Kepunahan Agama di Milenium Ketiga

Modernis.co, Kediri – Milenium ketiga adalah interval dimana agama-agama akan punah. Begitu kira-kira isi ulasan ini. Mengapa dan bagaimana itu terjadi? Dan apa yang menggantikan? Bisakah kita menerima fakta ini?

Agama mulai dikenal dimuka planet ini dan segera menjadi populer paca revolusi agrikultural sekitar 12.000 tahun lalu. Dimana manusia mulai berhenti berburu dan mengumpulkan makanan. Manusia memulai cara hidup baru dengan menetap, membuka ladang, bertani, dan menggunakan api untuk memasak.

Pertanian selalu bergantung pada alam. Karena itu manusia menciptakan konsep imajinatif yang mereka sebut dengan dewa-dewa. Dewa-dewa imajinatif inilah yang mereka harapkan dapat membantu mereka menurukan hujan dan memberikan panen yang baik dan melimpah. Inilah mengapa agama tumbuh subur dalam iklim agrikultural. Berbeda halnya dengan kaum pemburu. Mereka tak punya waktu memikirkan hal semacam ini. Kaum agrikultural tentu mereka melakukan sensuatu dengan itu. Mungkin meberikan sesembahan dan meletakkannya di sudut sawah mereka.

Dalam Islam, hal ini juga berlaku. Kadang kita melakukan sesuatu dan berharap malaikat akan mencatat amal kita. Dan nanti, ketika kita meninggal, kita berharap amal kita akan ditukar dengan karcis untuk memasuki surga. Apa perbedaan kedua cerita ini? Pertanyaan selanjutnya, beranikah kita menjawab dengan menunjukkan bukti, apa itu dewa? Punyakah dewa kemampuan untuk menurunkan hujan atau menyuburkan tanaman? Beranikah kita menjawab dengan menunjukkan bukti apa itu maliakat? Apa itu pahala? Dan apa itu surga?

Bagaimana itu terjadi? Manusia merajut jejaring makna. Itulah yang diungkap oleh sejarah. Sesuatu mungkin dimunculkan, diyakini sepenuh hati oleh komunitas tertentu. Dan bisa saja besok lusa akan ditinggalkan dan diangap aneh. Atau bahkan seseorang bisa dianggap gila karena mempercayai hal yang sangat aneh.

Apakah hewan dapat megimajinasikan hal-hal demikian. Mungkin kucing dapat mengimajikasikan tikus. Itu mengapa kucing dapat merencankan untuk menyergap tikus. Perbedaannya adalah, kucing hanya dapat mengimajinasikan hal-hal yang benar-benar mereka lihat. Kucing tak mampu mengimajinasikan demokrasi, hak asasi kucing, atau surga dan neraka kucing. Hanya manusia yang mampu mengimajikasikan hal-hal demikian. Inilah mengapa dapat kita pastikan bahwa hanya manusia yang punya agama.

Namun, sayangnya, cara kerja jejaring makna adalah dengan meyakininya. Jejaring makna akan menguat jika dipercayai secara kolektif. Begitu sebagian komunitas atau seuruh komunitas tidak mempercayai, segera entitas intersubjektf itu akan runtuh dan hilang. Dan selanjutnya digantikan oleh entitas baru.

Hari-hari ini, hak asasi manusia dan etika lingkungan menjadi pembicaraan yang populer di dunia internasioanal. Mungkin, ide-ide ini akan sangat aneh jika dibicarakan lima dekade lalu. Dan jika kita berbicara hak asasi manusia dan etika lingkungan dengan kumpulan audien yang berasal dari setengah abad lalu, mungkin kita akan dianggap gila.

Begitu pula, setengah abad kedepan, mungkin ide-ide ini juga segera menjadi aneh ketika orang-orang tidak lagi mempercayai konsep-konsep itu. Inilah cara kerja entitas intersubjektif. Dia menjadi terasa benar-benar ada jika dipercayai. Dan menguap begitu saja ketika dilupakan.

Sekitar lima ratus tahun lalu, telah terjadi revolusi saintifik. Revolusi saintifik bukanlah revolusi pengetahuan. Tapi justru revolusi ketidaktahuan. Karena manusia mulai sadar bahwa mereka tidak tau tentang alam dan diri mereka. Karena itu mereka berpacu untuk mencari tau. Dari situlah ilmu pengetahuan modern lahir.

Konsekuensi revolusi saintifik adalah digesernya posisi dewa-dewa dan juga tuhan-tuhan. Manusia mulai terlepas dari entitas intersubjektif semacam itu. Jika dulu, dalam pertanian mereka berharap pada dewa-dewa dan tuhan-tuhan agar panen mereka baik. Kini, ilmu pengetahuan bisa melakukan hal itu jauh lebih baik.

Ilmu pengetahuan mampu melakukan rekayasa genetika untuk mengambil DNA buah berkualitas dan membuang DNA buah yang kurang berkualitas untuk menciptakan pohon yang buahnya seluruhnya berkualitas baik. Sistem pengairan juga mengalami kemajuan luar biasa dengan diciptakan hujan buatan atau penyimpanan air dalam skala besar yang siap digunakan kapan saja. Bibit unggulan, pupuk super, dan pestisida melengkapi itu. Kemampuan ini lebih dahsyat jauh melebihi kemampuan dewa-dewa pada masa awal revolusi agrikultural.

Soal lain. Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern. Hari-hari ini, ilmu pengetahuan modern sampai pada sebuah konsensus bahwa jiwa itu tak ada. Namun, jiwa yang menjadi perbincangan dalam ilmu pengetahuan ini adalah entitas biologis.

Bagi para ilmuan yang otoritatif sekalipun, meyebutkan fakta bahwa tak ada jiwa adalah suatu hal yang membahayakan. Ini persoalan sensitif. Utamanya, jika kalimat itu diucapkan di tengah-tengah komunitas beragama. Karena pada umumnya, komunitas beragama mempercayai bahwa jika dia mati, jiwanya akan dikirim ke surga atau neraka. Karena itu mereka berpacu untuk beramal.

Dengan harapan setelah dia mati, jiwanya akan ditempatkan di surga. Jiwa dalam hal ini hanyalah soal konsensus. Artinya, jiwa dalam hal ini adalah entitas intersubjektif. Ketika sebuah komunitas mempercaya adanya jiwa, maka jiwa ada. Ketika semua orang tidak mempercayai adanya jiwa, maka entitas intersubjektif yang disebut jiwa itu juga tidak ada. Entitas subjektif sangat rapuh. Tidak bisa disandingkan dengan hasil penelitian ilmu pengetahuan yang penuh dengan metodologi.

Konsekuensi tidak adanya jiwa segera mengobrak-abrik fondasi agama-agama. Atau paling tidak memberikan dampak yang cukup serius bagi eksistensi agama itu sendiri. Karena agama-agama pada umumnya punya tumpukan doktrin yang dibangun atas dasar adanya jiwa ini.

Mengapa demikian? Karena dengan begitu, dengan tidak adanya jiwa, surga dan neraka tidak dapat disentuh. Karena itu pahala dan dosa tidak lagi berfungsi. Dan realitas intersubjektif itu segara akan ditingalkan. Bagaimana dengan maliakat pencatat amal? Jelas segera pensiun. Tidak diperlukan lagi.

Yuval Noah Harari menuturkan bahwa, hari-hari ini, ilmu pengetahaun modern sedang melakukan tiga agenda besar. Bahkan menurutnya agenda ini adalah agenda umat manusia secara global meskipun secara teknis itu dilakukan oleh sain. Secara gamblang, agenda sains abad 21 adalah mengejar immortalitas (kesehatan yang baik dan berumur panjang), mengejar kebahagiaan (dengan rekayasa biokimia) dan mengejar kemampuan keilahian (peningkatan kemampuan manusia dengan memanfatkan kecerdasan artifisial). Untuk yang terakhir ini hasilnya adalah manusia yang diperbaharui dan ditingkatkan kemampuannya.

Tentang immortalitas. Immortalitas adalah hal yang paling paradoks dalam ilmu pengetahuan. Mungkinkah manusia menghindari kematian. Inilah pertanyaan yang sedang dicari probabiltasnya dengan ilmu pengetahuan modern. Dan ilmu pengetahuan modern menunjukkan tanda-tanda adanya kemungkinan itu.

Dalam agama, kematian adalah hal yang sangat sakral. Berbagai relitas intersubjektif diciptakan untuk ini. Bahwa kematian adalah dicabutnya jiwa dari badan biologis. Siap yang mencabut? Dewa-dewa. Atau malaikat yang betugas untuk itu. Dengan tidak adanya jiwa, kematian adalah hal yang sangat teknis. Yakni berhentinya jantung memompa darah. Atau rusaknya organ-organ penting karena virus atau sel ganas sehingga tidak lagi menjalankan fungsinya. Atau matinya batang otak, sehingga tidak dapat lagi memberikan perintah pada berbagai organ tubuh. Dan masalah teknis lainnya.

Tidak perlu muluk-muluk dengan itu. Bukankan jika kita sakit kita memilih segera pergi ke dokter untuk meminta obat dari pada terus berdoa? Ini adalah contoh kecil bahwa secara tidak sadar kita mengakui bahwa kematian adalah soal teknis.

Bagaimana jika virus flu menyerang dan menjadi parah hingga menyebabkan salah satu organ dalam tidak berfungsi? Maka yang terjadi adalah kematian. Bagaimana jika tekanan darah terlalu tinggi terus menerus sehingga jantung kuwalahan dalam mengatur aliran darah? Maka yang terjadi adalah kematian. Ini adalah soal yang sangat teknis.

Namun, sebelum itu menjadi parah, kita akan meminta nasihat dokter untuk memahami apa yang terjadi dan bagaimana soluisnya. Begitu kan? Kalangan fanatik mungkin akan berargumen untuk memeilih ke dokter sambil berdoa. Namun tetap saja ke dokter kan? Atau ada yang memilih untuk berdoa saja. Maka segera akan menjadi parah.

Mati adalah masalah teknis. Bagaimana jika masalah teknis ini bisa diatasi? Maka kematian bisa dihindari. Atau paling tidak dengan kesehatan yang baik umur manusia dapat diperpanjang. Tentu dengan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan modern dalam dunia medis. Ilmu pengetahuan modern diam-diam sedang menuju kemungkinan ini.

Seperti yang saya sebutkan di awal. Teori tentang manusia tidak bisa mati segera mengobrak-abrik agama itu sendiri. Karena dengan begitu, surga dan neraka tidak terjamah. Begitu pula pahala dan dosa kehilangan relevansinya. Konsekuensinya, tidak perlu lagi mengklasifikasikan amal baik dan amal buruk. Malaikat pencatat amal baik dan buruk segera kehilangan pekerjaannya. Malaikat penjaga surga dan neraka juga begitu. Singkat kata, semua itu akan ditinggalkan oleh manusia begitu saja.

Dampak revolusi saintifik di awal milenium ketiga adalah tersingkirnya agama dari planet ini. Dengan pesatnya perkembanga ilmu pengetahuan, kita bisa membuat prediksi secara kasar bahwa di akhir milenium ini, agama akan lenyap, kata lain dari punah. Saya katakan di awal, milenium ini adalah intervel kepunahan agama. Ini prediksi secara kasar. Dengan melihat fakta perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu menakjubkan, itu bisa terjadi bahkan di pertengahan milenium ini.

Selanjutnya, apa yang menggantikan agama-agama? Pada masa sebelum revolusi agrikultural, lebih dari 12.000 tahun lalu. Manusia hidup bersama alam. Mereka sejajar dengan pohon dan binatang. Pasca revolusi agrikultural, manusia hidup bersama tuhan. Dan menganggap teman lama mereka yakni alam, layaknya budak. Mulai berani memperlakukan alam sesuka mereka. Pasca revolusi saintifik, sekitar 500 tahun lalu, manusia mulai bosan hidup dengan tuhan. Dan manusia memilih untuk hidup sendirian.

Dalam studi tentang ilmu sosial, kita mengenal konsep sekularisasi. Pemisahan agama dengan urusan manusia. Terlepas dari pro dan kontranya teori sekularisasi, ini adalah salah satu gejala kecil kebosanan hidup besama tuhan.

Manusia memilih hidup sendiri. Ditemani benda-benda mati seperti teori-teori fisika, biologi, sosiologi, teori-teori DNA, teori-teori tentang nuklir dan lainnya. Dimana semua itu diabdikan untuk kemanusiaan. Tawaran untuk hidup abadi segera menggeser konsep tentang kematian. Teori-teori biologi modern memberikan pejelasan yang lebih apik tentang kematian yang bisa dihindari. Singkat kata, kemanusiaan segera menggantikan agama dan tentunya tuhan.

Bisakah kita menerima fakta ini? Ini adalah satu hal yang tidak bisa dielakkan. Negara-negara maju terus menginvestasikan dana puluhan juta dolar untuk ilmu pengetahuan. Demi mengejar immortalitas. Yang artinya, prediksi ini akan terus menuju ke arah itu.

Hari-hari ini kita masih sangat asik mendiskusikan berbagai persoalan agama. Namun kita tidak bisa menjamin beberapa generasi setelah kita masih melakukan kebiasaan semacam ini. Kita tidak bisa menjamin beberapa generasi setelah kita masih melakukan hal yang sama. Orang-orang fanatik akan melakukan usaha keras untuk mempertahankan agama agar terus dipercayai. Namun sejarah tidak bisa digerakkan oleh sekelompok orang saja.

Fanatisme terhadap agama ini dalam beberapa generasi akan terkubur dan digantikan dengan diskusi-diskusi yang mengasikkan tentang sain dan teknologi. Satu generasi mungkin cukup lama bagi kita dan cukup bagi kita untuk mendiskusikan suatu konsep dalam sebuah agama dengan sengit dan asik. Tiga generasi mungkin waktu yang cukup lama bahkan menurukan keyakinan pada anak-anak atau cucu-cucu kita. Namun, satu atau tiga generasi manusia telalu pendek untuk sebuah perjalanan sejarah permukaan planet ini.

Hari-hari ini, sebagian kita bisa saja gerah atau bahkan sangat marah mendengar prediksi ini. Namun, kita tidak bisa mewariskan kegerahan ini pada generasi-generasi setelah kita. Kita tidak pernah tau apa yang bicarakan sepuluh genrasi setelah kita. Apalagi generasi kita di pertengahan milenium ini atau bahkan di penghujung milenium.

Oleh : M. Khusnul Khuluq (Human Right Defender)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

One Thought to “Kepunahan Agama di Milenium Ketiga”

  1. Agus

    Bagaimanapun agama takkan hilang itu sudah jaminan dari tuhan kecuwali kiamat

Leave a Comment