Belajar Daring Membuat Kepala Pusing

Modernis.co, Malang – Sudah hampir satu tahun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dilaksanakan. Kita hanya bisa mengerjakan sesuatu hal dirumah saja, seperti sistem pendidikan yang dilakukan secara daring. Banyak keluhan dari orangtua dan juga murid. Sejak saat itulah kita berfikir sampai kapan kita melaksanakan pembelajaran dengan tatap muka. Guru dan juga murid belum siap dengan adanya pembelajaran secara online dan tak semua guru paham akan internet dan aplikasi-aplikasi.

Sebenarnya sebagian pelajar kurang suka dengan adanya metode pembelajaran secara daring. Mungkin alasannya agar situasi sekarang bisa kembali secara normal lagi. Tapi jika di lihat-lihat tempat wisata dan tempat orang-orang berkumpul sudah dibuka.
Kenapa dengan sekolah tetap ditutup yang di mana perkembangan karakter anak yang banyak calon generasi penerus bangsa sangat di butuhkan? Sedangkan para pelajar dituntut untuk belajar melalui internet. Yang di mana tidak semua pelajar dapat memahami materi yang dijelaskan guru ataupun dosen mereka

Hal yang paling tidak disukai pelajar yaitu setiap hari pasti ada tugas dalam bentuk foto, video, dan uploud tugas yang sudah dikerjakan dan dikumpulkan di hari itu juga. Sehingga membuat para pelajar pusing dan stress.

Di saat pandemi ini guru bukanlah pendidik yang utama karena guru memiliki keterbatasan waktu, lalu pendidik yang utama adalah orang tua yang bisa memantau perkembangan anak secara formal maupun informal. Orang tua mendadak menjadi guru untuk anaknya bahkan mereka harus membagi waktunya untuk bekerja. Bahkan ketika pandemi adapun biaya SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) tidak ada pemotongan sama sekali sehingga membuat orang tua frustasi.

Pembelajaran daring ini memerlukan jaringan internet, laptop, komputer, telepon, dan sebagaianya. Tidak semua pelajar memiliki fasilitas yang memadai selama daring. Seringkali pelajar mendapat beberapa gangguan sehingga sulit untuk dihubungi mengakibatkan banyak pelajar yang terlambat absen, tidak bisa mengikuti kuliah melalui aplikasi zoom / google meet, tidak bisa mendownload materi.

Jika di kampus atau di sekolah ada materi yang kurang dipahami mungkin akan lebih mudah untuk mendiskusikannya. Namun dalam pembelajaran daring ini jika ada yang bicara kemungkinan yang lain secara bersamaan ikut berbicara dan sulit untuk mengontrol situasi. Banyak juga pelajar yang kurang paham mengenai materi, sehingga ketika presentasi dan mempunya banyak tugas membuat pelajar merasa kesulitan dalam.

Meskipun hanya belajar di rumah saja pelajar tidak bisa menikmati berkumpul dengan keluarga karena harus menghadapi tugas-tugas yang diberikan guru. Dan waktu dirumah hanya dihabiskan untuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Terkadang ada dosen yang tidak menerangkan materi tetapi langsung memberikan tugas yang banyak.

Biasanya pelajar membeli kuota internet sebulan sekali tetapi selama pandemi ini pelajar bisa membeli kuota internet hingga 4 kali dalam sebulan. Selain itu yang memakai wi-fi kadang bermasalah, entah dari perusahaanya atau hal lain.

Kebijakan pembelajaran sistem daring ini sebenarnya terdapat peluang yaitu Mahasiswa bisa belajar dimana saja, salah satunya dirumah. Peluang yang lainnya adalah kita bisa menjadi lebih paham akan teknologi dan membuat lebih mudah kita mengakseskan tugas-tugas.

Aplikasi belajar online dikembangkan dengan menyediakan fitur dengan memudahkan dalam melakukan belajar online. Di masa pandemic ini juga banyak yang mengadakan kursus online gratis atau ada yang memberikan diskonan sesuai situasi sekarang ini.

Untuk melakukan perubahan positif yaitu mulailah dengan tawakal kepada Allah dengan begitu kita akan mendapatkan kekuatan untuk melakukan perubahan dan berfikir postif yang akan berpengaruh terhadap kondisi jiwa.

Oleh : Salsabila Aufa Hananda (Mahasiswa UMM)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment