Poligami Itu Mudah, Poligami Yuuuk

IMM Malang

Modernis.co, Malang – Beredar pemikiran di kalangan hijrah bahwa poligami itu mudah lantas dibuat berbagai mainstream untuk memecah kebekuan berpikir klasik bahwa poligami sulit dan rumit—salah satu yang banyak diangkat adalah:

Mereka (kalangan hijrah) menolak dan menganggap banyak mithos yang dibuat-buat oleh isteri pertama untuk menjaga status quo agar poligami terlihat sulit, rumit dan banyak resiko—harapnya satu: suami takut poligami dan istri bisa leluasa menguasai. Agar Isteri bisa melindungi diri dan anak-anaknya terhindar dari poligami—karena alasan inilah maka banyak suami yang tidak bisa memanfaatkan optimal quota 4 haknya … maka harus diubah sesuai sunah.

Poligami bukan merebut suami orang. Mari berpikir jernih dan proporsional —poligami itu bukan merebut suami orang sebagaimana stigma yang dikembangkan isteri pertama—tapi memiliki suami secara bersama-sama yang disahkan berdasar syariat agama.

Poligami tidak harus ijin isteri. Poligami tak butuh ijin isteri, orang tua apalagi anak—abaikan. Ketika Rasulullah menikahi wanita cantik bernama Shafiyyah binti Huyay al Akhtab—Rasulullah saw memberitahu Aisyah ra bahwa beliau menikah dengan Shafiyyah. Ini membuat Aisyah cemburu sekali dan mengatakan: “Ia seorang wanita Yahudi.” Dan dijawab oleh Rasulullah: “Janganlah engkau berkata seperti itu, karena ia telah masuk Islam, dan baik pula ke Islamannya.”

Poligami itu hak suami. Poligami itu suami menggunakan haknya, cuma kadang istri iri dan ingin memonopoli suami berikut hartanya, (bukan salahnya suami yang menggunakan hak tapi salahnya isteri yang iri). Poligami menguji keikhlasan dan keridloan wanita terhadap ketentuan Allah. Semakin ikhlas maka semakin banyak pahala. Semakin tidak ikhlas apalagi diwujudkan dalam bentuk kemarahan dan perbuatan anarkis, maka semakin bertambah pula dosanya.

Poligami tidak menyakiti istri. Kalau masalah cemburu, istri Rasulullah dan istri istri sahabat Rasulullah yang berpoligami kadang juga cemburu satu sama lain. Tetapi ini tidak berarti bahwa Rasulullah dan para Sahabat menyakiti perasaan istri-isterinya. Kalau diartikan bahwa cemburu itu menyakiti perasaan istri, maka tidak mungkin Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang dijamin masuk surga oleh Allah. Cemburu adalah wujud tanda cinta istri kepada suami bukan wujud perlakuan suami menyakiti hati istri.

Poligami bukan mengumbar hawa nafsu. Sebaliknya berpoligami itu mengendalikan hawa nafsu dari perbuatan haram dan tercela yang berdosa agar menjadi perbuatan halal dan terpuji dan berpahala.

Poligami itu bukan sumber masalah tapi mengatasi masalah suami agar lebih bisa mengendalikan pandangan dan farji serta mengatasi masalah wanita yg membutuhkan pengayoman, pengawasan, pendidikan, dan nafkah.

Poligami tidak harus adil. Siapa bilang harus adil, yang benar adalah bahwa berbuat adil itu bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun tidak dibatasi oleh jaman. Jika umat Muhammad SAW tidak bisa berbuat adil dalam poligami maka poligami akan dilarang secara mutlak. Al Quran berlaku sepanjang masa termasuk ayat diperbolehkannya poligami.

Poligami tidak merampas hak istri. Siapa bilang poligami ambil hak isteri tua. Yang ada malah sebaliknya: poligami itu adalah suami mengambil atau memanfaatkan kuota atau haknya sendiri, istri pertama tak boleh mengahalangi hak suami untuk ambil isteri ke 2, 3, dan 4. Para istrinya juga memanfaatkan haknya sendiri pula. Istri pertama jika menghalangi, mencegah suami atau istri 2, 3 dan 4 itulah orang yg menghalangi hak 4 orang tersebut.

Tidak ada hak khusus bahwa isteri pertama lebih istimewa dibanding isteri ke 2, 3 dan 4. Perlakuan seperti itu adalah adat jaman jahiliyyah. Setelah Islam datang maka semua adat itu dikoreksi total oleh Islam. Setelah sah secara syariat menjadi istri, maka semua istri (R1, R2, R3, R4) mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama terhadap suami.

Poligami itu mudah, bukan seperti stigma yang di angkat oleh para isteri tua yang takut kehilangan suami, maka berlakulah pasal suami tak boleh salah:

1. Bahwa suami tak bisa salah
2. Kalau suami salah kembali ke pasal pertama. 

Poligami yuuukk …..

Oleh : Nurbani Yusuf (Pegiat Komunitas Padhang Mahsyar Malang/Kiayi Muhammadiyah Malang)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment