Bersaksinya Anggota Badan

Modernis.co, Lamongan – “Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami? kulit mereka menjawab, Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan” (QS. Fushilat: 20-21).

Dalam sehari semalam, 24 jam, setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan shalat fardlu 5 waktu. Yang mana setiap shalat didahului dengan wudlu. Allah berfirman tentang hal ini, “Hai orang-orang yang berfirman, apabila kamu hendak  mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengaan kedua mata  kaki” (QS.  al-Ma’idah: 6).

Jika diteliti lebih dalam, kegiatan wudlu ini dapat dijadikan ajang pembersihan diri, baik secara jasmani maupun rohani. Secara jasmani, jelas wudlu akan membersihkan anggota-anggota badan yang terkena basuhan air. Wudlu akan membersihkan diri seorang hamba ketika akan menghadap Tuhannya.

Secara rohani, wudlu juga dapat digunakan untuk membersihkan jiwa seseorang melakukan wudlu, hendaknya seseorang menyertainya dengan perenungan. Setiap ia membasuh anggota badan, hendaknya ia mencoba untuk jujur dan menasehati diri sendiri. Apakah ia sudah menggunakan anggota badan, hendaknya ia mencoba untuk jujur dan menasehati diri sendiri. Apakah ia sudah menggunakan anggota badan tersebut sesaui dengan kehendak Allah?

Mulut: Bagaimana ia selama ini menggunakan mulutnya? Sudahkah ia sanggup untuk berkata dengan baik dan jujur? Ataukah ia menggunakan mulutnya untuk suatu keburukan? Apakah ia sanggup untuk memilih diam, ketika harus memilih antara diam atau berbicara kebathilan?

Muka: Kemanakah selama ini wajahnya dihadapkan? Untuk mencari ridha Allah atau penilaian manusia semata? Sanggupkah wajahnya menyembunyikan rasa pahit dalam hati, untuk menguji kesabaran?

Tangan: Untuk hal apakah tangannya ia gunakan selama ini? Sudahkah ia berusaha sekuat tenaga (tangan) untuk mencari rizki yang halal? Maukah ia meletakkan tangannya di atas tangan-tangan yang kurang mampu?

Kepala: Sudahkah otak (kepala)nya ia gunakan untuk memikirkan kemaslahatan orang banyak? Apakah isi kepalanya sudah sanggup untuk menghindari prasanngka-prasangka buruk dan menumbuhkan prasangka yang baik?

Kaki: Kemanakah selama ini ia melangkahkan kaki? Apakah menuju jalan yang diridhai-Nya? Atau mungkin (justru) digunakan melangkah ke arah yang mengundang kemurkaan-Nya?

Menasehati diri sendiri ini sangat penting. Dengan begitu, diharapkan anggota-anggota tubuh tersebut bekerja untuk suatu kebaikan dan terhindari dari keburukan-keburukan yang mungkin akan ditimbulkannya.

Karena setiap perbuatan akan mempunyai balasan, maka perlu diingat bahwa, kelak anggota badan tersebut akan beraksi dengan sendirinya. Ia akan memberi kesaksian terhadap tuannya dengan kesaksian yang jujur. Dan manusia pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah kesaksian tersebut.

Oleh : Fathan Faris Saputro (Founder Rumah Baca Api Literasi)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment