IMM Kalah di Rimba Digital

Adi Munazir

Modernis.co, Malang – Siapa yang tidak mengenal Google. Hampir setiap harinya bagi setiap orang akan menggunakan mesin pencarian buatan Larry Page dan Sergey Brin ini mencari segala sesuatu di rimba internet. Google menjadi salah satu pintu masuk populer guna menjelajah jutaan data yang terekam dalam big data internet.

Data data yang dimiliki oleh Google dengan mudah diakes oleh semua orang secara publik. Tidak ada yang tau pasti bagaimana Google bekerja dalam kompleksitas data-data yang setiap detik bertambah, akan tetapi dengan mudah kita dapat mengukur popularitas segala sesuatu melalui halaman depan Google.

Trend untuk masuk dalam halaman utama pencarian Google memang menjadi keharusan, terlebih bagi sebuah organisasi yang memiliki massa dalam jumlah besar. Di era milenial dan menjamurnya pasukan rebahan, rimba internet menjadi wilayah yang harus digarap secara serius nan totalitas, terlebih bagi kepentingan branding dan publisitas sebuah organisasi.

baca opini lainnya : Pelajaran dari Bacotan 2K

Salah satu organisasi aktivis mahasiswa yang sudah puluhan tahun berdiri adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Jika kita berbicara organisasi yang sejenis maka ada Himpunaan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan sparing partner gerakan mahasiswa Islam di Indonesia. 

Jika kita menelusuri jejak jejak IMM dalam data-data Google memang cukup memperihatinkan. IMM berada pada posisi buncit jika disandingkan dengan HMI dan PMII. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah jumlah kata IMM yang dibicarakan oleh publik dalam dunia maya yang bisa diakses secara publik di Google Trend. 

Diakses dari wikipedia  pengertian Google Trend merupakan grafik statistik pencarian Web yang menampilkan popularitas topik pencarian pada kurun waktu tertentu.  Google Trend menjadi salah satu website yang banyak dijadikan rujukan oleh pemain-pemain internet dalam melihat trend segala sesuatu di rimba digital internet.

Sayangnya IMM sebagai sebuah gerakan aktivis mahasiswa yang bernaung di bawah organisasi modernis Muhammadiyah, kalah bersaing di rimba digital dan cenderung redup dalam panggung dunia maya jika disandingkan dengan HMI dan PMII.

Kekalahan IMM
Perbandingan Tiga Gerakan Mahasiswa Islam dalam Google Trend

Pertama, silakan anda buka halaman embah Google dan ketikkan Google trend atau melalui saluran url https://trends.Google.com/trends/trendingsearches/g?geo=ID lalu ketikkan kata IMM. Maka anda akan disajikan dengan data-data statistik, lengkap dengan pilihan sebaran wilayah yang anda inginkan.

Kedua,  jika langkah pertama sudah anda lakukan, berikutnya adalah ketikkan kata HMI dan PMII pada kolom compare (membandingkan) untuk melihat perbandingan statistik data-data tiga organisasi aktivis kampus yang mungkin anda adalah salah satunya. Anda akan disuguhi dengan data-data dalam rentang waktu jam, harian, mingguan, bulanan dan bahkan data-data sejak tahun 2004 silam.

Ketiga, hal selanjutnya yang harus anda lakukan adalah dengan mengganti rentang waktu dan gunakan sedikit pendekatan analisa komparatif terhadap data-data yang dihasilkan dari tiga kata (IMM, HMI, PMII). Data-data yang ditampilkan tentu memiliki akurasi tingggi sesuai dengan data-data server milik mbh Google yang sudah direkam dalam puluhan tahun.

baca opini lainnya : Diplomasi Nice Guy?

Jika anda merupakan bagian dari HMI atau PMII tentu data-data yang ditampilkan sedikit melegakan, tetapi jika anda bagian dari pasukan merah maroon (IMM) anda harus menerima sebuah fakta yang kurang menggembirakan. Popularitas IMM di rimba digital berada pada baris ketiga alias paling buncit diantara dua saudara lainnya (HMI,PMII). 

IMM dan Dunia digital
Statistik IMM (Biru), PMII (Merah), HMI (Kuning) dalam Google Trend rentang waktu 12 bulan terakhir

Keadaan ini tentu sangat menggelisahkan bagi mereka-mereka yang berfikir. Para manusia-manusia yang pernah melewati momen inaugurasi kaderisasi Darul Arqom Dasar (DAD) menjadi pihak yang paling bertanggungjawab mengapa keadaan ini begitu buruk dan memalukan. Data-data yang dihasilkan oleh Google trend, bukanlah data tipu-tipu alias stastistik pesanan sebagaimana polemik  quick count pilpres 2019 silam.

Data-data yang dihasilkan oleh raksasa mesin pencari ini khususnya Google trend menjadi indikator paling pas dalam menilai kiprah sebuah organisasi di era melesatnya perkembangan 4.0. Dalam kaitannya dengan IMM, evaluasi secara besar-besaran perlu dilakukan dalam menampilkan diri kepada publik diantara tumpukan data-data Google yang sesak oleh hoax, hate speech dan ulasan-ulasan ngawur lainnya

Jika IMM serius menggarap wilayah rimba digital tentu akan berdampak secara massif terhadap keberlangsungan dan keberlanjutan organisasi yang digagas oleh Djazman al Kindi ini. IMM belum nampak secara total untuk menampilkan diri dalam dunia maya. Terkesan tertutup, memilih cara-cara konvensional yang sudah seharusnya mulai ditinggalkan.

Sudah seharusnya kader-kader IMM tampil memainkan peran dalam ranah maya. Bukan untuk memanas-manasi keadaan seperti yang banyak dilakukan para buzzer bayaran, tetapi menjadi kelompok  yang memegang bara idealisme tanpa tekanan-tekanan kepentingan.

Dalam bahasa inggris Google menjelaskan misinya  Our mission is to organize the world’s information and make it universally accessible and useful (misi kami adalah mengatur informasi dunia dan menyajikannya sehingga dapat diakses secara universal dan bermanfaat).

Misi tersebut paling tidak harus menjadi suluh yang harus diambil oleh kader-kader IMM untuk mengatur dan menyebarkan informasi tentang IMM, sehingga berlaku universal. Misi tersebut pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi siapa saja yang ingin berkenalan dan mengetahui perkembangan IMM dalam rentang waktu dulu, kini dan juga nanti. 

baca opini lainnya : Menggugat Kualitas Dosen!

Situasi getir yang dialami oleh IMM tentu menjadi catatan kritis bagi orang-orang yang ada di IMM untuk sadar diri, menghindari berpuas diri dan tidak merasa paling gagah dikerumunan pasukan sendiri. Diperlukan langkah-langkah kecil dari setiap kader guna mengejar ketertinggalan yang sedang dialami IMM. Sebagai organisasi yang memiliki ribuan aktivis milenial, perlu berbenah secara serius untuk bisa hadir memainkan peran signifikan di ranah digital internet. 

Kedepan IMM harus memberi narasi alternatif dan mencerahkan, konter narasi hegemonik yang penuh keangkuhan serta perlawanan terhadap berita bohong yang mengempur anak bangsa dalam konflik-konflik yang menitikkan air mata. Jayalah IMMku, sungguh aku cinta padamu!

 *Oleh : Adi Munazir (Kader Biasa IMM)

Redaksi
Redaksi

Mari narasikan fikiran-fikiran anda melalui tulisan dan membaginya melalui website kami!

Bagikan di

Related posts

Leave a Comment