Penumpang Gelap dalam Muhammadiyah

Adi Munazir IMM Malang Pengacara Malang

Modernis.co, Malang – Tepat pada tanggal 18 November Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi sosia kemasyarakatan yang lahir pada 18 November 1912 genap berusia 105 tahun. Kiprahnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan lebih terdengar ketimbang gerakan tajdid dan purifikasi telah membawa Muhammadiyah menjadi organisasi mandiri dalam membantu Negara mengurusi permasalahan social yang kompleks.

Peneliti Peace Literacy Network (PeaceLink) Subhan Setowara dalam Menjadi Muhammadiyah Milenial (Geotimes, 2017) menyebutkkan bahwa Organisasi ini memiliki 9.515 lembaga pendidikan, 2.119 lembaga kesehatan, dan 525 lembaga social. Jelas bahwa kekayaan Muhammadiyah yang dikenal dengan Amal Usaha Muhmmadiyah (AUM) tersebut menjadi satu-satunya lembaga non pemerintah yang terdepan dalam mengarahkan gerakan sosialnya secara nyata dan massif.

Landasan AUM tersebut bisa ditelusuri dalam Pasal 7 ayat 1 Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menyebutkan bahwa untuk mencapai maksud dan tujuannya, Muhammadiyah melaksanakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan.

Semakin pasangnya aset Muhammadiyah dalam berbagai bidang menyebabkan organisasi ini merekrut tenaga-tenaga AUM yang abai pada kemantapan ideologi organisasi. Proses rekrutmen dan pengelolaan AUM yang tanpa kontrol terhadap aspek Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup (MKCH) Muhammadiyah mengawali gejolak internal perkembangan Muhammadiyah, mengingat organisasi ini diawal-awal kelahirannya dibangun dengan pondasi ideologi yang sangat kuat.

Dalam konteks perkembangan Muhammadiyah dewasa ini, di sisi external organisasi ini cukup terdengar sebagai organisasi modernis-dinamis dan sering kali publik hiperbolik menyebut organisasi ini lahir melampui zamannya (beyond the age). Gegap gempita kemasyhuran Muhammadiyah di wilayah external saat ini haruslah diisi dengan penguatan wilayah ideologi internal secara matang dan terukur.

Dr. Pradana Boy ZTF, Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam Dahulukan Nilai di Atas Identitas (Jawa Pos, 18 Nov 2017) menyebutkan bahwa mendahulukan nilai di atas identitas dalam konteks eksternal tersebut harus diimbangi dengan penguatan identitas pada level konsolidasi internal sebagai sebuah organisasi. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan, Muhammadiyah akan mengalami kerapuhan di sisi dalam.

Tetap bermanfaat Persyarikatanku

Di tubuh Muhammadiyah dikenal pelatihan Baitul Arqom, yaitu sebuah pembinaan ideologi yang ditujukan untuk memahamkan Islam dan Muhammadiyah yang merupakan bagian dari pengkaderan internal Muhammadiyah. Pertanyan yang kemudian muncul adalah seberapa besar porsentase  keikutsertaan orang-orang yang bekerja di AUM dan pengaruhnya dalam keberlangsungan organisasi?

Sebagai mahasiswa yang kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan aktif di salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, saya merasa risih dan banyak gundah melihat situasi internal Muhammadiyah yang di isi oleh orang-orang yang tidak mengerti bermuhammadiyah. Ketidakmengertian tersebut dapatlah merujuk pada perilaku yang abai dalam menyinergikan gerakan dakwah Muhammadiyah, parsial dalam memandang ortom lain serta tidak kaffah (totalitas) dalam mengikuti aktivitas diluar kegiatan-kegiatan formal keorganisasian. Selanjutnya saya menyebut mereka sebagai Penumpang Gelap Muhammadiyah (PGM).

Tampak, bahwa PGM telah kehilangan nilai dan identitas sekaligus. Mereka tidak lagi memikirkan estafet keberlangsungan dari sebuah organisasi sebagai sebuah tafsir ideologi Muhammadiyah. Cenderung mengedepankan sisi materialistis, mencari penghidupan yang berwujud gaji lalu menumpang unjuk gigi di balik kebesaran Muhammadiyah. Nampak jelas bahwa pesan Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammmadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah” sebagai  pesan pengabdian diganti dengan orientasi mencari peruntungan (looking for lucky).

Secara tidak langsung PGM mempengaruhi gerak Muhammadiyah yang mempercantik diri mengikuti arus milenial dengan cover organisasi yang mengagumkan. Fenomena ini memang membanggakan disatu sisi akan tetapi sekaligus juga menyedihkan. Bagaimana mungkin Muhammadiyah terjebak pada pola pragmatisme dan ukuran kebesaran organisasi mulai diukur dengan penambahan AUM setiap waktunya?

Pernah suatu ketika saya dijejali dengan keputusan sepihak dalam salah satu kegiatan keorganisasian. Sontak keputusan tersebut menjadi beban yang sampai sekarang saya jadikan pelajaran  bahwa PGM bermain dengan sangat rapi dan sistemik mengabaikan pendekatan akar rumput (grass root) dan selalu lupa bahwa Muhammadiyah dibangun dan dibesarkan dengan memperhatikan hal-hal kecil.

Sebagai orang yang terlibat dalam tubuh Muhammadiyah, saya sangat menyayangkan ketika organisasi ini hanya condong di arahkan pada motivasi profit oriented semata. Pendalaman dan penajaman sisi ideologis organisasi nampaknya telah menjadi benda sejarah, usang dan tidak relevan dengan masa kini. Jika hal ini terus dibiarkan, maka tubuh Muhammadiyah sedang digerogoti budaya pragmatisme yang menyasar pada usaha mengaburkan motivasi pengabdian dalam mewujudkan cita-cita mulia Muhammadiyah.

Sesuai dengan tema milad Muhammadiyah di usianya yang ke 105 “Muhammadiyah Merekat Kebersamaan.” Organisasi ini ingin menunjukkan kepada publik bahwa Muhammadiyah ingin merawat keberagaman dalam dinamika social kebangsaan yang kini sedang bermasalah. Tema tersebut lebih bernuansa external dan sudah sepantasnya organisasi ini peka kepada persoalan pada skup nasional-kebangsaan, akan tetapi lambat dalam menahan laju pengaruh PGM yang cukup mengkhawatirkan.

Agaknya tidak berlebihan jika saya menuduh PGM adalah sekumpulan dari manusia rakus dan pencari kepuasaan perut yang  merusak internal organisasi Muhammadiyah. Kelak jika mereka menguasai system maka besar kemungkinan generasi selanjutnya akan buta terhadap spirit dahlanisme dalam mengembangkan layar perjuangan Muhammadiyah. Sehingga saya tidak rela juga tidak setuju jika kehadiran PGM yang parokial bermuhammadiyah dianggap sebagai dinamika internal yang normal-normal saja dan akan tersadarkan seiring berjalannya waktu.

Jika kondisi tersebut masih saja terjadi dengan agak berat saya harus meninggakan suara lalu mengatakan “Wahai PGM sebaiknya anda keluar dari organisasi kami!”

Artikel tayang pertama kali pada 22 November 2017 di andesbunke.worpress.com dengan judul yang sama Penumpang Gelap dalam Muhammadiyah

* Oleh : Adi Munazir (Legal Konsultan Pada Firma Hukum Supreme Malang)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment