Dampak Pandemi: Inflasi atau Deflasi?

Modernis.co, Malang – Di tahun 2020 tepatnya pada awal bulan Maret, virus Covid-19 telah resmi masuk ke Indonesia. Sudah terhitung pandemi Covid-19 berjalan kurang lebih selama 2 tahun. Dampaknya bukan hanya pada kondisi kesehatan, namun juga berdampak pada keadaan ekonomi. Banyak dari masyarakat mengalami penurunan pendapatan bahkan hingga kehilangan pekerjaan.

Adanya pandemi membuat tingkat produktivitas mengalami penurunan, ditambah dengan adanya pembatasan sosial di mana aktivitas masyarakat dibatasi sehingga membuat jalannya perekonomian terganggu. Dengan demikian pola konsumsi masyarakat juga berubah yaitu mengalami penurunan, yang mana dapat berpengaruh terhadap perkembangan tingkat harga barang dan jasa.

Permasalahan ekonomi sedikit demi sedikit akan mulai timbul salah satunya yaitu dengan adanya tingkat inflasi yang tinggi dan juga melemahnya nilai mata uang rupiah. Namun pertanyaannya, dengan adanya pandemi suatu negara akan mengalami inflasi atau deflasi?

Inflasi sendiri merupakan suatu proses meningkatnya harga secara merata dan terus menerus. Inflasi terjadi dikarenakan banyaknya uang beredar di masyarakat lebih banyak daripada kebutuhan. Sedangkan deflasi merupakan kebalikan dari inflasi di mana suatu periode harga-harga secara umum akan jatuh dan nilai mata uang akan bertambah. Deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang beredar.

Yang kita tahu selama ini, banyak masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan yang mana permintaan agregat juga akan menurun. Tingkat pengangguran juga meningkat karena adanya pandemi. Padahal konsumsi rumah tangga memiliki konstribusi yang terbesar terhadap perekonomian yaitu sebesar 55 persen dari PDB. Dilihat dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan kondisi ekonomi akan mengarah pada tingkat inflasi yang rendah, bahkan dapat terjadi deflasi.

Disisi lain pemerintah menetapkan akan adanya pembatasan mobilitas yang mana dapat menghambat jalannya produksi, distribusi, dan suplai barang dan jasa di pasar. Pemerintah juga memberikan berbagai berbagai bantuan kepada masyarakat umum yang bertujuan memberikan perlindungan sosial dimasa pandemi. Program yang diberikan seperti, PKH, diskon listrik, BST, dll.

Hal yang dilakukan oleh pemerintah akan membuat permintaan agregat naik yang melebihi tersedianya suplai barang dan jasa yang berkurang akibat adanya pandemi. Sebelum adanya pandemi, tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia berada pada tingkat yang cukup rendah.

Penurunan permintaan agregat juga menambah tekanan terhadap penurunan inflasi. Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede “kondisi Indonesia inflasi umum menurun ke level terendah dalam sejarah. Penyebab inflasi yang terjaga rendah salah satu penyebabnya karena permintaan kredit yang rendah,” ujarnya. Inflasi sepanjang tahun 2020 mencapai 1,68 persen. Terlihat dari Juli 2020 yang mengalami inflasi minus 0,1% alias deflasi.

Ketika diterapkannya kebijakan “New Normal” perlahan tingkat  inflasi mengalami kenaikan. Adanya vaksin juga membuat permintaan konsumsi sedikit demi sedikit akan pulih. Hal tersebut dikarenakan, yang semula dilakukan pembatasan sosial seperti pergi ke restaurant, bioskop namun sekarang masyarakat jadi lebih percaya dan pembatasan sosial juga sudah mulai berkurang.

Dengan menjaga suplai yang seimbang dan juga daya beli masyarakat yang sudah kembali normal merupakan hal yang penting ketika perekonomian sudah pulih, hal tersebut agar tidak terjadinya tekanan secara signifikan terhadap harga-harga di pasar. Laju inflasi pada bulan November 2021 sebesar 1,75 persen meningkat pada bulan Desember 2021 yaitu sebesar 1,87 persen, hal ini dapat menjadi sinyal akan adanya pemulihan ekonomi nasional.

Oleh: Naurah Asta Gina (Mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment