Rekonsiliasi Intelektua Demi Terjaganya Keanggunan dan Keunggulan IMM

Modernis.co, Malang – Dengan berat hati dan nada sedikit kecewa saya mengatakan bahwa organisasi perkaderan dengan wacana intelektual semakin hari kini semakin kontradiksi dengan politik praktis. Selain aktual, kecemburuan antar komisariat yang terpatri rapi adalah sebuah keresahan yang tersimpan dan tersusun sistematis dalam sebuah pasase dan oase yang manipulatif. Sehingga kader menganggap bahwa komisariat masing-masing adalah kubu spesialis yang patut untuk dibanggakan.

Anggapan itu pun mendarah daging terinternalisasi, membentuk egoisme yang kokoh dan mencuat di permukaan ketika pergantian periode atau masa jabatan. Dalam struktural pimpinan kita akan melihat beberapa komisariat mendominasi dan beberapa yang lainnya termarginalisasi. Khusus untuk hal ini, secara eksplisit seuntai kalimat prihatin dengan sendirinya mengalir.

Sampai kapan ini akan terus terjadi dibalik dan diselubungi slogan perjuangan abadi? padahal kita sama-sama mengibarkan bendera merah hati. Apakah mungkin sinergitas tidak bermakna lagi? Sehingga kita tidak saling mengapresiasi argumentasi satu sama lain? Atau mungkin keberadaan teman sendiri kita anggap sebagai pihak asing? Sehingga mereka diserang dengan kalimat sindir dan bully?

Sejauh ini dalam kacamata pengamatan saya selaku kader yang tahapannya awam, polos, lugu begitu dan masih menerima suapan nutrisi serta gizi intelektual, saya menemukan masih banyak kader yang belum mampu melepaskan diri dari Kungkungan ambisi, merasa lebih tinggi dan harus diprioritaskan dari yang lain. Sehingga dalam perjalanan menjadi Muhammadiyah sering terjebak pada hasrat kuasa, jabatan dan kepentingan pribadi.

Hal ini kemudian menjadikan integritas setiap jenjang berurai, mengeksklusifkan kinerja per bidang di setiap bahkan antar komisariat, bertendensi konflik, hilangnya progresivitas gerak mencapai tujuan serta hanya menghambur-hamburkan wacana atau asumsi masing-masing tanpa bukti konkret. Sehingga Trilogi dan Tri kompetensi yang dijunjung tinggi bernasib ironis karena harus tumbang di hadapan hasrat akan pengakuan penganutnya sendiri.

Seharusnya dengan melihat besarnya pengaruh, kontribusi dan demi memperluas pergerakan IMM, dalam perjalanan membawa perubahan sudah saatnya IMM membentuk Mazhab Intelektual untuk merekayasa kader agar fleksibel dengan segala keadaan. Tidak sebatas spesifikasi kejuruan, minat-bakat  dan regenerasi kepemimpinan yang berujung perpecahan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa memang itu juga diperlukan sebagai pencerahan dan agar kontinu estafet perjuangan. Tapi itu tidak harus dijadikan sebagai alasan yang membuat IMM jalan ditempat. Untuk itu IMM harus kembali meluaskan cabang keilmuan yang outputnya di uji dengan ke penulisan dan pemateri. Kader IMM harus berani menunjukkan diri di muka publik, membenturkan ide dan gagasannya dengan masalah untuk menganalisis setiap isu dan peristiwa, menyebar luaskan  solusi  baik dengan cara tersurat maupun tersirat.

Tak syak lagi dalam triloginya sudah tercantum keilmuan atau intelektual. Tapi lagi-lagi itu macet pada keakuannya (Islam agamaku, muhammadiyah  perjuanganku, IMM gerakanku) semata. Tidak seintelek yang diklaim dan diharapkan, padahal yang urgen kita butuh kan sekarang adalah intelek demi akal sehat (meminjam istilah Rocky Gerung) dan mencerdaskan.  Bukan intelek yang buta kuasa dan lapar jabatan.

Saya  optimis dengan mengasah kemampuan menulis, besar kemungkinan kader IMM akan menjadi Nabi sosial yang mampu membaca pergerakan zaman dan menemukan kata kunci berupa kesadaran terhadap realitas. Kesadaran tersebut dikonkretkan dalam sebuah karya yang komprehensif dan diaktualisasikan demi kepentingan bersama. Karya sebagai bukti bahwa kita juga berprinsip dan punya jati diri kreatif.

Berkaitan dengan pemateri, terlebih dahulu kader harus mampu atau memiliki kesadaran terhadap realitas sosial masyarakat. Melalui analisa yang berdata kuat untuk kemudian menentukan apa saja  pokok pembahasan yang akan di sampaikan. Sehingga dalam dialektika dan retorika penyampaiannya mengalir tanpa harus panjang berpikir. Analisa realitas yang kemudian didata dalam sebuah karya akan menjadi tanda bahwa kita pernah membendung dekadensinya zaman.

Tingginya kemampuan daya cipta dan besarnya dorongan memberi serta demi memodifikasi masalah menjadi sebuah karya yang  berguna adalah keunggulan dan keanggunan yang mewujud. Hanya dengan begitu apa yang kita slogankan akan benar-benar menjadi kenikmatan yang dapat kita rasakan dalam mengarungi realitas kehidupan.

Untuk terus merawat serta menjaga perwujudan keanggunan dan keunggulan, kita tidak boleh menyelipkan berhala kedengkian dalam hati kepada orang lain apalagi rekan sendiri terutama hanya karena masalah politik. Sedari awal kita semua sudah mengetahui, sebagai organisasi perkaderan IMM mengedepankan asas musyawarah dalam menentukan atau mengambil sikap.

Selain itu, IMM hanya menganut dua puluh persen (20%)  isme politik dan delapan puluh persen (80%) sisanya adalah intelektual murni. Jadi penyimpangan, feodalisme atau borjuis bahkan  PKI  sangat cocok untuk dilabelkan kepada organ yang mengaku kader IMM tetapi sekeras dan setajam tanduk domba menusuk masuk politik demi keuntungan pribadi, terutama yang memutar balikkan intelek menjadi 20% dan politik 80% atau berintelek 80% tapi digadaikan demi politik yang 20%.

Oleh : Syarifudin (Kader IMM Tamaddun FAI UMM)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment