Papua juga Indonesia

Modernis.co, Malang – Konsekuensi dari sebuah kemerdekaan adalah sebuah perbedaan. Perbedaan menjadi sesuatu hal yang pasti, namun menjaga sebuah persatuan adalah sebuah pilihan. Kegagalan kita sebagai bangsa Indonesia adalah gagal menjaga gagasan dan narasi yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Begitu mudahnya terpancing dan tersulut emosi seakan-akan menggambarkan begitu rapuhnya kita sebagai bangsa Indonesia. Sehingga menjadi tanda tanya besar bagi kita bangsa Indonesia yang katanya punya semboyan “Bhineka Tungal Ika” untuk tetap menjadikan nama Indonesia menjadi simbol persatuan nusantara. Agar tidak ada lagi sungai air mata yang mengalir dan luka perih yang diakibatkan saudara sendiri.

Beberapa waktu lalu, kita sempat digegerkan oleh aksi ormas dan aparat yang melakukan pengepungan dan tindak kekerasan terhadap mahasiswa asal tanah Papua. Aksi ini sangat disayangkan karena merupakan sesuatu yang sangat tidap pantas dilakukan kepada saudara sebangsa kita. Latar belakang terjadi pengepungan karena adanya dugaan pengrusakan terhadap bendera pusaka di depan Asrama Mahasiswa Papua.

Dilansir dari CNN Indonesia, awal kejadian itu terjadi di Asrama Papua Surabaya pada Jumat (16/8), sore sekitar pukul 16.00 WIB. Aparat dikabarkan turut menyerang menggunakan gas air mata ke dalam Asrama tersebut. Padahal semua ini hasil dari dugaan-dugaan yang tidak jelas darimana asalnya. Seharusnya Aparat dan Ormas yang terlibat bisa melakukan investigasi lebih mendalam tentang dugaan tersebut. Sesuatu yang sangat disayangkan sekali untuk terjadi di negeri kita tercinta ini.

Dari kejadian ini, kita dapat melihat bahwa bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Praktik fasisme dan rasisme masih saja dengan anggun melenggak-lenggok di tanah air kita. Memecah belah kita, mengadu domba kita, hingga ujaran kebencian masih saja merajalela.

Mengapa bangsa kita mudah sekali menghakimi? Apakah karena mereka memang pantas dihakimi? Apakah mereka pantas dicaci maki? Saya pikir TIDAK!!! Tidak hari ini dan tidak untuk selamanya.

Mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air dari timur, saudara yang sama-sama memperjuangkan kemerdekaan kita. Saudara yang berbagi kesedihan dan kesenangan di negeri ini. Tidak pantas kita sebagai manusia saling menghujat antar sesama saudara kita.

Tidak ingatkan kita sudah betapa banyak kontribusi tanah Papua untuk Indonesia kita. Tanah yang diberkahi oleh Tuhan yang Maha Esa oleh segunung emas, tanah yang diberkahi oleh segudang kenikmatan alam. Namun kita tanpa tau malu selalu menganggap rendah saudara kita ini hanya karena mereka berkulit hitam, berwajah garang, atau orang-orangnya terbelakang dalam kehidupan bersosial. Kepada teman-teman, janganlah kita mudah untuk diadu domba oleh segelintir oknum.

Mereka ingin kita terpecah sehingga orang-orang yang berkepentingan bisa dengan mudah menguasai tanah papua. Mengeruk Emas demi kepentingan mereka sendiri, merusak alam sehingga bisa dijual kepada orang luar. Air mata papua merupakan air mata Indonesia juga.

Kepada yang masih merasa rakyat Indonesia, sudah lupakah kita dengan Dasar negara kita. PANCASILA. Pancasila yang menjadi menifesto dari cita-cita bangsa Indonesia. Di Sila ketiga disebutkan “Persatuan Indonesia”. Hakikat persatuan adalah mutlak tidak terbagi dan terpisahkan dari yang lain. Jika kita tarik ke masa sekarang, kita mengenal istilah Nasionalisme.

Nasionalisme adalah perasaan satu sebagai suatu bangsa, satu dengan seluruh warga yang ada dalam masyarakat. Namun, akhir-akhir ini layaknya lilin yang memudar karena api emosi. Rasa persatuan dan nasionalisme mulai luntur tertelan zaman. Belum cukupkah kita dijajah oleh bangsa asing, kenapa kita malah seakan saling menjajah. Menjadikan ego dalam diri sebagai bahan bakar untuk perpecahan.

Dari segi psikologis, manusia memang cenderung untuk membuat tembok pembatas terhadap orang lain yang berbeda dengannya. Kita cenderung memilih “jarak” ketimbang “terhubung” dengan orang yang berbeda dengan kita. Orang-orang kini menjadi lebih agresif terhadap perbedaan.

Namun, apakah kita yang sadar tentang ini akan terus untuk membuat tembok pada saudara sebangsa kita. Menjadi apatis terhadap kondisi saudara kita. Tidak sama sekali kawan-kawan! Tuhan tidak menjadikan warna kulit dan bentuk wajah sebagai indikator kesempurnaan manusia. Tidak ada dalam satu agamapun di dunia ini mengajarkan untuk membenci. Kemana rasa simpati dan empati kita? Atau sudah kita jual juga ke pihak asing.

Dari segi ekonomi, tanah mutiara hitam selalu dikeruk untuk kepentingan segelintir orang. Negara seakan hanya menjadikan papua sebagai anak tiri dari bangsa. Emas dikeruk bergunung-gunung namun rakyat papua tak pernah diberi untung. Hanya tangis yang tersisa saat rumah mereka digusur aparat. Semua keuntungan diberikan untuk negara.

Namun pernah kah kita berpikir bagaimana keadaan saudara kita disana. Sejahtera kah? Aman kah? Atau tertindas hingga menjadi kerak. Cendrawasih terbang ke luar negeri menjadi hiasan dinding bagi para kapitalis keparat. Namun bersikap apatis menjadi pilihan bagi bangsa kita.. Adakah tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia menolong mereka. Lahir sebagai orang tertindas bukan salah kita, tapi mati sebagai orang penindas itu salah kita.

Sungguh wajar jika rakyat Papua marah, sungguh wajar jika mereka ingin merdeka, sungguh wajar jika mereka ingin berpisah dari bangsa Indonesia. Namun, apakah berpisah dan berpecah belah dapat menyelesaikan masalah. Sungguh tidak sama sekali kawan-kawan. Perpecahan hanya akan mengakibatkan kerugian bagi semuanya. Kerugian yang bukan hanya bersifat materil namun juga moril.

Pepatah yang pernah kita dengar “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” apakah hanya sebuah kata-kata tanpa makna. Tentu saja tidak, itu adalah semangat dari bangsa kita yang menegaskan bahwa budaya kita dari dulu adalah bersatu. Tidak berpisah dan terpecah belah oleh apapun.

Marilah teman-teman sebangsa dan setanah air. Mari kita kembali bersatu dalam sebuah kata yang diperjuangankan oleh para pendahulu kita. Nasionalisme bukanlah kata-kata semata, tapi kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang telah memberikan semangat berjuang untuk sebuah persatuan dan kesatuan bangsa. Yang menjadikan berbeda-beda tetap satu jua. Yang melahirkan sebuah cita-cita bangsa untuk menjadi bangsa yang besar dan penuh dengan pemikiran-pemikiran revolusioner.

Atas nama bangsa Indonesia, tolong maafkan kami. Kami terlalu sibuk memikirkan diri sendiri hingga lupa bahwa kalian saudara kami. Kami sibuk berdebat kusir hingga lupa kalian telah terusir. Kami terlalu sibuk apatis hingga lupa kalian sedang kritis. Kepada saudaraku tanah Papua, kalian adalah bangsa Indonesia dan tetap menjadi bagian dari Indonesia. Dari dulu, sekarang, hingga nanti.

Tetap damai negeriku.

Tetap damai tanahku.

Tetap damai Indonesiaku

Oleh : Muhammad Iqbal Syahputra (Kader IMM Restorasi)

Ayo, Sebarkan Kebaikan..!

Related posts

Leave a Comment