Aksentuasi Nafas IPM: Stagnasi atau Progresif

Modernis.co, Lamongan – Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dilahirkan untuk segenap memberikan sumbangsih pemikiran, tenaga dan moral dalam upaya membangun Persyarikatan dan Negara. Di perayaan Milad ke-60 tahun IPM merupakan kegiatan yang kondisinya berbeda dengan momentum milad yang diselenggarakan ditahun-tahun sebelumnya. 

Kondisi ini disebabkan adanya Covid-19 yang melanda hampir seluruh masyarakat dunia, bukan hanya di Indonesia saja, dan yang paling penting kita ketahui virus ini tidak memandang status jabatan seseorang, mulai dari masyarakat  kecil, orang kaya, pemerintah, bahkan sekelas Presiden semua bisa terinfeksi Virus yang sangat berbahaya tersebut.

Walaupun dengan keadaan dan kondisi berbeda saat ini, kader IPM tetap berupaya melakukan aktivitas, terutama dalam hal keilmuan yang bisa dilaksanakan. Momentum milad tentunya banyak doa dan harapan yang disampaikan kepada IPM sebagai ucapan penyemangat dan kebanggaan kader terhadap organisasinya. Disamping doa dan harapan, tidak bisa dimungkiri ada juga ucapan kritik dan saran sebagai bentuk evaluasi terhadap gerakan IPM yang akan datang.

Dalam konteks itu, Langgeng Tri Sanjaya dalam Jurnalnya mengatakan, masyarakat kini digemparkan dengan adanya Covid-19 yang dampaknya sangat buruk bagi perkembangan dan pertumbuhan sebuah Negara.

Topik ini selalu menjadi pembahasan hangat global dan tayangan berita televisi yang terus mencuak ke publik. Di sisi lain IPM pun terkena imbasnya kemudian melakukan serangkaian usaha untuk mengendalikan kondisi semaksimal mungkin, dengan diawali bergerknya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan Surat Edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang pembelajaran secara daring (dalam jaringan) dan luring (luar jaringan). (Kemendikbud, 2020). Hingga melakukan pekerjaan dari rumah Work From Home dalam rangka pencegahan Covid-19 dan mematuhi aturan dari pemerintah.

Maka dari itu IPM terpaksa tidak dapat berkegiatan secara tatap muka. Kondisi ini sebenarnya belum adanya kesiapan dan kematangan bagi semua kader-kader IPM, terlebih lagi kondisi setiap desa bahkan kota pun berbeda-beda. Oleh karena itu perlu adanya strategi dalam mengatasi dampak Covid-19 untuk kegiatan IPM.

Efek Kegiatan IPM di Tengah Pandemi

Dengan adanya pandemi Covid-19, peran fungsi IPM tidak berjalan dengan maksimal, bahkan banyak kegiatan program kerja yang tidak direalisasikan, mulai dari program kerja tingkat dasar hingga program kerja besar, dan itupun dapat menyebabkan IPM kehilangan bibit-bibit kader terbaiknya, mulai dari kader-kader tingkat SMP sampai tingkat Perguruan tinggi banyak yang hilang arah dan tidak tau betul apa itu IPM dan betapa pentingnya kita menikuti IPM.

Begitu juga IPM terancam kehilangan banyak kader, karena seorang kader tanpa adanya Ilmu baru dan arahan berpotensi korban kemalasan bahkan bobrok. lantaran banyak program kerja terkait pengkaderan tidak dilaksanakan dan tidak ada bimbingan atau arahan langsung dari IPM di masa pandemi Covid-19 ini, padahal masalah seperti itu bisa kita atasi dengan mengadakan kegiatan secara daring atau online.

***

Stagnasi Kegiatan IPM

Mengapa IPM tidak ada yang berfikir kritis, dan bersikap bijaksana dalam menyelamatkan generasi muda milenial ini khususnya dalam bidang pengkaderan di tengah serangan wabah Covid-19 ini. Sekarang ini dengan dalih semakin banyak dan meluasnya penyebaan virus ke wilayah Indonesia, maka hampir program kerja kita berhenti bahkan tenggelam. Dunia pengkaderan secara signifikan mengalami stagnasi dan pendangkalan penerusan ilmu pengetahuan secara sistematis.

Akibat ke depanya bagi kader bawahan dan calon penerus kita jika beberapa kegiatan program kerja tidak bisa dilaksanakan dan di realisasikan di era pandemi ini, nasib kader-kader kita akan terancam sangat minim Ilmu dan tidak mengetahui fungsi dan peran IPM dalam membangun peradaban.

Banyak kendala dan masalah bagi IPM yang dapat memunculkan beberapa masalah diantaranya, kader yang terbiasa dengan kumpul bersama dan memberikan ide-ide, menjadi kesulitan dalam berkoordinasi dengan teman sebidang maupun dengan bidang lainya, kemudian kegiatan yang dilakukan jarak jauh cenderung terlihat seperti pengangguran dan bisa berdampak pada hubungan dengan teman-teman lainya.

Dan juga beberapa ketua umum IPM atau ketua setiap bidang mengalami kesulitan menyesuaikan diri terutama bagi ketua yang cenderung kurang percaya dengan bawahan, bahkan hampir seluruh program kerja yang telah dicanangkan tidak bisa terlaksana dengan maksimal bahkan juga banyak program kerja yang tidak terealisasikan.

Upaya Progresifitas IPM

IPM sebagai salah satu Ortom Muhammadiyah yang harus bersiaga memfasilitasi perubahan apapun yang menyangkut tentang sistem pengkaderan. Program-program tentang pengkaderan yang dilakukan di era pandemi ini harus benar-benar di rancang dengan sebaik mungkin.

Melihat situasi yang terjadi saat ini seharusnya IPM mempunyai dorongan agar kader-kader menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk kader menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dari tantangan itu, kita seharusnya berani melangkah untuk menjadikan adanya wabah Covid-19 sebagai kesempatan mentransformasi keahlian kita. Saat ini pandemi menjadi tantangan besar dalam mengembangkan kreativitas terhadap IPM, bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi juga bagaimana memastikan bagiamana kegiatan tetap tersampaikan dengan baik. Ada beberapa langkah dari penulis yang dapat menjadi renungan bersama dalam perbaikan sistem pengkaderan IPM kita khususnya kegiatan di era pandemi ini.

***

Pertama, IPM sebagai salah satu Ortom Muhammadiyah harus bersiaga memfasilitasi perubahan apapun yang menyangkut pengkaderan bawahanya atau anggotanya. IPM dengan segala kemampuanya pasti bisa memanfaatkan dan merubah sistem pengkaderannya di masa pandemi ini menjadi maksimal dan sebaik-baiknya. Kader harus Selalu diberikan arahan dan motivasi baru, terlebih dengan media daring tetap saja IPM  benar-benar memperhatikan kader-kadernya, kalau bisa setiap kader diberikan fasilitas buku tentang IPM untuk mendukung dan mempermudah dalam mengkader.

Kedua, IPM memegang peran penting untuk kemajuaan sistem pengkaderanya, IPM di tuntut untuk meningkatkan kemampuan setiap kadernya, tidak hanya secara tatap muka tetapi bisa dengan secara online. Peningkatan keilmuan seorang kader bisa dilakukan dengan belajar secara online maupun melalui seminar-seminar atau kajian-kajian online yang diadakan oleh IPM. di samping itu langkah pengkaderan daring harus seefektif mungkin, IPM bukan membebani seorang kader dalam kegiatan-kegiatanya, IPM bukan hanya memposisikan sebagai mentransfer Ilmu, sebagai penggerak dan merubah Muhammadiyah menjadi lebih baik.

Ketiga, IPM harus mempunyai strategi survive, Di situasi pandemi seperti ini harus tetap bertahan dan tetap ada, jangan sampai IPM tidak mempunyai ciri-ciri kehidupan.IPM saat ini perlu menyadarkan anggotanya  mengenai sense of crisis. Hal ini dikarenakan kita yang ada di dalam organisasi ini merupakan satu kesatuan, harus bergandeng bersama demi memajukan IPM.

Keempat, IPM harus mengadakan perubahan internal secara berkelanjutan. Suatu organisasi yang baik, tentunya memiliki target yang harus dicapai, entah itu dalam skala harian, mingguan atau tahunan. Melalui pengembangan pengkaderan IPM, harus bisa memperbatui secara internal, baik itu individu maupun visi dan misi IPM secara berkesinambungan.

Dari pengembangan ini, tercipta siklus pembaruan yang menjadi perubahan organisasi, di mana setiap visi, misi, serta tujuan dikembangkan, dan dievaluasi secara berkala. Dengan begitu, organisasi dapat memiliki strategi baru untuk mendukung kemajuan IPM di era pandemi Covid-19 ini.

Kelima, Pengembangan Skill anggota IPM. Dengansering dilakukanya proses pembaharuan dan pengembangan, maka secara otomatis skill keterampilan sukses milenial setiap individu akan mengikuti proses pengembangan tersebut. Hal ini dicapai berdasarkan proses pembelajaran, evaluasi dari kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Meningkatkan skill anggota bisa dilakukan melalui pelatihan webinar gratis tentang Ke-IPM-an dan Pembinaan Online.

Begitu juga Prof. Dr.Ir.R. Eko Indrajit pakar teknologi informasi mengatakan, ada lima langkah strategis yang harus dilakukan Pelajar di masa pandemi Covid-19. Pertama, lakukan peninjauan kembali terhadap target kegiatan program kerja yang ingin dicapai, agar secara rasional selaras dengan situasi dan kondisi baru dalam menjalani Wabah Covid-19 ini. Kedua, Identifikasi sumber daya yang perlu dimiliki dan diadakan agar tujuan baru yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai dengan ketersediaan sumber daya yang ada.

Ketiga, petakan situasi dan kondisi masing-masing bidang yang harus bersiap-siap melakukan model rancangan baru berbasis Blended learning sebagaimana dirancang. Keempat, kajilah antara kebutuhan dan ketersediaan untuk menyusun langkah-langkah strategis dan operasional yang perlu dilakukan untuk menjembatinya. Kelima, Eksekusi langkah-langkah tersebut secara kreatif dan inovatif dengan menjalin berbagai kemitraan dengan bidang-bidang yang peduli mengenai pengkaderan.

Oleh : Alfain Jalaluddin Ramadlan (Alumni DAD PK IMM Al Iskandariyah Universitas Muhammadiyah Lamongan Tahun 2021)

editor
editor

salam hangat

Bagikan di
  •  
  •  
  •  
  •  

Related posts

Leave a Comment