Fluktuasi Harga Bawang Merah dan Kesejahteraan Petani

Modernis.co, Malang – Pertanian merupakan salah satu sektor terpenting dalam perekonomian nasional, pertanian dapat membantu meningkatkan perekonomian nasional melalui peningkatan nilai ekonomis pada masing-masing komoditas.

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting bagi masyarakat indonesia karena fungsinya sebagai bumbu masak yang utama sehingga permintaan bawang cenderung meningkat,walaupun harga berfluktuatif.  Bawang merah juga merupakan salah satu komoditi pertanian penting dan strategis di Indonesia, beberapa alasan yang membuat bawang merah memiliki peran penting dan strategis sebagai berikut.

(1) Pengembangan komoditas bawang merah sebagai bagian dari subsektor hortikultura berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru bagi peningkatan PDB sektor pertanian. (2) Pengembangan produksi komoditas bawang merah mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan dan ketersediaan pangan. (3) Perubahan Harga bawang merah yang relatif cepat (berfluktuasi) dapat menyebabkan inflasi bagi perekonomian Indonesia. 

Berdasarkan areal panen bawang merah, lima Provinsi terbesar secara berturut-turut adalah Jawa Tengah (53.331 Ha), Jawa Timur (36.173 Ha), Nusa Tenggara Barat (18.251 Ha), Jawa Barat (14.046 Ha) dan Sulawesi Selatan (9.393 Ha). Potensi bawang merah sangat bagus karena tanaman ini dapat dibudidayakan hampir di seluruh Indonesia.

Tahun 2017-2019 produksi bawang merah mengalami peningkatan yakni 1.47 ton. 1,50 juta ton dan 1,58 juta ton. Angka tersebut sudah jauh melebihi kebutuhan bawang merah dalam negeri, namun permasalahan yang sering yang dihadapi oleh petani adalah fluktuasi harga yang tidak menentu yang setiap tahun selalu terjadi di seluruh Indonesia.

Fluktuasi harga ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor yaitu adanya hari-hari besar agama seperti Natal,Idul Fitri,dan Idul Adha. Namun faktor utama yang paling memberikan pengaruh terhadap fluktuasi harga adalah  panen raya di seluruh sentra bawang merah.

Fluktuasi harga yang selalu terjadi tentu sangat berpengaruh terhadap pendapatan petani. Biaya yang dikeluarkan petani dalam budidaya bawang merah tidaklah sedikit bisa mencapai puluhan juta hingga ratusan juta.  Selain berpengaruh terhadap pendapatan, fluktuasi harga juga berpengaruh terhadap harga bawang merah dan produksinya.

 Harga menjadi indikator dalam pendapatan, harga yang rendah tentu akan mengakibatkan rendahnya penerimaan yang didapatkan oleh petani. Produksi mengikuti harga, apabila terjadi penurunan harga otomatis jumlah produksi juga akan berkurang hal ini akan menyebabkan kelangkaan produk di pasaran.

Harga bawang merah yang biasanya Rp.15.000/ kg turun drastis menjadi Rp. 5000/ kg, tentu harga ini jauh dibawah biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. Maka perlu  adanya solusi yang tepat dari pemerintah dan masyarakat agar harga bawang merah bisa stabil dan tidak merugikan pihak manapun, mengingat bawang merah adalah salah satu sayuran yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah pemerintah membuat kebijakan hulu hingga hilir. Dari hulu, mengupayakan dengan menjaga hasil panen agar stabil atau tidak mengalami kegagalan panen dan melakukan pengendalian terhadap impor bawang merah. Sedangkan pada hilir dapat dilakukan melalui kebijakan prognasa kebutuhan dan ketersedian pangan.

Prognasa kebutuhan dan ketersediaan pangan merupakan kebijakan yang memberikan informasi mengenai kondisi kebutuhan dan ketersediaan pangan baik ketika hari normal maupun ketika hari besar keagamaan yang disusun dengan format bulanan dalam satu daerah. Jika harga bawang merah di pasaran telah stabil karena adanya keseimbangan antara penawaran (produksi dengan permintaan (konsumsi), maka selisih harga bawang merah tiap bulannya menjadi kecil.

Oleh: Fera Nur Amalia, Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Universitas Muhammadiyah Malang

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment