Filsafat dan Kebangkitan Peradaban

Khusnul Khuluq

Modernis.co, Kediri – Filsafat adalah barang yang ditakuti. Ini yang terus menggejala hingga dewasa ini. Namun, sebetulnya, fisafat adalah awal dari kebangkitan sebuah peradaban. Bagaimana itu terjadi? Pertanyaan ini yang akan kita buatkan analisis jawabannya dalam artikel singkat ini.

Kebangkitan peradaban dimulai dari kebangkitan kebudayaan. Kebudayaan menguat dengan menguatnya tradisi keilmuan. Ilmu berkembang dengan berkembangnya filsafat. Filsafat tumbuh subur dalam iklim kebebasan. Begitu ilustrasinya.

Sebaliknya, filsafat susah berkembang dalam iklim kejumudan. Konsekuensinya, pertumbuhan ilmu mandeg. Kebudayan beku. Dan jangan bermimpi untuk terwujudnya peradaban.

Apa yang meyebebkan kejumudan? Iklim kemjumudan pada umumnya selalu dikawal oleh tradisi. Tradisi biasanya paralel dengan agama. Meskipun tidak selalu demikian. Artinya, agama yang disalahpahami akan melanggengkan kejumudan.

Eropa abad pertengahan sangat apik untuk mereprsentasikan kejumudan ilmu pengetahuan. Dimana pengetahuan tidak bisa berkembang. Jika ada, itupun disetir oleh gereja. Segala diskurusus yang bertentangan dengan gereja tidak dibolehkan untuk berkembang. Sangat bertentangan dengan prinsip perkembangan filsafat maupun ilmu pengetahuan, yakni kebebasan. Dalam iklim kejumudan semacam itu, mustahil filsafat juga ilmu pengetahuan dalam lingkup kebudayaan dan bahkan peradaban untuk berkembang.

Namun, Eropa sangt diuntungkan dengan adanya para martir ilmu pengetahuan seperti Galileo Galilei yang mendukung teori Copernikus dan juga Giordano Bruno yang mengembangkan teori tetang kesetaraan subtansi dan unlimited univers. Kedua tokoh ini memilih mengorbankan dirinya untuk mendobrak kejumudan Eropa abad pertengahan.

Pasca mangkatnya kedua tokoh ini, Eropa menghirup semacam udara segar kebebasan filsafat dan tentu ilmu pengetahuan. Kemudian, Eropa mengembangkan kebudayaannya, dan kemudian juga peradabannya. Dalam catatan sejarah dunia muslim juga berlaku pola yang sama. Dari kebebasan, filsafat, ilmu pengetahuan, dan akhirnya peradaban.

Peradaban Islam mencapai puncaknya ketika imperium Islam dinahkodai oleh orang-orang yang cinta akan ilmu pengetahuan. Dan tentu, ilmu pengetahuan membutuhkan iklim kebebasan untuk berkembang. Saya pikir, para nahkoda imperium yang cinta akan ilmu pengetahuan itu sadar akan hal ini. Karna itu, mereka menjamin iklim kebebasan agar filsafat dan selanjutnya ilmu pegetahuan berkembang. Inilah bahan bakar peradaban.

Mungkinkah megupayakan kebangkitan peradaban dunia Muslim dewasa ini? Yang saya diskusikan di atas adalah konstruksi ruang. Itu mutlak diperlukan. Namun, masih banyak hal yang harus terpenuhi.

Faktanya, untuk memulai kebangkitan, paling tidak pada level kebudayaan, selaian iklim seperti di atas, kita perlu otak-otak cerdas yang kebal akan kejumudan. Kita perlu otak-otak Muslim yang mampu menembus sekat-sekat doktriner. Pikiran-pikiran yang multidisiplin dan universal. Melampaui berbagai macam identitas-identitas lokal. Ingat, ilmu pengetahuan itu benda bebas. Siapa saja berhak memilikinya.

Dunia Muslim harus mampu menyerap pikiran-pikiran dunia dari berbagai kebudayaan dan selanjutnya mengkonstruksi pikirannya sendiri. Dalam bahasan sederhananya, kalau anda ingin memberi manfaat, harus juga dirasakan semua orang. Bukan hanya komunitas Muslim saja.

Apakah pikiran semacam itu cukup dengan hanya dimiliki beberapa geintir Musiam saja? Tentu tidak. Pikiran semacam itu harus menjadi tradisi. Filsafat dan ilmu pengetahuan dalam iklim kebebasan mesti menjadi tradisi masyarakat Muslim. Menjadi bagian dari hidup masyarakat Muslim.

Kemudian apa? Tradisi keilmuan harus memproduksi llmu-ilmu yang melampuai zaman. Itu yang sangat kentara dalam peradaban dunia Muslim masa lalu. Yakni ilmu-ilmu yang melampuai zamannya.

Lalu, tradisi tulis-menulis juga penting. Ilmuan Muslim klasik seperti Ibnu Rusyd menuliskan buah pikirannya dalam sebuah buku yang kemudia menjadi salah satu rujukan di Eropa. Dan bahkan berkontribusi menjadi tonggak kebangkItan peradaban Eropa.

Untuk menyongsong kebangkitan peradaban, perlu ada jutaan buku-buku semacam itu yang dihasikan dari masyarakat Muslim. Tidak hanya fenomenal, tapi juga karya yang dokumenter. Mendokumentasikan pikiran brilian seorang filsuf. Mendokumentasikan lompatan ilmu pengetahuan yang melampaui zamannya.

Buku-buku fenomenal itu tidak hanya sebuah kemegahan. Tidak hanya mendokumentasikan pikiran brilian anak sejarah. Tapi juga simbol kemajuan kebudayaan. Buku pengetahuan adalah simbol kemajuan kebudayaan.

Bagaimana dengan politik (kekuasan)? Apakah politik perlu berkontribusi? Jelas, kebebasan sangat efektif diupayakan melalui politik. Jika bisa, politik sangat efektif menjadi pengawal kebudayaan ilmiah dunia Muslim.

Pada level domestik, politik justru harus mendorong kebasan ilmiah, bukan membatasai. Politik punya akses sumber daya yang tidak terbatas. Begitu teorinya. Sumber daya seperti ini sangat efektif untuk membangun iklim keilmuan yang progresif. Politik harus memfasilitasi otak-otak terbaik dunia Muslim. Singkat kata, kekuasaan harus mencintai ilmu pengetahuan.

Bagaimana dengan politik global? Dalam kontestasi politik global, umat Islam harus berpengaruh. Harus punya daya tawar. Apa yang ditawarkan? Deposit kebudayaan itulah yang menjadi daya tawar dunia Muslim dalam kontestasi politik global.

Politik dunia Muslim harus melampaui kepentingan domesetik. Politik dunia Muslim harus membidik kepentingan universal. Dengan bahasa yang sederhana, dunia Muslim harus mampu mengatakan “kami punya pengetahuan untuk memperbaiki dunia.”

Di akhir ulasan singkat ini, saya ingin mengatakan bahwa, dalam konteks peradaban, filsafat adalah pondasi, ilmu pengetahuan adalah tiang-tiangnya, kekuasaan adalah atapnya. Dan kebebasan adalah udara yang memungkinkan penghuninya untuk hidup.

Jika ingin mengupayakan kebangkitan peradaban umat Muslim, maka itu syaratnya. Pondasi harus tertanam kokoh, tiang-tiang harus berdiri kuat, atap yang tidak bocor harus mampu melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Dan tentunya, udara kebebasan ilmu pengetahuan harus terjamin.

Khusnul Khuluq
Khusnul Khuluq

M. Khusnul Khuluq, S.Sy., M.H. Alumnus Jurusan Syariah Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2015. Juga merupakan alumnus Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Menyelesaikan pendidikan master tahun 2018 di pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan konsentrasi Studi Syariah dan Hak Asasi Manusia (HAM). Sebelum menyelesaikan studi masternya, sudah mulai meniti karir di salah satu lembaga tinggi Negara Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai Calon Hakim pada Pengadilan Agama sejak 2017. Sambil meniti karirnya di instansi tersebut, aktif sebagai pegiat isu-isu Hak Asasi Manusia. Aktif menulis isu-isu hak asasi manusia . Juga mendedikasikan dirinya untuk kemajuan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

Bagikan di

Leave a Comment