Modernis.co, Malang — ECO Muhammadiyah Boarding School (MBS) Malang mengembangkan budidaya ayam petelur sebagai bagian dari upaya mendukung kebutuhan pangan sekaligus memberikan pengalaman belajar kepada santri.
Program yang telah berjalan sekitar satu bulan ini tidak hanya berfokus pada produksi telur, tetapi juga mengintegrasikan pemanfaatan sisa makanan dan limbah peternakan untuk mendukung kegiatan pertanian di lingkungan MBS.
ECO MBS yang berlokasi di Jalan Joyo Agung No. 5, Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, saat ini dihuni oleh 13 santri. Program budidaya ayam petelur tersebut berawal dari kegiatan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang pernah berlangsung di ECO MBS.
Saat ini terdapat 18 ekor ayam yang berada dalam program budidaya tersebut. Sebanyak delapan ekor diantaranya sudah aktif bertelur, sedangkan sepuluh ekor lainnya masih berada dalam tahap pra-produksi.
Ayam yang sudah produktif mampu menghasilkan sekitar enam hingga delapan butir telur per hari. Telur yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian santri. Dengan demikian, hasil budidaya tidak hanya menjadi produk peternakan, tetapi juga berkontribusi terhadap kebutuhan pangan yang dikonsumsi langsung di lingkungan MBS.
Andika, salah satu tim ekologi ECO MBS, menjelaskan bahwa program tersebut dikembangkan dengan menggabungkan aspek pangan dan edukasi.
“Program ini bukan hanya tentang menghasilkan telur. Kami ingin santri juga belajar bagaimana sebuah sumber daya bisa dimanfaatkan dari awal sampai akhir. Telur bisa dikonsumsi, sisa makanan bisa dimanfaatkan sebagai pakan, kemudian limbahnya juga bisa dikembalikan ke lingkungan sebagai pupuk,” ujarnya.
Ia menambahkan keterlibatan santri masih dilakukan secara bertahap. Saat ini santri memiliki jadwal piket untuk memanen telur dan membantu menjemur cangkang telur. Kegiatan tersebut menjadi bentuk awal keterlibatan santri dalam pengelolaan peternakan.

“Alas kandang kami menggunakan daun kering dan sekam. Jadi kotorannya tidak hanya menjadi limbah. Semuanya bisa diproses menjadi kompos. Jadi satu kegiatan bisa memberikan beberapa manfaat sekaligus,” jelas Mas Andika.
Cangkang telur juga tidak langsung dibuang. Setelah telur dikonsumsi, cangkangnya dikumpulkan dan dijemur. Cangkang yang sudah kering kemudian dihancurkan untuk digunakan sebagai bahan tambahan dalam pengolahan pupuk bagi tanaman di garden ECO MBS.
“Di sini prinsipnya tidak boleh ada yang sia-sia. Semuanya harus berputar. Ayam menghasilkan telur untuk makanan, cangkang telur bisa menjadi campuran pupuk, sementara kotoran ayam juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk,” ujar pungkasnya.
Konsep tersebut membuat budidaya ayam petelur di ECO MBS memiliki keterkaitan antara peternakan, pangan, dan pengelolaan lingkungan. Sisa makanan dimanfaatkan sebagai pakan, telur digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sedangkan kotoran ayam dan cangkang telur dimanfaatkan kembali untuk mendukung pertumbuhan tanaman. (UK)


Kirim Tulisan Lewat Sini