Ortom Harus Konsolidasi Demi Kaderisasi Muhammadiyah

Modernis.co, Jember – Tulisan ini diambil dari sudut pandang saya sebagai kader Muhammadiyah yang sedang berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Senin, 7 Juli 2019 lalu kampus Universitas Muhammadiyah Sorong geger oleh oknum tidak bertanggung jawab yang merusak bendera IMM.

Perusakan tersebut dipicu oleh penolakan adanya LK – 1 (Kaderisasi formal tingkat 1 Himpunan Mahasiswa Islam) oleh kader IMM dilingkungan kampus UM. Sorong.

Penolakan tersebut berdasarkan AD-ART dalam Statuta Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) BAB X pasal 28 Tentang Mahasiswa, Organisasi kemahasiswaan dan Alumni. Pada ayat ke 2 disebutkan bahwa “Organisasi Kemahasiswaan PTM terdiri atas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Dewan Perwakilan Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan Unit Kegiatan Mahasiswa, respon dari penolakan tersebut disambut dengan perusakan bendera, cukup menegangkan walau pada akhirnya meredam dengan cara musyawarah.

Sejak persoalan tersebut mencuat maka saya menyimpulkan bahwa asap persoalannya adalah “Perebutan kader” kader IMM merasa terancam ladang Kaderisasinya apabila LK-1 benar-benar digelar dilingkungan kampus UM. Sorong karena IMM lah yang jelas sebagai tuan rumah dikampus Muhammadiyah.

Persoalan serupa ternyata juga terjadi di kabupaten Jember Jawa timur pada Selasa 20 Agustus 2019, tepatnya dikampus IAIN Jember, bendera IMM juga raib dibuang kesungai oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan peristiwa-pristiwa tersebut diatas asap persoalannya adalah “Perebutan kader” dengan itu maka ingatan saya bergejolak dan merasa bertanggung-jawab untuk memberikan perspektif mengenai mencari kader baru untuk IMM.

Idealnya IMM tidak sulit dalam mencari kader, karena IMM adalah satu satunya Organisasi yang memiliki kampus sendiri dengan jumlah terbanyak yaitu 174 perguruan tinggi, disamping itu IMM juga memiliki basis masa pelajar yang berasal dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang harusnya mampu menopang perolehan kader IMM, tapi ternyata hal tersebut tidak sama sekali memberi efek siginifikan bagi perolehan kader IMM.

4 (empat) tahun lalu sebelum saya berIMM, terlebih dulu saya berproses di IPM satu organisasi otonom muhammadiyah yang jauh lebih dulu lahir sebelum IMM yaitu
pada tanggal 5 Shafar 1381 Hijriyah bertepatan pada tanggal 18 Juli 1961 Miladiyah sedang IMM berdiri pada 14 Maret 1964 Miladiyah / 29 Syawal 1384 Hijriyah.

Yang menjadi menarik bukanlah berbedaan tahun berdiri tetapi yang menarik adalah 2 (dua) Organisasi otonom Muhammadiyah ini (IMM dan IPM) tidak terjalin komunikasi yang baik bahkan sering bersinggungan faham utamanya pada hal “Kaderisasi”. Contoh nyatanya adalah kawan-kawan IPM seperjuangan saya tidak cukup tertarik kepada IMM malah banyak yang ikut HMI, KAMMI bahkan mengikuti GMNI dan PMII. Sangking Idealisnya banyak kader IPM yang menuduh IMM itu liberal ! Kader IMM itu banyak kepentingan ! dan banyak umpatan lain yang seharusnya tidak diungkapkan.

Padahal dalam pandangan yang seharusnya, kader IMM itu harusnya didominasi oleh kader-kader IPM yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sehingga Instruktur IMM, tidak berat dalam internalisasi ideologi kepada kader baru karena sebelumnya pernah ber-IPM. Kenapa mesti begitu, mari kita berhitung contoh pada suatu daerah A terdapat 10 sekolah menengah atas muhammadiyah setiap sekolah terdapat ranting IPM yang melaksanakan kadirisasi dasar IPM Taruna melati 1 dengan jumlah peserta setiap sekolah 30 peserta, maka akan terdapat 300 kader baru IPM, jika beruntung dari 300 kader tersebut akan mendapat kesempatan menjadi pimpinan cabang IPM (PC IPM), jumlah yang terserap menjadi PC IPM tentu tidak semuanya anggaplah 30 kader, maka akan ada = 300 – 30 = 270 kader yang tidak menjabat di PC IPM. Lalu mereka lulus dari sekolah, dan menjadi mahasiswa baru, kemudian data 270 kader IPM tersebut kerap tidak terdeteksi dan terserap menjadi kader IMM.

Kenyataan yang hadir adalah persoalan serius yang harus segera di selesaikan, penyelesaian yang di landasakan kesadaran akan kebutuhan kadirisasi Muhammadiyah kedepan dalam hal ini sangat dibutuhkan. Tidak dipungkiri bahwa nasib muhammadiyah kedepan ditentukan oleh kaderisasi hari ini, maka soal-soal Kaderisasi harus disikapi dengan serius

Masalah berikutnya menyangkut Pemuda Muhammadiyah (PM) dan Naisyatul Aisyiyah (NA) jika PM strukturalnya banyak yang didominasi oleh kader-kader yang berasal dari HMI maka NA persoalannya adalah kader-kader NA berasal dari guru, karyawan AUM atau partisipan Muhammadiyah yang secara umum minim pengalaman Organisasi maka wajar apabila pergerakannya tidak se masif IPM atau IMM.

Idealnya PM itu diisi oleh alumni IMM dan NA diisi oleh IMMawati sehingga ideologi serta cara menggerakkan dakwah Muhammadiyah jauh lebih progresif namun lagi lagi hal demikian belum terlaksana secara masif.

Ini belum saya singgung terkait HW dan TS dalam tulisan ini saya cukupkan pada pembahasan kaderisasi dilingkungan IPM, IMM, PM dan NA agar tidak begitu luas.

Sebetulnya permasalahan yang terjadi ini dapat diselesaikan melalui konsolidasi antar ortom dengan membuat pakta integritas untuk membangun kesepahaman perkaderan berjenjang Horizontal (Dari IPM ke IMM kemudian ke PM atau NA) demi muhammadiyah kedepan agar ideologi,pergerakan,serta dakwah Muhammadiyah terawat dengan baik.

Contoh Kesepahaman tersebut dapat berupa

  1. Demi meraawat ideologi, pergerakan, dan dakwah Muhammadiyah dan demi menjaga kaderisasi yang terintegrasi maka IPM bersepakat mendorong kader – kadernya yang telah menjadi Mahasiswa untuk bergabung menjadi kader IMM
  2. Apabila terdapat kader IPM yang bergabung sebagai kader IMM dan telah mengikuti perkaderan di IPM maka akan mendapatkan kekhususan kadirisasi IMM
  3. Alumni IMM harus bersedia bergabung di PM ataupun NA pasca berproses di IMM

Dan bentuk-bentuk kesepahaman lain yang dapat disusun oleh pimpinan pusat ortom sebagai kesepakatan bersama untuk dilaksanakan bersama maka saya berpesan kepada Hafizh Syafa’ aturrahman (Ketua Umum PP IPM), Najih Prasetyo (Ketua Umum DPP IMM) kanda Sunanto (Ketua Umum PP PM) dan Ayunda Dyah Puspitarini (Ketua umum PP NA) untuk segera mengkonsolidasikan hal hal yang berkaitan dengan kaderisasi demi muhammadiyah kedepan

Oleh : Andi Saputra (Ketua umum IMM Jember)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment