapat bahwa para ulama mazhab berjumlah tiga belas aliran, namun tidak semua aliran tersebut diketahui dalam dasar-dasar dan metodenya.

Dari ketiga belas para ulama mazhab tersebut, hanya beberapa yang memiliki murid dan pengikut hingga saat ini yang diantaranya Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hanbali, dan Imam Malik.

Imam Syafi’i

Imam Syafi’i yang merupakan salah satu cucu saudara perempuan ibu Ali Bin Abi Thalib yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bi a-Abbas bin Syafi’i bin al-Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim yang lahir pada bulan Rajab Tahun 150 H di Gaza, Palestina. Imam as-Syafi’i mengemukakan pendapat bahwa hukum Islam mestinya bersumber dari Al-qur’an dan Sunnah serta Ijma’. Apabila dari ketiga sumber itu tidak menemukan hasil maka baru melakukan qiyas dan istishab.

Cara ijtihad yang dilakukan oleh Imam Syafi’i pada umumnya sama seperti dengan yang lain, namun yang membedakan yaitu dalam menentukan thuruq al-istinbath al-ahkam. Langkah- langkah yang dilakukan oleh Imam Syafi’i dalam melakukan ijtihadnya diantaranya  yaitu Ashal. Apabila tidak ditemukan, maka selanjutnya adalah melakukan qiyas. Imam Syafi’i sangat mengutamakan hadis yang zhahir (muttasil dan sanadnya shahih) dan menolah hadits munqathi’.

Imam Syafi’i juga memiliki dua qaul, yaitu qaul qadim (pandangan fiqih pada masa lalu) dan qaul jadid (pandangan fiqih pada versi terbaru). Alasan itulah yang menjadikan sebuah alasan para tokoh pembaharu Islam dalam melakukan kodifikasi Fiqih Islam. Dalam kitab al’-Umm dijelaskan juga mengenai pendapat dari Imam Syafi’i Yang kemudian ajaran Imam Syafi’i tersebut dikenal sebagai aliran Syafi’iyah.

Imam Hanafi

Nama asli Imam Hanafi ialah Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin Zauti At-Taimi Al-Kufi, yang lahir di Kuffah pada tahun 80 H. Beliau termasuk seseorang yang cukup beruntung karena sempat menyaksikan dan meriwayatkan hadis dari para sahabat Rasulullah yang diantaranya Anas bin Malik, Sahl bin al-Saidi, dan Abu Tubail Amin Warsilah.

Imam Hanafi dikenal sebagai sosok mujtahid yang taat beribadah dan ahli zuhud yang  mencapai tingkatan Ma’fifat kepada Allah SWT. Ia juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi khususnya pada bidang Mantiq dan menetapkan suatu hukum syara’ dengan menggunakan qiyas dan istihsan, serta terkenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam menerima suatu hadis.

Dalam riwayat, Para ulama Hanafiah telah membagi masalah Fiqih kedalam bagian yang diantaranya Masailul-Ushul, kemudian Masailun-Nawadir, dan Al-Fatwa Wal Waqi’at yang membahas tentang masalah keagamaan yang istinbathnya berasal dari para ulama mujtahid yang bermazhab Hanafiyah.

Imam Malik

Memiliki nama lengkap Abu Abdillah Malik bin Anas as-Syabahi Al-Arabi bin Malik bin Abu ‘Amir bin Harits. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 93 H. Ia juga dikenal sebagai sosok yang berbudi mulia, cerdas, pemberani, dan teguh, serta tegas dalam menentukan suatu hukum syari’i. Dan juga  merupakan salah satu ulama Yang merupakan guru dari Imam Syafi’i.

Cara ijtihad Imam Malik yang diterapkan yaitu dengan mengambil Al-qur’an, kemudian menggunakan zhahir Qur’an yang lafadz-lafadz umum (sunnah Nabi), selanjutnya menggunakan dalil mafhum al-muwafaqoh, menggunakan mafhum Al-qur’an yaitu mafhum mukhalafah dan menggunakan tanbih Al-quran dengan memperhatikan ‘illat yang dikenal dengan sebutan Ushul Khamsah. Ajarannya pun dikenal dengan aliran Malikiyah.

Imam Hanbali

Beliau lahir di kota Maru (Baghdad, Iraq) pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164H dengan nama lengkapnya adalah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn As’ad ibn Idris ibn Abdillah ibn Hayyan ibn Abdillah ibn Anas Ibn ‘Auf ibn Qosit ibn Mazin ibn Syaiban ibn Zulal ibn Ismail ibn Ibrahim, yang merupakan keturunan arab yang berasal dari bani Syaiban.

Beliau juga diusianya yang 16 tahun telah mampu menghafal Al-qur’an dan untuk pertama kalinya mempelajari hadis pada salah satu ahli ra’yu yaitu Abu Yusuf, dan memperlajari Fiqih dengan berguru pada Imam Syafi’i. Imam Hanbali dikenal sebagai ulama ahli fiqih dan ahli hadis yang kenamaan dikalangan masyarakatnya. Ajaran ini dikenal sebagai aliran Hanbaliyah

Semasa hidupnya, Imam Hanbali banyak melakukan analisa terhadap hadis Nabi yang selanjutnya disusun menurut sistematika isnad, sehingga karyanya dikenal sebagai kitab Musnad. Dan juga beliau lebih banyak menggunakan sunnah sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan Fiqih tradisional.

Pemikiran Imam bin Hanbali merujuk pada fatwa sahabat tanpa membeda-bedakan apakah berdasar pada Sunnah atau Atsar ataupun dari ijtihad mereka yang beliau anggap merupakan salah satu rujukan kedua setelah hadis dalam memahami hukum syara’ dan pula tidak pernah meggunakan qiyas dalam mengambil hukum syara’. Cara Imam Hanbali dalam ijtihad hampir sama dengan yang digunakan oleh Imam Syafi’i yang dibangun atas lima dasar, Yang diantaranya :

Menentukan Al-nushush dari Al-qur’an dan Sunnah, pabila tidak ditemukan hasil maka mengambil keputusan fatwa para sahabat, dan apabila berbeda-beda dalam berpendapat maka diambil yang mendekati isi dan kandungan Qur’an dan Sunnah, apabila dalam hadis Mursal dan Dhaif tidak didapati hasil juga maka dalam hal ini qiyas digunakan dalam keadaan terpaksa. Dan langkah terakhir menggunakan sadd al-dzara’i  dengan melakukan tindakan yang mencegah terhadap hal negatif.

Dari tiap madzhab pastinya memiliki perbedaan dalam mengambil hukum Islam dalam beristinbath sebab masing-masing memiliki caranya sendiri dalam ijtihadnya seperti ijma’, qiyas, istihhab, istihsan, saad al-dzara’i, al-maslahah mursalah, qoul shahabi, mura’at al-khilaf, dan syar’u man qoblana, yang pastinya telah sesuai dengan ketentuan sumber hukum Islam.

Oleh : Sabila Izza (Mahasiswi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang)   

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Comment