Asyiknya Lebaran di Tengah Pandemi Corona

Modernis.co, Jakarta – Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, agaknya Ramadhan dan lebaran tahun ini tidak semeriah biasanya. Suasana hangat bulan suci tidak begitu terasa.

Tadarus Al-quran, tarawih berjamaah hingga takbiran tidak bisa dilakukan bebas dan tanpa pengawasan. Penyebabnya satu, Virus Corona.

Tentu sedih tatkala kita tidak bisa bertatap muka dengan keluarga di rumah. Apalagi mereka yang merantau dan hanya punya kesempatan sekali dua kali saja dalam setahun. Tapi apalah daya, semua dilakukan demi menghambat penyebaran virus yang memiliki nama resmi Covid-19 ini.

Berbagai peraturan dan kebijakan juga sudah dikeluarkan pemerintah. Mulai dari Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2020 pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 tahun 2020.

Dikeluarkannya aturan tersebut tidak lain tidak bukan sebagai dasar hukum berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tidak hanya di Jakarta saja, pemberlakuan peraturan ini juga diikuti berbagai daerah di Indonesia.

Buntutnya, lebaran tahun ini terancam tanpa Salat Ied berjamaah. Menyedihkan memang, tapi ada beberapa sisi yang membuat lebaran di tengah pandemi ini jadi mengasyikkan. Lagipula, bukankah sebagai muslim kita harus selalu berbahagia dan bersyukur setiap kali menyambut hari raya Islam?

Tidak Ada Lagi Pertanyaan ‘Kapan Menikah

Alasan utama mengapa lebaran terasa mengasyikkan meski di tengah pandemi Corona adalah tidak adanya pertanyaan ‘kapan menikah?’. Sepele memang, hanya saja tidak jarang menjadi beban bagi mereka yang masih sendiri tanpa memiliki pasangan. Sepertinya, pertanyaan ‘kapan menikah’ menjadi pertanyaan favorit yang paling sering dilontarkan.

Pandangan orang-orang tua Jawa terkait pernikahan juga memperparah keadaan. Membuat mereka yang jomblo semakin kepikiran. Apalagi bagi mereka yang mendekati atau melewati usia kepala tiga. Ada saja omongan orang yang membuat sakit hati dan sedih.

Maka dari itu, paling tidak, lebaran di tengah pandemi saat ini punya sisi baik dengan mengurangi angka sakit  hati. Semakin sedikit bertemu orang, semakin kecil pula ditanya ‘kapan menikah’ bukan? Ya, meskipun seharusnya mereka yang menjaga lisan.

Basa-basi yang Menyakitkan Hati

Sebelas dua belas dengan alasan pertama, basa-basi saat hari raya tidak jarang membuat suasana hati semakin buruk. Ada saja obrolan yang sekilas biasa saja, tapi nyatanya punya efek yang panjang nantinya. ‘Kok belum dikasih momongan?’ dan ‘masih menganggur, ya?’ menjadi basa-basi yang sering kita dengar. Singkat, padat dan menohok.

Padahal mereka tidak tahu seberapa keras kita mencoba dan berusaha.‘Kok belum dikasih momongan’ contohnya. Tetangga dan kerabat memang tidak bermaksud menyindir. Hanya saja mereka tidak tahu betapa inginnya pasangan suami-istri untuk mendapatkan titipan.

Di samping itu, ada pula pasangan yang memang menunda memiliki momongan. Bukan karena tidak berkeinginan menjadi orang tua, tapi ada beberapa alasan tertentu dibalik keputusannya.

***

Edukasi Teknologi

Pada lebaran tahun ini, mau tidak mau setiap orang harus melek teknologi. Memahami bagaimana setiap aplikasi komunikasi bekerja agar bisa menghubungi keluarga jauh. Mungkin tidak akan masalah bagi mereka yang sudah mengenal teknologi sejak lama. Tapi bagaimana dengan mereka yang jarang atau bahkan tidak menyentuh gawai sama sekali?

Memang, orang tua jaman sekarang kebanyakan sudah memiliki gawai mereka sendiri. Namun, ada beberapa fitur yang belum dipahami. Tidak ada salahnya kita mengedukasi tentang cara melakukan video call, mengirim gambar atau juga membuat ucapan menggunakan aplikasi tertentu. Kapan lagi bisa berinteraksi dengan orangtua senyaman ini tanpa diburu waktu?

Tentu saja, tidak ada seorangpun yang menginginkan keadaan seperti ini berlangsung lama. Hanya berdiam diri di rumah, padahal biasanya bisa bebas bersilaturrahim ke rumah tetangga dan saudara. Tapi demi kemaslahatan manusia, tidak ada salahnya menahan diri meski hanya sekadar bertegur sapa.

Oleh: Hassanalwildan Ahmad Zain (Alumnus Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment